Rabu, 25 Juni 2025

Baju, Tas, dan Make Up

Juni 25, 2025 0 Comments


    Minggu depan anakku ada pentas sekolah, dia akan tampil menari dengan teman-temannya. Senang dan antuasiasnya sudah jauh-jauh hari begini. Menyiapkan segala macam keperluannya untuk tampil nanti. Kebetulan untuk orang tuanya ada drescode yang harus dipakai saat datang ke acaranya, yaitu baju batik. Sedangkan untuk anakku, sudah disewakan baju khusus menari oleh gurunya, tapi ia harus di rias sebelum tampil. Begini saja sudah bikin aku pusing beberapa hari ini. Kebetulan baju batik satu-satunya yang kupunya zaman sebelum menikah sudah gak muat di pakai, jadi aku harus beli baju batik baru. Beli baju tentu harus di sesuaikan dengan bawahan apa, pakai rok, pakai celana atau beli dress batik saja sekalian. Belum lagi disesuaikan dengan kerudungnya, warnanya, motifnya, modelnya. Oh satu lagi, tas. Tentu saja aku butuh tas. Tapi aku gak punya tas yang pantas untuk kupakai di acara formal begitu. Aku hanya punya dua tas, satunya tas hitam yang talinya rusak sebelah, dan tas selempang hijau yang sudah kumal karena dipakai sehari-hari. Sepatu, oh untungnya aku masih ada satu sepatu yang masih layak dipakai, tapi warnyanya coklat. Jadi aku harus cari perpaduan baju batik, bawahan, dan kerudung yang cocok untuk dipadupadankan dengan sepatu coklatku. Lalu make up, anakku harus dandan, dan aku juga?. Oh My God!

    Saat kecil dulu, setiap ditanya mau baju yang mana kalau diajak beli baju di pasar, jawaban yang keluar dari mulutku selalu ‘’terserah mama saja”. Bukannya aku gak punya pilihanku sendiri, tapi aku memilih untuk tidak punya pilihan atau keinginan baju tertentu. Karena membeli baju adalah sebuah hal langka bagi keluarga kami saat itu. Dulu sekadar membeli telur untuk pendamping makan saja sangat jarang, kalaupun beli telor itu hanya di berikan untukku dan adikku, atau kadang satu telur di campur terigu dan air yang banyak agar bisa dinikmati oleh mama dan bapak juga. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantu mereka selain hidup dengan tahu diri dan lebih pengertian, yang  artinya aku harus sering menekan keinginan dan perasaan supaya tidak semakin membebani mereka yang sudah kesulitan. Efek samping yang terbawa sampai dewasa kini adalah selain jarang sekali membeli baju, juga aku yang gak tahu baju dan style seperti apa yang cocok dan aku sukai. Kebanyakan baju yang aku pakai adalah pilihan mama. Lucunya, sampai setelah aku punya anak pun mama masih sering membelikanku baju. Mungkin begitulah bahasa cintanya mama kepadaku. Makanya selama 10 tahun belakang ini pun gak habis dihitung jari berapa lembar baju yang kubeli sendiri.

    Sedangkan tentang make up dan tas, sudah bisa ditebak bahwa keduanya adalah sebuah kemewahan bagiku sejak dulu. Aku yang baru tahu bedanya make up dengan skincare, yang juga baru tahu kalau cream wajah itu banyak jenis dengan fungsinya masing-masing, bukan sekadar cream siang dan cream malam. Biasanya aku hanya punya 1 bedak, 1-2 lipstik, dan 1 cream wajah. Setahun terakhir ada tambahan 1 suncream. Merknya pun berganti-ganti tergantung mana yang sedang diskon dan gak boleh lebih dari budget. Belinya jarang karena awet berbulan-bulan yang memang karena jarang kupakai. Jika harus menghadiri acara formal atau kondangan barulah bedak dan lipstik itu keluar dari tasnya. Mukaku berjerawat sejak SMP, tapi terus terang hingga sekarang aku gak tahu gimana caranya menyembuhkan jerawat. Aku gak bisa mencoba berbagai skincare penyembuh jerawat karena memang gak ada uang cukup  untuk membelinya. Aku baru sadar aku benar-benar awam tentang cara merawat wajahku, dan buta tentang make up. Kalau dipikir-pikir memang wajar, karena selain terbatas uang untuk membelinya, aku juga jarang melihat mamaku sendiri merias wajahnya dengan make up selain bedak dan lipstrik. Hampir 30 tahun lebih begini, pengalaman bermake up hanya 3 kali, wisuda SMA, wisuda sarjana, dan saat akad dan resepsi menikah. Semuanya di rias oleh orang lain, dan pasrah saja apa yang dilakukan mereka terhadap wajahku. Aku sepertinya juga punya trust issue tentang make up bahwa make up itu sebuah kepalsuan dalam penampilan. Padahal mungkin saja aku gak menyukainya karena memang belum terlalu mengenal make up.

    Terkadang aku heran dengan kenapa perempuan begitu menyukai tas dan mengoleksi berbagai tas apalagi dengan harga-harga yang fantastis. Tas mungil seharga motor yang bahkan di  satu handphone pun gak muat didalamnya. Lalu untuk apa beli tas, yang kan memang fungsinya untuk membawa barang. Aku gak pernah tertarik dengan mengoleksi tas apalagi tas branded, karena memang gak punya cukup uang untuk membelinya. Bila di ingat-ingat, dari kecil aku hanya punya 1-2 tas saja, dan membeli baru saat tas tersebut sudah benar-benar rusak gak bisa dipakai. Membeli tas 10x lebih jarang dari membeli baju dan make up.

    Semua pemikiran dan kebiasaanku tentang baju, tas dan make up tersebut membuatku sangat minim mengeluarkan uang untuk membeli mereka. Aku pikir wah beruntung sekali yang jadi suamiku, dia gak harus sering menghadapi rengekan istrinya minta baju, tas atau make up. Hahaha~. Tapi ternyata aku salah besar, dan momen acara pentas anakku menjadi ‘gong-nya’ yang membuatku sadar. Sejak kecil dia suka mainan makeup-makeup-an, suka dengan baju-baju cantik, dan tas-tas lucu juga sepatu dan aneka aksesoris seperti bando, jepit, kunciran yang lucu. Padahal tak ada yang memberi contoh begitu, karena tentu saja aku buruk dalam memberi teladan hal-hal tersebut. Aku pikir ia tumbuh dengan naluri alaminya sebagai seorang perempuan yang menyukai hal-hal cantik dan indah. Mungkin, iya mungkin saja aku juga akan tumbuh seperti demikian jika tidak mengalami kesulitan ekonomi sejak kecil. Barangkali itulah yang dinamakan trauma finansial yang membuatku pelan-pelan menghidari hal-hal cantik, indah dan lucu, karena itu semua adalah sebuah kemewahan. Hal itu  pula yang membuatku bersikap pelit terhadap diri sendiri. Aku membatasi budget untuk beli tas, baju dan make up sebesar Rp. 50.000 setiap kali beli. Entah suka atau tidak, cocok atau tidak, yang penting gak boleh lebih dari anggarannya yang memang aku buat segitu. Hasilnya? Tentu saja tas dan baju berkualitas standart, cepat rusak dan kadang aku sendiri malu memakainya. Skincare atau make up juga akhirnya berujung banyak yang gak habis pakai, karena sering gak cocok.

    Lalu untuk pertamanya, masih dalam rangka persiapan pentas anakku, aku membeli baju batik di atas anggaran biasanya. Aku datang langsung ke toko baju, memilah milih model baju, motif, warna dengan harga yang sesuai, sungguh proses yang lama dan melelahkan. Begitupun tas, kali ini aku beli tas yang di atas Rp.50.000, butuh waktu 4 hari lebih melototi online marketplace untuk mencarinya. Lalu make up, aku membeli bedak, setting spray dan lipstik yang sudah satu set, karena gak mau lebih pusing lagi memilih satu per satu. Itu pun masih kurang, karena harus cari pensil alis dan eyeshadow. Aku gak paham perbedaan fungsi di masing-masing warna dan perpaduan warna pallete seperti apa yang harus kubeli. Belum selesai, urusan kuas make up, ya ampun, ternyata beda ujung kuasnya punya kegunaan masing-masing. Beauty blender dan puff untuk alas bedak juga ternyata punya efek berbeda jika di oles ke wajah. Selama siang malam hampir seminggu lebih aku melihat tutorial cara merias wajah untuk pemula di Youtube.

    Perlahan aku mulai paham kenapa baju, tas, dan make up sering di konotasikan sebagai self love bagi perempuan. Ternyata karena itu semua adalah perantara sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri. Sesederhana mengenal termasuk jenis kulit apakah muka ini, yang menjadi dasar untuk memilih make up dan skincare yang dibutuhkan. Mengenali warna bibir untuk tahu pakai shades lipstik warna apa saja yang cocok. Ternyata tiap guratan warna warni make up itu buah hasil dari mengenali diri sendiri. Lalu tentang skincare, entah itu memberinya moisturizer, serum, tonner, suncream, peeling serum, retinol atau apalah itu namanya, semua itu dasarnya merawatnya dan memberikan kasih sayang terhadap diri sendiri. Begitu pula tentang baju dan tas, gak semuanya cocok saat memakai baju model tertentu. Lalu, ada yang makin cantik saat memakai kerudung berwarna cerah, ada yang malah terlihat kusam. Semua itu kembali lagi ke mengenal diri sendiri, lalu memadupadankan semuanya  untuk membuat kita tampil lebih cantik.

created by ChatGPT

    Pertanyaan selanjutnya, untuk apakah merias diri dan tampil cantik?, untuk dilihat siapakah?, untuk mendapatkan apakah?. Apakah jawabannya untuk mendapatkan pujian dari orang lain dan membuat orang lain terkesan atau terkesima dengan penampilan kita. Akh iya mendapatkan validasi atau pujian dari orang lain memang menyenangkan. Tapi sebetulnya merias diri, merawat diri dan mempercantik diri dalam segi penampilan adalah untuk membuat rasa percaya diri kita makin kuat dan terpancar. Tubuhku berharga sehingga aku merawatnya, wajahku cantik sehingga aku mempercantiknya, dan aku layak untuk mendapatkan hal-hal baik dan cantik karena diriku berharga, akupun bersyukur atas semuanya tanpa perlu dibanding-bandingkan dengan siapapun. Mungkin seperti begitulah cerita tentang baju, tas dan meke up ini. Salam sayang untuk diri sendiri💖.

Rabu, 28 Mei 2025

Tentang Mencintai Diri Sendiri

Mei 28, 2025 0 Comments

     Kalau tidak sedang berjuang dengan episode depresi selama hampir 3 tahun berjalan ini, mungkin aku gak akan sadar kalau sebegitu bencinya aku terhadap diri sendiri. Sebagai pasien rawat jalan poli jiwa, salah satu terapi yang harus dilakukan adalah belajar mencintai diri sendiri. Aku sempat bingung apa yang salah dengan caraku mencintai diri sendiri, atau bagaimana cara yang benar mencintai diri sendiri itu. Lalu perlahan aku tersadar bahwa selama ini aku selalu berusaha memberikan cinta dan usaha terbaikku kepada orang-orang sekitarku tapi tidak untuk diriku sendiri. Aku selalu menjadi tukang kritik nomor satu untuk diriku sendiri,  aku bisa mengapresiasi usaha orang lain dengan baik dan tulus tapi tidak atas usahaku sendiri, aku sering mengabaikan perasaan dan kepentinganku demi orang lain, juga menjadi sosok yang sangat baik, terlalu sungkan menolak atau memberi batasan dan bersikap loyal agar diterima di anggap baik dan dicintai orang lain. Aku sangat perhitungan cenderung pelit dalam hal uang jika itu untuk kebutuhanku. Aku juga sering tidak mendengarkan apa kata tubuhku. Aku pun sering mengutuk berlarut-larut kesalahan dan kebodohan yang sudah lakukan. Entah bagaimana selama ini aku hidup, jangankan mencintai, aku rasa tanpa sadar aku membenci diriku sendiri selama ini. Sikapku sungguh sangat buruk terhadap diri sendiri.

Setelah tersadar begitu, terus terang aku bingung mulai dari mana memperbaikinya. Pertanyaan bagaimana seharusnya aku mencintai diriku sendiri masih belum terjawab. Entah apa batasnya dengan manja dan menjadi egois. Entah kapan pula harus mendorong diri sendiri dan kapan harus berwelas asih terhadap diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga mari tetap melangkah dalam ketidaktahuan ini. Bukankah sudah menyadari saja merupakan sebuah langkah kemajuan, bukan?. Jadi mari terus berproses belajar mencintai diri sendiri. Berikut buah dari banyak perenungan dan self talk dalam perjalanan mencintai diri sendiri selama ini.



-          💖Tentang Mengutuk Kesalahan dan Kebodohan Diri Sendiri

Setelah berumahtangga aku dan orang tuaku tinggal terpisah jarak 740 kilometer jauhnya. Aku tinggal di kota cukup besar di Jawa Timur, sedangkan mereka tinggal di desa kecil di Jawa Barat. Suatu hari mereka datang mengunjungiku. Demi menyambut kedatangan mereka aku menyiapkan banyak hal, termasuk memasak. Aku masak sayur bayam, ayam goreng lengkap dengan sambal dan kerupuknya. Lalu menyajikannya di meja makan supaya saat datang mereka yang sudah pasti lelah dan lapar bisa langsung menyantapnya. Mereka pun datang, saat melihat aneka sajian yang kusiapkan itu, sayangnya respon mereka tampak enggan dan bilang kalau mereka masih kenyang karena makan di perjalanan. Hmm, aku tahu betul kalau mereka jarang mau makan camilan apalagi makan berat saat naik kendaraan karena takut mabuk darat, jadi tebakanku itu hanya alasan, mereka berbohong. Singkat cerita setelah mereka pulang aku baru sadar kalau seharusnya aku masak makanan khas Jawa Timur yang mereka kangenin, bukan malah masak sayur bayam yang sudah sangat biasa mereka makan di desa. Juga ayam goreng apa spesialnya, akh harusnya aku masak rawon, lontong balap atau soto, menu yang jarang mereka nikmati di desa. Sungguh bodoh dan gak peka sekali aku saat itu. Cukup lama aku mengutuk diri sendiri karena kesalahan tersebut. Hingga aku tersadar, hei bukankah kamu masak menu tersebut karena itu memang menu makanan terbaikmu saat itu?!. Iya, aku baru belajar memasak, dan menu sayur bayam dan ayam goreng adalah menu yang selalu habis dan favorit bagi suami dan anakku saat itu. Lalu aku ingin juga menyajikannya untuk orang tuaku. Membeli bayam dan ayam yang masih segar, memasaknya dengan antusias, membumbuinya dengan hati-hati, menyajikannya dengan penuh harap mereka suka dan makan dengan lahap masakanku. Momen langka bisa memasak untuk mereka sudah kulakukan dengan usaha terbaikku saat itu. Lalu mengapa aku harus dan terus mengutuki diri atas ‘kesalahan’ tersebut. Jika dipikirkan dan kembali ke masa lalu, banyak sekali kejadian dan keputusan yang sekarang bernilai kesalahan dan kebodohan, tapi saat itu adalah usaha terbaik atau keputusan yang sudah dipikirkan betul-betul, begitulah versi terbaiknya. Sama seperti halnya menyesali pernah ikut organisasi dakwah saat SMA, menyesali kebodohan kuliah di almamaterku, menyesali memilih dan berganti-ganti pekerjaan, menyesali kebodohanku pacaran dengan mantanku, menyesali kesalahanku kenapa gak kirim uang lebih sering dan lebih banyak ke orang tua saat sudah bekerja dulu, dan banyak lagi aneka penyesalan lainnya sebagai bahan untuk mengutuk diri sendiri. Semua itu lahir dari pertimbangan situasi dan kondiri terbaik saat itu. Bahkan jika itu memang benar-benar sebuah kesalahan kebodohan atas kurangnya pengetahuan, minimnya pengalaman, labilnya emosi dan gejolak remaja, itu tetap membuahkan hikmah pembelajaran yang berguna untuk saat ini. Seperti halnya keputusan dan tindakan yang dilakukan hari ini yang kita kira sudah benar dan sudah versi terbaik kita, tapi bisa jadi bernilai kesalahan dan kebodohan juga di masa depan.  Lalu adakah alasan untuk mengutuk diri sendiri terus menerus?.

 

-          💖 Mari Berhenti Menjadi People Pleaser

Sering diajari untuk harus bersikap baik kepada semua orang. Tapi lupa diajari bagaimana  memberi batasan hubungan yang sehat dan seni menolak. Seakan jika mengecewakan orang lain adalah sebuah kejahatan atau menjadi orang jahat. Bahkan untuk sekedar bilang ‘tidak’ pun sulit sekali dilakukan. Sering lebih memilih mengorbankan perasaan, waktu, tenaga juga uang atas nama sungkan atau kasihan. Begitulah sepertinya aku hidup selama lebih dari 30 tahun ini. Belakangan ini aku sadar dan belajar bahwa menolak itu boleh banget. Boleh juga untuk mementingkan diri sendiri dibandingan orang lain, itu bukan berarti egois. Lalu membuat batasan yang sehat untuk interaksi dengan orang lain. Bahkan jika hubungan itu toxic, tinggalkan saja. Sungguh hal-hal baru bagiku, tapi ternyata berhenti jadi orang yang selalu ingin membuat orang lain senang itu menyehatkan dan terasa ringan.

 

-        💖  Validasi dan Cinta Orang Lain

Aku merasa tidak di sayang saat melakukan kesalahan. Aku merasa tidak di anggap saat tidak bisa membantu atau berkontribusi. Merasa tidak di hargai saat tidak menghasilkan uang. Saat aku melakukan 10 tugasku, lalu ada 1 tugas yang kurang baik atau salah. Maka 1 kesalahan itulah yang akan terus diungkit dan di permasalahkan.  Akan selalu dicari yang kurang yang salah daripada melihat dan menghargai yang sudah kulakukan. Rasanya seperti dibesarkan dengan cinta yang bersyarat. Semua itu membuatku jadi takut membuat kesalahan, berusaha mengejar kesempurnaan, aku harus terlihat sebagai pribadi yang baik kuat sempurna, anak yang baik, berbakti dan tidak pernah mempermalukan orang tuanya, ibu yang baik dalam membesarkan anak dan mengurus rumah juga berpenghasilan, istri yang baik dan sempurna, menantu yang baik, kakak yang baik, ipar yang baik, tetangga yang baik, semua agar dilihat-dihargai-disayang. Jujur, ini sungguh melelahkan, dan akhirnya aku menyerah. Sulit sekali membuat semua orang mencitai kita. Lalu akhir-akhir ini aku belajar melepaskan diri dari pengakuan dan cinta bersyarat orang lain. Sepertinya tak apa-apa untuk tidak terlihat, tidak di anggap, tidak dihargai, di anggap buruk atau kurang oleh orang lain. Entah melakukan usaha terbaik atau membuat kesalahan dan kurang sempurna, mari menjadi orang pertama dan nomor satu yang menghargai memberi apresiasi pada usaha dan pengorbanan diri sendiri. Bahkan jika menjadi satu-satunya yang melakukannya, mari bersikap hormat dan tulus pada diri sendiri. Saat cinta di luar sana sulit dan bersyarat, setidaknya ada satu tempat aman untuk pulang, yang tulus sepenuh hati menyayangi dan menghargai setiap usaha dan langkah tak terlihat, yaitu diri sendiri.

 

-         💖 Aku Berharga dan Berhak Mendapatkan yang Terbaik dan Hal-Hal Baik

Aku punya kebiasaan baru setelah menjadi ibu, saat mengupas buah seperti buah mangga,  bagian terbaik buahnya kusisihkan untuk anakku, lalu bagian bijinya yang aku makan. Makan pinggiran roti tawar,  dan bagian tengahnya untuk anakku. Memakan sisa makanan yang tidak dihabiskan anakku.  Tiap belanja bulanan, aku gak ragu membeli barang untuk keperluan anakku. Tapi berpikir berulang-ulang jika itu untuk keperluanku, sampai berakhir seringnya tidak jadi beli. Asal anakku sudah kenyang, gak apa-apa aku menahan lapar demi menyuapinya dulu. Asal anakku sudah mandi wangi bersih, gak apa-apa aku masih kucel belum mandi. Aku pikir itulah caraku memberikan yang terbaik untuk anakku. Ternyata aku salah, seperti analogi saat pesawat mengalami turbulence, yang pertama harus diberi alat bantu pernafasan adalah diri sendiri dulu agar bisa memberi anak atau orang terkasih lainnya bantuan. Jika ingin menyelamatkan orang lain, prasyaratnya diri sendiri dulu harus selamat agar mampu melakukannya. Perlahan aku pun merawat diriku, tak lagi makan makanan sisa, mendahulukan perutku kenyang, mandi dan berdandan. Aku membeli keperluanku  tanpa rasa bersalah, juga memberikan sebisa mungkin waktu dan kesempatan yang cukup untuk menjaga tubuh dan mentalku tetap sehat. Anakku sangat berharga, dan akupun juga sama berharganya.

 

-         💖 Mendorong Maju dan Berwelas Asih

Sejujurnya aku pun masih bingung kapan harus mendorong diri sendiri kapan harus berwelas asih. Sesederhana gak tahu kapan harus membuat tubuh melakukan hal-hal produktif dan kapan harus membiarkannya istrirahat tanpa rasa bersalah. Apalagi di tengah kondisi depresi yang salah satu gejalanya adalah low mood yang menetap lama. Rasanya tiap hari berperang dengan diri sendiri untuk sekadar melakukan aktivitas sederhana seperti bangun dari tidur, mandi, memasak, dst. Rasanya energiku sedikit sekali atau cepat habis dan ingin terus lari dari menghadapi kenyataan sehari-hari dengan tidur. Saat orang lain bisa pamer pencapaiannya adalah prestasi kerja, uang  dan karya yang banyak manfaat. Sedangkan pencapaianku adalah bangun lebih pagi dari kemarin, masak menu baru, selesaikan cucian baju yang menumpuk, atau bebersih rumah hari ini. Jangan ditanya seberapa sering aku mengutuk diri sendiri karena ini, merasa sangat bodoh, merasa tak berguna, merasa sepele, dan merasa ingin menghilang saja. Sulit sekali menelan mentah-mentah nasihat psikiaterku, ‘You are matter, Restu’. Beruntungnya, aku punya alasan untuk tetap hidup, tetap bangun, dan beraktivitas, yaitu anakku. Ia harus pergi ke sekolah tanpa telat, ia harus sarapan dulu, ia harus makan makanan sehat, ia harus mandi dan rapi untuk berangkat, nanti aku harus menjemputnya tepat waktu supaya dia tidak merajuk, ia harus makan tepat waktu, tidur siang, tak lupa mengajaknya bermain dan banyak berceloteh. Dia yang senang saat aku bangunkan dengan menggelitiknya, ia yang selalu bilang masakan buatanku paling enak, raut mukanya yang ceria saat melihatku menjemputnya sekolah, yang bahagia saat bersepeda bersama di pinggir sawah, ia yang selalu menantikan aku membacaakan buku sebelum tidur, ia yang selalu antusias saat bercerita banyak hal. Ia juga yang sering berceloteh bahwa ia sangat menyanyangiku. Merasakan cinta tulus begini membuat rasa berhargaku tumbuh dan tak lagi menyepelekan hal-hal biasa yang ku kerjakan, karena ada yang menjadikan aku dunianya.  Iya benar, aku harus hidup demi dia, hidup lebih lama, hidup lebih sehat dan hidup dengan menjadi lebih baik. Jadi mungkin sebaiknya aku harus berdamai dulu dengan monster depresi dalam diriku ini. Tak lagi mengutuk diri sendiri namun tak pula memaklumi dan menjadikan alasan untuk tidak bertumbuh. Memahaminya kembali, lebih dalam, lalu belajar menghargai setiap langkah sebagai pencapaian diri sendiri, merayakannya tanpa membandingkan dengan orang lain. Mungkin begitulah berwelas asih pada diri sendiri. Lalu selangkah demi selangkan mendorongnya, memberi tantangan, memotivasinya, menuntunnya perlahan untuk lebih baik lagi, lebih banyak lagi, lebih cepat lagi, dan lebih hidup lagi.

 

-          💖Aku Manusia

Aku yang membenci diri sendiri saat aku di masa lalu membuat keputusan yang salah, membuat malu, mengambil langkah yang keliru, menjadi sosok yang tidak seperti yang aku targetkan, dan sampai sekarang aku masih begitu. Mungkin aku yang demikian lupa bahwa aku manusia. Yang bisa-boleh-dan normal saat berbuat salah, yang hari kemarin berkeyakinan A, lalu hari ini berkeyakinan sebaliknya. Yang tahun lalu melakukan A, tapi hari ini melakukan yang sebaliknya. Yang sekarang mencintai sesuatu yang dulu tidak disukainya, dan bisa pula sebaliknya. Yang berubah menjadi sosok yang sedikit banyak berbeda. Bukankah itu semua yang dinamakan bertumbuh?. Kadang kita harus belajar lebih lagi, kadang pula harus belajar ulang, meralat apa yang kita pelajari. Bisa juga jadi menyadari sesuatu, atau melakukan evaluasi agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Menjadi dewasa itu tak pernah ada batas usianya, menjadi bijaksana itu tak pernah ada ujungnya. Mari kembali menyadari bahwa kita adalah manusia.

Minggu, 09 Februari 2025

Relapse

Februari 09, 2025 0 Comments

 


Aku selalu iri dan terheran-heran dengan orang yang mampu melakukan banyak hal apalagi beda bidang dan banyak yang ditangani difokusi. Berasa tenaganya banyak, energinya gak habis-habis, itu wow sekali, keren banget!. Sedangkan aku, ya ampun, untuk bangun saja susah bukan main. I am not kidding guys! Sesusah itu, rasanya ingin tidur seharian, meskipun sudah sangat cukup tidur, meskipun gak ngantuk. Tapi menghadapi kenyataan itu menyebalkan dan melelahkan rasanya. Jadi ingin balik tidur, berkhayal sesuka hati dan lari dari kenyataan. Berbanding terbalik dengan makan, yang sudah kenyang pun ingin tetap ngunyah makanan. Hampa, berasa gak punya harapan, berasa gak ada pilihan, berasa kesepian sekali, berasa sia-sia semuanya, berasa ingin menyerah saja. Begitulah rasanya dan gambarannya saat sedang relapse. Entah ini relapse yang keberapa kalinya.

Sumber : www.pinterest.com

Gak terasa sudah hampir 3 tahun aku memutuskan ke professional untuk meminta bantuan penyembuhan ini. Aku tergolong pasien yang cukup patuh dengan selalu disiplin minum obat sesuai anjuran dan datang kontrol sebulan sekali. Dalam kurun waktu tersebut terhitung satu kali aku diturunkan dosis obatnya karena dinilai sudah membaik. Namun karena relapse lagi, maka dosis obatku kembali di naikkan. Kali ini dosis obatku sudah “normal” dan tidak ada stressor yang berat, tapi lucunya aku kembali relapse. Entah ini harus menangis atau menertawakannya saja.

Aku yang sekarang, sudah tidak sesibuk dulu dalam hal mengurus anak. Anakku sudah beranjak besar, banyak hal yang sekarang sudah bisa ia lakukan sendiri, seperti makan, mandi, pakai baju dan bermain sendiri atau dengan teman-temannya. Kini aku gak harus menempel dengannya sepanjang waktu siang dan malam. Ditambah lagi kini ia sudah bersekolah mulai dari jam 07.30 sampai dengan jam 12.00. Iya, ada spare waktu kurang lebih 4 jam yang seharusnya bisa aku manfaakan dengan baik untuk lebih produktif dan berdaya. SEHARUSNYA. Juga, sekarang aku punya toko yang bisa ku kelola. Meski masih toko kecil dan sederhana, tapi sudah bisa ada penghasilkan tetap dari menjaganya mulai dari pagi – siang dan buka lagi sore hingga malam hari. Dari pendapatan toko itulah, suamiku membelikanku laptop dengan harapan aku bisa lebih produktif dan kembali merasa berdaya. Sungguh ia menjadi lebih supportif bukan dibanding tahun-tahun awal pernikahan dulu. Wow sekali bukan?!. Fasilitas sudah ada, suami mendukung, lagi-lagi seharusnya, iya seharusnya aku sudah sembuh dari depresi sialan ini.

Apa ada monster yang hidup di dalam tubuhku ini? Kenapa aku bisa relapse dengan semua kondisi dan support system yang baik begini. Obat, anak, suami, toko, laptop. Bukankah seharusnya sudah cukup menjadi prasyarat berubah lebih baik. Kebetulan besok jadwal konsultasi ke psikiater. Apa aku harus cerita ini atau tidak. Apa aku cerita kalau aku baik-baik saja agar obatku segera diturunkan dosisnya dan aku bisa segera lepas obat?. Sejujurnya proses ini melelahkan sekali, aku ingin segera berhenti berobat. Apa aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tidak kontrol lagi saja. Toh psikiaterku tidak akan mencariku iya kan?!.  Entahlah.


Kamis, 12 Oktober 2023

Aku Lahir Tanpa Bakat ?!

Oktober 12, 2023 0 Comments

    Saat masih Sekolah Dasar dulu, aku ingat sekali Bapak pernah bilang, “si Kakak nantinya jadi apa ya, pinternya ya cuma bikin sambel”, guraunya. Aku tahu itu cuma candaannya, tapi kata-kata itu sungguh masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Iya, hingga usiaku 30 tahun begini. Aku sungguh merasa aku lahir tanpa bakat apapun. Semuanya hanya sakadar bisa dan biasa saja. Seperti inilah perjalanan menemukan bakat minatku dalam segala keterbatasannya sebagai anak yang tinggal di desa.      Dulu, saat teman-teman sebayaku heboh beli sepeda semua, hanya aku yang mama belikan mesin jahit. Liburan sekolahku diisi dengan belajar menjahit. Keterampilanku dalam menjahit cukup hingga menambal bolongan baju yang sobek dan membuat celana adikku yang saat itu masih balita. Berbeda dengan keterampilan memasak, kelas 4 SD aku sudah terbiasa menyiapkan nasi hangat beserta lauknya untuk Mama dan Bapak yang pulang kerja dari sawah. Tapi jangan dibayangkan lauk yang wow beraneka macam berbeda-beda setiap hari. Tentu saja lauk seadanya bahan yang dipetik dari kebun dan sesekali beli telur, ikan pindang, ikan asin, tahu dan tempe atau menyembelih ayam jika ada acara spesial.    
    Keterampilan lainnya, merawat hewan atau tanaman, siapa tahu aku bisa jadi peternak atau petani hebat. Sayangnya aku seperti terlahir untuk takut dan geli dengan semua hewan, selain ayam, capung, dan semut. Mungkin merawat tanaman jadi ide yang lebih baik, karena aku terlahir dari kakek nenek dan orang tua yang punya ladang untuk ditanami padi, jagung, tebu telor, kacang tanah dan aneka palawija lainnya, membuatku sedikit lebih akrab dengan tanaman dibandingkan hewan. Kalau di sekolah, jika bakat minat di lihat dari pelajaran favorit, sepertinya pelajaran favoritku berganti-ganti sesuai gurunya enak mengajar atau tidak. Satu yang pasti, aku selalu buruk di semua bidang olahraga, selain berenang di sungai. Rasanya sulit mengkoordinasikan dan mengontrol seluruh tubuh dengan tujuan tertentu. Sama dengan keterampilan menari. Dulu ada ekstrakulikuler menari tradisional, dan seperti yang sudah di tebak, badanku kaku semua mengikuti gerakan dan irama musik secara bersamaan.     
    Beda cerita dengan menyanyi, seperti ada harapan bahwa bakatku ada sedikit di bidang ini. Aku sering di dapuk menyanyi  duet dan paduan suara di acara perpisahan kelas sejak kelas 4 SD hingga tamat SMP. Sayangnya setelah mengenal para penyanyi K-Pop dan pindah sekolah SMA membuatku berpikir bahwa aku cukup jadi penyanyi kamar mandi saja. Masa SMA lebih galau lagi mencari bakat minat karena semuanya berubah. Yang jelas antara IPA dan IPS, aku lebih suka dan gampang memahami pelajaran-pelajaran IPS. Oh ya, guru Sosiologiku sering memuji kemampuan debatku di kelas dan menyarankan untuk ambil kuliah jurusan hukum saja supaya jadi pengacara. Tapi aku sungguh menikmati pelajaran komputer. Padahal aku si anak desa yang SD dan SMPnya terhitung bilangan jari pegang komputer sekolah yang cuma ada satu itu. Aku mengejar ketertinggalan dengan anak SMA kota yang lebih familiar dengan komputer dengan menghabiskan pulang sekolah di warnet setiap hari dan belajar secara otodidak. Aku senang sekali tiap pelajaran TIK, membuat blog, membuat animasi dan membuat film pendek. 
    Tapi kuliahku berujung di jurusan manajeman dakwah. Iya gak salah baca, ma-na-je-men dak-wah, ada dakwahnya. Hmm, keadaan ekonomi yang membuatku membuat pilihan ekstrim antara pulang ke desa tanpa lanjut sekolah dan bisa berakhir dengan perjodohan nikah muda atau ambil kuliah apapun dimana pun jurusan apapun asalkan bisa kuliah gratis dengan beasiswa. Saat itu hanya ada beasiswa dari sebuah yayasan sosial yang mengharuskan jurusan kuliah manajemen dakwah. Meski begitu aku lulus tepat 4 tahun dengan IPK 3,32. Lumayan lah ya untuk ukuran jurusan yang asing ini. Aku sadar bahwa almamater kampusku yang notabene kampus baru ini belum banyak dikenal orang, apalagi jurusannya yang apa sih prospek kerjanya, membuatku jadi lulusan yang strugling sekali dalam mencari kerja. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa kuliah, dengan gratis pula, dan dalam 4 tahun tersebut banyak pengalaman berharga yang sangat berguna. Aku ikut ambil bagian dalam mencari donasi dan mengajar anak-anak di yayasan tersebut. 
    Pekerjaan pertamaku pun di yayasan sebagai koordinator penggalangan dana merangkap personalia. Lalu tiba-tiba jadi guru SMP di sebuah sekolah swasta di desaku. Balik merantau ke kota, dipercaya jadi waiters merangkap jadi penanggungjawab outlet cabang sebuah  restoran cepat saji. Lanjut menjadi sales aplikasi yang keliling Surabaya Gresik Lamongan Tuban Bojonegoro. Lalu pindah haluan jadi sales asuransi, freelance mysterious shopper untuk perusahaan lending dan berakhir menjadi ibu rumah tangga seperti sekarang. Sungguh tidak sinkron antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya bukan? Sungguh menantang saat pindah satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, yang mengharuskan belajar ulang terkait semuanya. Meski begitu hampir semua pekerjaan-pekerjaan tersebut kulakukan dengan sungguh-sungguh dan berakhir dengan mendapatkan apresiasi baik materi maupun non materi dari tempat kerja, pimpinan maupun rekan kerja lainnya. 


    Dulu aku malu saat menceritakan portofolioku ini, sunguh gak nyambung antara jurusan kuliah dan pekerjaan satu dg yang lain juga gak ada  jenjang karir. Sekarang aku lebih santai dan belajar menertawakan curriculum vitae ku ini. Termasuk menertawakan diri sendiri yang diusia kepala tiga ini masih bingung mencari bakat minat sendiri. Iya aku iri sekali dengan orang-orang yang bekerja sesuai bakat dan minatnya dan menghasilkan uang dari situ. Oh tentu saja aku gak menampik nilai penting sebuah usaha, kerja keras, kegigihan, dan ketekunan dalam proses menjadinya. Tapi bukankah menyenangkan jika kita tahu bakat minat kita lalu mengembangkannya menjadi keterampilan yang menghasilkan pundi-pundi uang. Bekerja dengan menyukai bidang pekerjaan kita. Patut diperjuangkan bukan. Makanya meski di usia segini, aku tetap akan mencari apa bakat dan minatku dengan berbagai macam percobaan, hehe. Akh ya, dulu aku membenci kenyataan bahwa kini aku hanyalah ibu rumah tangga fulltime. Lambat laun pandanganku berubah menjadi rasa syukur mungkin inilah jeda waktu yang diberikan Tuhan untuk mencari tahu dan mencoba banyak hal untuk tahu betul bakat minat ku selama ini lalu kemudian kembali bekerja dengan lebih bermakna dan bahagia. Wish me luck guys😍.

Rabu, 27 September 2023

Menjadi Pasien Poli Jiwa (Part 2)

September 27, 2023 0 Comments
    Penelitian bilang bahwa gangguan kesehatan mental itu dapat diturunkan dalam keluarga. Misalnya dari orang tua yang memiliki gangguan kesehatan mental ke anak mereka. Fakta tersebut bikin hati remuk rasanya, gak sanggup aku membayangkan anakku akan struggling juga dengan masalah kesehatan mental. Tapi aku buru-buru sadar dan berpikir jernih bahwa, pertama, itu belum tentu terjadi. Kedua, kondisiku dan kondisi anakku jauh berbeda, dan ketiga, aku bisa mencegahnya. 
 
   Mungkin sama seperti penyakit diabetes yang memang menurun secara genetik atau faktor resiko terkenanya lebih tinggi dibandingkan yang tidak punya keturunan diabetes. Namun, bukankan jika keturunannya menerapkan pola makan sehat dan menjalani gaya hidup yang  berbeda dengan keluarganya yang diabetes, kemungkinan besar dia tidak akan terkena diabetes juga, bukan. Apalagi kondisiku pun terbilang berbeda dengan kondisi anakku sekarang. 
    Sekarang, informasi tentang kesehatan mental banyak dan mudah didapatkan, baik di lewat buku, media sosial, seminar online maupun tatap muka. Pergi ke psikiater maupun psikolog juga sudah makin dianggap biasa, dan masalah kesehatan mental sudah dianggap makin setara pentingnya dengan kesehatan fisik. Meski begitu masih ada saja yang menganggap itu hanya masalah kurang iman, kurang bersyukur, lebay, dan tabu. Tapi sungguh tak terbayang jika aku hidup di zaman ibu bapak dulu, jangan-jangan gangguan kesehatan mental yang bayangkan dan diobati jika sudah seperti ODJG yang keluyuran di jalanan. Betapa minimnya informasi, bantuan profesional dan sulitnya stigma masyarakat tentang kesehatan mental. Mungkin orang tua juga zaman dulu juga mengalami kesulitan dan tantangannya sendiri dalam menjaga kesehatan mental mereka, hanya mungkin mereka gak menyadari itu, atau menyadari tapi membiarkan begitu saja berlalu. 
    Aku pun tumbuh dalam keluarga yang minim sekali mengucapkan selamat, terimakasih, maaf, maupun sayang. Dalam hal ini, ku usahakan berbeda dengan anakku. Sejak kecil, aku membajirinya dengan ungkapan sayang, setiap bangun pagi, sebelum ia tidur, dan memeluknya sesering mungkin selagi ia masih mau dipeluk. Setelah kelepasan meneriakinya, saat sudah jernih kembali, aku minta maaf ke dia, mengatakan bahwa mama salah, gak seharusnya mama teriak saat marah. Berterimakasih atas bantuan kecilnya dalam kegiatan sehari-hari, serta memberinya selamat atas pencapain-pencapaian kecil yang ia lakukan supaya ia bangga dan percaya pada dirinya sendiri. Memang masih banyak kurang sana sini dan tentu saja masih panjang perjalanan menjadi orang tua ini. Namun sebisa mungkin meninggalkan  hal buruk, memperbaiki yang kurang dan mengambil hal-hal baik yang sudah dilakukan orang tua dulu dan untuk diterapkan ke anak sekarang. 
    Satu lagi, karena kondisi ekonomi yang sulit, aku sempat kehilangan sosok ibu dan bapak saat masa SMA. Selama tiga tahun lamanya, mereka tak hadir secara fisik, emosional dan materi. Aku seperti anak yatim piatu selama itu. Aku terpaksa tinggal di rumah kakek nenek untuk bisa lanjut sekolah SMA, pindah nama jadi ikut di Kartu Keluarga Kakek supaya jadi warga Jawa Timur yang bayar SPP sekolahnya gratis, jajan dan biaya hidup lainnya sedikasihnya oleh Kakek dan Nenek. Gak bisa saling kirim SMS dan telepon  karena Ibu Bapak dan aku sama-sama gak punya handphone saat itu. Kesulitan adaptasi karena beda bahasa daerah, asing dengan kota baru, belum punya teman, kesulitan belajar, butuh uang tambahan, dan segala krisis remaja pubertas yang galau mencari jati diri, mau tidak mau di hadapi sendirian. Beruntung zaman sekarang teknologi sudah canggih, meski berjauhan secara fisik tapi masih bisa  terhubung dan tetap bisa hadir secara emosional lewat video call. 
Terakhir, aku masih bisa mencegahnya sedari sekarang. Seperti yang kini sedang di ikhtiarkan secara konsisten, yakni :
  1. Mengajak dia mengenali dan menamai emosi yang ia rasakan. Hal pertama yang aku beli saat dapat komisi dari hasil jualanku adalah paket buku mengenal emosi sebagai kado ulang tahun ke-2 nya anakku. Iya, aku gak mau dia sering bingung tentang emosinya sendiri bahkan gak bisa kenalin apa yang ia rasa seperti aku. Tiap dia nangis atau tantrum, setelah ditemani dibuat tenang, ku usahakan untuk bilang ataupun tanya apa ia sedang rasakan? Marah kah? Kesel? Sedih? dst. Lalu tanya kenapa biar dia bisa ceritain dan terakhir tanya dia butuh dibantu apa? Mau di peluk? dll. 
  2. Memvalidasi emosinya dan membiarkannya mengeluarkan emosinya. Seperti menangis, mempersilahkannya menangis gak buru-buru memarahinya untuk stop menangis, ia boleh kog nangis itu biar lega, gak perlu di tahan-tahan bikin numpuh emosi gak sehat. Terdenger sepele, tapi terapannya sunggug menantang, apalagi kalau menangisnya di depan umum atau menangis teriak-teriak lama. Sungguh menggoda hati dan mulut untuk ikut ngomelinnya. 
  3. Tidak memberikan label karakter jelek. Mengoreksi atau mengomelinya fokus ke perbuatan salah yang ia lakukan, tanpa melabelinya nakal, gak bisa di atur, dll.
Segini saja butuh ekstra sabar untuk konsisten ternyata, padahal tentu saja 3 ikhtiar diatas belum cukup untuk bekal menjaga kesehatan mentalnya.


    Dear anakku, kelak kalau kamu baca ini semoga kita masih sambil becanda bernostalgia tentang kelakuan menggemaskanmu waktu kecil. Semoga mama panjang umur dan sehat lahir batin selalu tanpa kurang satu apapun supaya bisa menemani melewati golden age mu, mendampingimu adaptasi awal masuk sekolah, mendampingi masa pubertasmu, masa galau mencari jati dirimu, masa merintis karirmu, memutuskan menikah, menemanimu pasca melahirkan, dan benar-benar menjadi support systemmu secara fisik, secara materi maupun emosional. Menjadi rumah yang aman dan nyaman penuh cinta tanpa syarat untukmu. 
    Maafkan mama karena genetik mama yang merugikan kamu ini. Maaf jika kamu malu punya mama yang punya gangguan kesehatan mental. Mama sendiri pun belum berani cerita ke orang lain tentang ini selain papamu. Malu, takut di stigma, gak siap dengan aneka respon orang lain saat tahu mama ke psikiater psikolog karena kena gangguan kesehatan mental. Tapi nak, jauh dalam diri mama, mama bangga ke diri sendiri karena berobat, minta bantuan profesional, disiplin minum obat dan melakukan aneka usaha self healing. Sungguh keputusan yang mama menyesal kenapa tidak mama lakukan lebih awal. Semua usaha ini motivasi terbesarnya itu untuk kamu, supaya mama tidak lebih banyak meninggalkan luka pengasuhan dalam dirimu yang berharga, supaya kamu tumbuh sehat fisik maupun mental. Kelak mama akan mengajakmu menulis jurnal, yoga bareng, belajar mindfulness, meditasi, ikut pelatihan aneka teknik self healing TAT, hypnoteraphy, access bar, human design, dan banyak lagi yang lainnya yang mama kira bisa membantu merawat kesehatan mental. Semoga mama bisa segera selesai dengan diri mama sendiri, menerima dan mencintai diri sendiri tanpa membiarkan diri mama apa adanya, bisa menjadi contoh baik sebagai manusia dan sosok ibu bagimu dan membersamai tumbuh kembangmu dengan penuh cinta. Salam sayang dari mama yang akan segera sembuh dan pulih. 

Selasa, 19 September 2023

Review Buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson

September 19, 2023 0 Comments

    Saat ibuku yang jauh-jauh datang dari Jawa Barat ke rumahku di Jawa Timur, aku masak sayur bayam dan ayam ungkep goreng sebagai jamuan selamat datangnya. Belakangan kusesali karena betapa konyolnya menu itu. Ia datang dari desa, yang kenyang dengan sayuran semacam bayam, dan ayolah ayam goreng apa spesialnya. Pantas saja responnya saat itu jauh dari harapanku. Harusnya aku memasakannya masakan Jawa Timur-an yang ia kangeni seperti soto, rawon, atau membelikannya rujak cingur, atau nasi jagung. Yap, aku sering mengutuki diri sendiri, betapa bodohnya aku, bahkan untuk sebuah kejadian kecil seperti ini. Merenungkannya lama, rasanya saat itu aku melakukan yang terbaik sebisaku, menurutku benar saat itu. Seperti menu jamuan Ibuku tadi, aku memasak sayur bayam dan ayam ungkep goreng karena saat itu masakan terbaikku itu, skill memasakku menu andalan yang selalu enak dan habis ya itu. Aku hanya berpikir memberikannya jamuan dari masakan terbaikku, tanpa mempertimbangkan pilihan memikirkan menu yang ia kangeni, menu yang bosan ia makan atau membeli makanan jadi saja. 
    Sungguh pertimbangan itu muncul belakangan ini, setelah terjadi, lalu menyadari itu salah. Kejadian seperti ini sangat sering terjadi rasanya. Seperti sudah memilih dan melakukan yang benar, bahkan jika dipikir berulang kali. Tapi lain waktu, sadar kalau itu keliru. Jika itu kejadian sepele, mungkin hanya berhenti di menyesal. Tapi jika kejadian itu penting, maka aku bisa berlarut-larut memikirkannya sembari mengutuk diri sendiri, menyesali betapa memalukan atau bodohnya yang sudah kulakukan atau kupilih. Kini aku jauh lebih santai dengan itu semua, semenjak membaca buku karya Mark Manson berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 
    Yap, buku ini membekas sekali terutama bab 6. Anda Keliru tentang Semua Hal (Tapi, Saya Pun Begitu). Bahwa kita memang bergerak dari salah banyak ke salah sedikit lalu ke salahlebih sedikit, dan itu sangat tidak apa-apa. Kekeliruan justru membuka kemungkinan adanya perubahan dan menandakan bahwa kita bertumbuh. Secara keseluruhan buku setebal 246 halaman ini memang unik dan mind blowing sekali. Bahkan saat pertama kali baca judulnya yang hah?!, judul aslinya adalah The Subtle Art of Not Giving A Fuck, pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik, begitulah cover dalam buku ini. Berisi 9 bab dengan judul sub bab yang tak kalah unik, seperti Jangan Berusaha, Kebahagiaan itu Masalah, Anda Tidak Istimewa dan seterusnya, aneh bukan?!, tapi isinya sungguh menyegarkan. Semacam tamparan kecil yang menyadarkan untuk mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik tentang diri kita sendiri maupun dunia juga menerima batasan-batasan diri. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan, dan ketidakpastian tepat saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, lalu mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga, disitulah kita bisa menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan apa adanya. Very recommended dan worth it untuk dibaca. 

Minggu, 17 September 2023

Menjadi Pasien Poli Jiwa (Part 1)

September 17, 2023 0 Comments
    November tahun lalu, dalam rangka memberi kado ulang tahun anakku yang ke-3, aku (akhirnya) pergi juga ke profesional guna meminta bantuan mereka dalam merawat kesehatan mentalku. Yap, kadonya berupa aku sebagai ibunya ingin jadi ibu yang lebih baik baginya, yang membersamainya tumbuh tanpa meninggalkan luka pengasuhan apapun. Keberadaan anakku 3 tahun lalu sebagaimana arti namanya, ‘berkah’. 
 Iya, dia memang berkah bagi kami sekeluarga. Gak perlu diragukan lagi rasa sayangku padanya. Rasanya bahkan aku gak bisa hidup tanpanya. Tapi bukankan berbeda antara menyayangi anak dengan anak merasakan rasa sayang tersebut. Aku khawatir dan terus bertanya-tanya apakah anakku merasakan ibunya sangat sayang dia, meski sering ku tolak keinginannya, sering ku marahi, sering ku buat nangis?. Aku pun terus belajar berbagai metode pengasuhan anak yang baik bagaimana. Tapi aku sadar ternyata sebanyak apapun sebagus apapun metode parenting yang kita pelajari, hasilnya pada anak sangat bergantung pada orang yang mempraktikkanya, dan itu aku.     
    Bersamaan dengan lahirnya anakku, rasanya aku ikut terlahir kembali jadi sosok yang baru. Anehnya sosok baru ini asing bagiku sendiri. Banyak hal mendasar yang berubah, memaksa berbeda, juga hilang dan kosong. Ditambah pula dengan adaptasi multi peran, sebagai anak, sebagai istri, sebagai menantu, dan sebagai bagian dari masyarakat. Makin sulit dengan kepribadianku yang INFJ si tipe langka yang suka menyendiri, overanalyzed, sensitif dan si susah minta bantuan. Lagi, tambahan gejolak hormon mulai dari hormon hamil, melahirkan, menyusui yang naik turun dan berganti-ganti. Disambut dengan support system yang sejujurnya belum begitu support. Semuanya berakumulasi menjadi gejala baby blues yang sepertinya berlanjut menjadi post patrum depression karena berlangsung hingga saat ini, 3 tahun lamanya. Tangis yang sering tiba-tiba ambyar tanpa alasan, mood yang tiba-tiba macam ayunan naik turunnya, anak tantrum akupun ikutan, tiap bangun tidur yang rasanya berat enggan menghadapi hari ini, begitu seterusnya. Jangan tanya hubunganku dengan anak dan  suami yang sudah pasti kena dampaknya, bahkan dengan orang tuaku sendiri, mertua apalagi. Bagiku semuanya tidak pernah ada yang memahamiku, tidak pernah ada yang cukup empati dan bersikap seperti yang aku harapkan, semuanya rasanya salah. Lebih dalam lagi, pemikiran, perasaan dan persepsi dirilah yang sepertinya lebih bermasalah. Tentu saja upaya- upaya mandiri untuk mengatasi diriku sendiri telah dan sedang kuusahakan. 
    Berbagai hal, mulai dari mendekatkan diri ke Sang Pencipta lewat ibadah, belajar meditasi, ikut yoga, belajar self hypnotherapy, rutin journalling, ikut aneka webinar kesehatan mental, mencari komunitas yang suportif, hingga menjejali diri dengan buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Semua usaha itu tentu sedikit banyak berdampak dalam menjaga kewarasanku dan mengubah aneka persepsi yang keliru tentang kesehatan mental. Namun aku sadar sepenuhnya usaha-usaha ini belum cukup. Seperti ada monster dalam diri ini yang jauh lebih besar dan kuat dari usahaku mengalahkannya. Aku masih membenci diriku sendiri, menjadi pengkritik nomor satu atas diriku, menyesali dan mengutuk masa laluku, khawatir berlebihan tentang masa depan, dan membuat kacau masa kini. Aku benar-benar tahu seperti apa rasanya mati enggan hidup tak mau.
     Jadi kuputuskan untuk meminta bantuan profesional sebagai bentuk pantang menyerahku. Saat itu pergi ke psikiater atau psikolog adalah kemewahan, karena kondisi ekonomi kami masih sulit. Jadi aku pergi ke puskesmas berbekal tulisan di plang nama Puskesmas menerima “konsultasi psikologi”. Campur aduk rasanya saat itu, takut, aneh, malu, nekat, akh ya sudahlah, kali ini saja aku ingin minta tolong, aku pasrah, dsb. Tapi ternyata benar firman Allah, Ia akan menolong hambanya yang menolong dirinya sendiri. Singkat cerita di Puskesmas, aku konsultasi dengan perawat yang jadi koordinator konsultasi psikologi, ia minta maaf karena psikolog puskesmas datang per dua minggu jadi sementara ia menggantikan dulu, ia mendengarkanku dengan baik sembari mengisi selebaran assessment yang dari situ aku di anggap layak rujuk ke psikiater di Rumah Sakit terdekat. 
    
    Hari itu juga aku di rujuk, dan bertemu dengan psikiater sebagai pasiennya. Wow, ada sensasi berbeda setelah bercerita ke psikiater dengan cerita yang sama ke suami atau teman itu. Untuk pertama kalinya aku merasa ceritaku di anggap penting, masalahku di anggap ada, perasaanku di anggap valid, bukan lebay berlebihan mendramatisir. Terharu sekali ada yang bersikap begitu ke aku, lega sekali setelah cerita. Aku diberi oleh-oleh obat untuk membantuku tidur karena tidurku jelek saat itu, sembari wejangan untuk memperbaiki tidur, makan, dan meneruskan aneka usaha self healing tadi juga kembali kontrol dua minggu lagi. Ya Allah, kenapa tak kulakukan dari dulu saja begini ini, itu yang kupikirkan pasca pulang dari psikiater. Sebelum dua minggu berlalu, tiba-tiba ada chat masuk, mengabariku tentang psikolog datang ke puskesmas, dan aku di minta datang untuk konsultasi. Ku pikir akan sama saja rasanya dengan konsultasi ke psikiater kemarin. Ternyata pendekatan mereka berbeda. Yang aku rasakan, psikiater mengambil pendekatan masa kini dan kondisi fisik yang dirasa sekarang, sedangkan psikolog menggali lebih dalam dari masa lalu sebagai bagian dari sebab akibat yang dialami saat ini, seperti trauma pengasuhan, dll. Mengajakku menyadari persepsi bawah sadarku yang harus kubenahi. Sejam bersama psikolog rasanya tak berasa. Lagi-lagi aku berasa di dengar, di anggap penting dan dibantu keluar dari labirin gelap ini. 
    Besoknya jadwal kembali ke psikiater. Aku ceritakan dua minggu ke belakang, singkat cerita kali ini ia mengajakku untuk, ok ini memang gelap, tapi ayo cari sumber cahaya dan bergerak cari jalan keluar. Dijelaskannya bahwa aku depresi ringan, bisa disembuhkan dengan treatment yang butuh komitmenku untuk menjalani pengobatan yang butuh waktu panjang, butuh obat-obatan, bantuan dari support system yang dalam kasusku adalah suami, konsistensiku dalam melakukan usaha-usaha healing, dan usulan step by step rencana ke depan supaya bisa sembuh total dan tidak berulang. Sepulangnya konsultasi, aku nangis terharu menyadari kalau aku kali ini dibantu Allah dengan begitu baiknya lewat psikolog dan psikiater, dan berjanji akan menjalani proses sembuhnya dengan sungguh-sungguh. Kini, hampir 10 bulan berlalu, aku masih menepati janjiku. Aku rajin minum obat dengan teratur dan rutin kontrol baik ke psikiater maupun ke psikolog. Suamiku aku ajak juga ikut menemani sesuai anjuran psikiater, ia diberi wejangan supaya bisa menjadi support system yang baik. Dibarengi dengan rutin meditasi, journaling, dan sering latihan menyadari trigger, bersikap mindfull seperti ajaran psikologku. 
    Meski begitu masih banyak PR-ku. Aku masih berlatih mengelola waktu, energi, dan agendaku. Belajar menerima diri dan lebih welas asih terhadapnya. Juga belajar memaafkan orang tuaku atas luka pengasuhan yang mereka tinggalkan, menyadari bahwa mereka pun membawa luka masing-masing dan sudah melakukan versi terbaiknya sebagai orang tua. Belajar tak menyesali masa lalu, tak overthinking terhadap masa yang akan datang, dan memanfaatkan juga menikmati momen masa sekarang sebaik mungkin. Oh ya, hubunganku dengan suamiku, orang tua, mertua dan tentu saja anakku sudah jauh membaik. Aku jadi bisa sering-sering berada di posisi mereka, menyikapi aneka respon yang kurang sesuai dengan lebih santai, tak membawa-bawa luka lama dan persepsiku, dan rasanya lebih sayang mereka. Apa ya, kondisi sekarang rasanya jauh lebih tenang dan jernih, meski badai masalah tetap silih berganti datang. Rasanya hidupku lebih ringan. Iya mungkin ini karena support obat antidepresan yang masih kukonsumsi. Makanya akan ku gunakan masa pengobatan ini sebaik-baiknya untuk melatih diri lebih mindful (bukan mindfull), lebih baik dalam mengelola emosi, waktu, energi dan prioritas sembari menggali potensi diri supaya lebih berdaya. Satu kutipan favoritku, “ A woman who heals herself, help to heal her mother, her daughter, and every women around her”. Semoga aku berproses ke arah sana.