Selasa, 18 Agustus 2026

Menyadari Bahwa Aku Tidak Dipilih dan Dicintai

Agustus 18, 2026 0 Comments

 

    Aku ingin mengabadikan kesadaran yang baru saja aku dapatkan ini dalam bentuk tulisan sebelum berlalu begitu saja. Sepertinya, akar dari kekecewaan, sakit hati, dan penderitaan dalam hubungan berawal dari ekspektasi dan harapan. Entah dalam hubungan apa pun, pasangan, orang tua dan anak, antarkeluarga, atau pertemanan. Ini lucu, aku seperti seorang penemu dan peneliti yang baru menemukan teori baru saja. Haha~

Jadi, “teori” ini aku temukan dari beberapa kejadian yang berakhir dengan kesimpulan yang sama. Inilah cerita lengkapnya.

    Jadi, mudik Lebaran kemarin ke rumah orang tuaku, aku banyak terpicu oleh banyak hal. Rasanya seperti aku punya dua sisi kepribadian saat itu: sisi dewasaku saat ini dan sisi anak kecil yang dulu tumbuh di rumah ini. Kadang aku tersinggung dengan hal yang sangat sepele. Bagi Restu dewasa, itu konyol sekali, kenapa hal begitu saja tersentil. Tapi bagi Restu kecil, itu penting sekali, logis sekali kenapa ia tersinggung. Mungkin inilah yang dinamakan inner child, bukan? Seperti ada bagian dari diri kita yang tidak ikut tumbuh, sisi itu tertinggal meskipun kita beranjak dewasa. Dan sepertinya, meskipun pengetahuan, situasi, dan POV kita banyak berubah, sisi tersebut tetap saja tidak berubah. Ia menggunakan logika dan perasaan di umur ketika sisi tersebut tertinggal.

    Lebaran kemarin, kami punya banyak daging sapi. Setelah dimasak rendang dan sop, sisa dagingnya kami putuskan untuk dibuat sate saja. Mamaku memotong daging dan membuat bumbunya, bapakku membuat tusuk satenya. Aku dan adikku membantu menata daging ke tusukan sate untuk siap dibakar. Lalu aku berkelakar, kalau daging bakal sate ini akan lebih empuk kalau diberi parutan air nanas dulu. Kebetulan memang ada nanas di dapur, sehingga tercetus ide tadi setelah melihat potongan daging untuk sate ini terlalu besar. Aku khawatir dagingnya tidak matang atau alot. Jadi, kupikir nanas mungkin bisa membantu mengempukkannya. Tapi mamaku menjawabnya dengan, “Wah, nggak perlu, nanti juga dibakar matang,” dan ayahku tertawa ringan sambil menyeringai melihat ideku tersebut, seolah itu ide konyol. Ia tidak mempercayainya.

    Astaga, ide itu nggak konyol. Cari saja di Google, dan aku sudah mempraktikkannya selama ini untuk mengempukkan daging. Tapi aku nggak benar-benar kaget dengan respons mereka. Respons meremehkan dan tidak mendengarkan pendapatku ini cukup familiar dan menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi adalah saat aku menjawab keraguan mereka, tapi bukan dengan data ilmiah atau adu argumen, melainkan dengan meminta konfirmasi adikku, “Iya, kan, Dek?” yang diiyakan oleh adikku. Ajaibnya, orang tua kami baru percaya dan memperbolehkan ideku itu dieksekusi. 

    Haha~, sayatan kedua: pendapatku selalu bernilai minor bagi orang tuaku.

    Di lain hari, saat sedang berdua saja di rumah, ibuku curhat kalau ia pusing dengan adikku yang tak kunjung lulus kuliah, hampir 5 tahun. Bukan hanya malu karena teman-teman sebayanya sudah banyak yang wisuda dan bekerja, tapi juga berat dengan uang bulanan yang harus ia kirimkan, yang mana jadi lebih lama dari perkiraan 4 tahun. Selama ini aku tak banyak membantu urusan uang bulanan adikku, karena uang bulanan dia selama satu bulan hampir 4–5 juta yang dikirimkan orang tuaku. Sedangkan uang bulananku, gabungan dari suami dan hasil omzet toko, berkisar 3–3,5 juta saja, itu pun untuk kebutuhan 3 orang.

    Syukurlah orang tua dan adikku mengerti dan tidak banyak menuntut dariku selama ini. Jangan dikira orang tuaku kaya raya, enggak. Uang 4–5 juta dalam sebulan yang mereka kirimkan untuk adikku itu hasil dari mengorbankan banyak kebutuhan dan keinginan mereka sendiri juga selama 4 tahun. Jadi, wajar kalau mereka pusing dengan adikku yang kuliahnya jadi lebih lama lulusnya. Aku bilang kalau mungkin bisa disambi mengerjakan pekerjaan sampingan lain biar punya uang tambahan. Itung-itung obat jenuh skripsi. Seingatku, kuliah dulu, mengerjakan skripsi justru fleksibel karena tidak terikat jadwal masuk kelas. Jadi, manajemen waktu dan mengerjakannya bisa diatur sedemikian rupa. Lagipula, bukankah bekerja sampingan adalah ide bagus? Selain dapat uang, juga sebagai persiapan pascalulus, bukan?! Lumayan, sekadar uang jajan yang bisa sedikit meringankan uang bulanan yang harus Mama dan Bapak kirim. Iya, kan?

    Aku juga tahu adikku sangat potensial dan memang banyak kelebihan dan skill. Ia tampan dan tinggi, followers di media sosialnya banyak, ia dibawakan motor oleh orang tuaku untuk dipakai di kota perantauan kuliahnya, spek HP-nya bagus, ia memakai iPhone 11, ia bisa main drum, dan ia kuliah di jurusan desain interior yang tidak hanya jago menggambar desain di komputer, ia juga mahir menggambar di kanvas, bahkan bisa melukis mural. Tentang lowongan pekerjaan sampingan, hmm, sepengalamanku semasa kuliah dan kerja dulu, yang dinamakan sampingan ada volunteer penggalangan dana (ada sedikit fee biasanya), joki tugas, mystery shopper fintech, guru bimbel harian, sales asuransi, MLM, reseller produk orang lain, dan sebagainya. Tapi itu lebih dari 10 tahun lalu. Kupikir, zaman sekarang ada lebih banyak pilihan selain itu, seperti driver ojek online, content creator, affiliator, dan lain-lain. Akan tetapi, respons ibuku membuatku hening membeku. Ia bilang, “Jangan, Akh. Biar adikmu itu fokus saja kuliahnya biar cepat lulus.”

    Mungkin ada benarnya juga, pekerjaan sampingan bisa saja mengganggu fokus skripsi adikku dan khawatir ia akan makin lama menyelesaikannya. Tapi bukan logika kemungkinan itu yang membuatku merasa pendapatku tertolak. Melainkan bayanganku yang tiba-tiba kembali ke tiga tahun aku berkuliah di Surabaya. Kampus dan jurusanku memang tidak sebagus adikku, hanya kampus swasta yang baru berdiri dengan jurusan kuliah yang juga tidak familiar. Aku memutuskan masuk situ hanya karena tidak ada pilihan lain: kampus yang menawarkan gratis uang pangkal, UKT ataupun uang SPP, dan asrama tinggal. Ditambah lagi ada beasiswa biaya hidup sebesar 600 ribu. Bagi anak SMA miskin sepertiku, tawaran tadi sungguh seperti pintu keajaiban yang menungguku untuk aku datangi.

    Bayang-bayang kalau tidak kuliah, maka aku harus kembali ke desaku dengan nasib yang tidak pasti. Entah bisa jadi nikah muda seperti teman-temanku, entah harus merantau bekerja. Jadi, memilih kuliah saat itu sepertinya adalah pilihan terbaik yang aku punya. Uang 600 ribu itu sungguh sangat berarti saat kuliah, tapi bagi yang pernah tinggal di Kota Surabaya pasti tahu kalau biaya hidup di sana tidaklah murah. Tapi entah berbeda berapa belas tahun pun, aku sama seperti adikku yang berkuliah sekarang. Sama-sama butuh makan, sama-sama ada biaya yang harus dikeluarkan dalam mengerjakan tugas, sama-sama ingin sesekali jajan dan refreshing dengan teman, dan seterusnya.

    Bedanya, kebutuhan dan apa pun keinginanku itu harus aku usahakan sendiri. Semuanya. Seingatku, Mama dan Bapak memberiku uang saku dalam kurun waktu tiga tahun kuliah hanya saat aku pulang mudik ke rumah, Lebaran tahun pertama berkuliah dan tahun kedua. Aku ingat betul, pulang mudik aku punya uang 600 ribu dari mereka. Meski begitu, biaya perjalanan mudik semua aku usahakan sendiri. Syukurlah mereka masih menyupport kuliahku dengan membelikanku laptop seharga 3,5 juta di awal masa kuliah. Aku ingat betul nominalnya karena memang sejak aku pindah sekolah SMA yang jauh dari tempat mereka tinggal sampai aku kuliah, aku jarang sekali menerima uang dari mereka.

    Adikku beberapa kali ganti HP, dan aku baru sadar bahwa mulai dari HP pertamaku sampai yang sekarang aku pakai, semua aku beli sendiri. Saat kuliah, laptopku pun dua kali masuk tukang servis, sama seperti adikku. Tapi bedanya, orang tuaku nggak pernah tahu itu dan uangnya aku usahakan sendiri. Aku sering makan hanya dengan gorengan, dengan hanya serundeng kelapa, mie instan, apalagi. Sering menahan lapar, sering lebih memilih jalan kaki 5 km demi berhemat membayar angkot 5 ribu. Pernah gadai HP, saling pinjam ke teman setiap akhir bulan, dan seterusnya. Sama, aku juga manusia. Aku juga anak yang butuh makan, minum, dan segala kebutuhannya terpenuhi demi bertahan hidup di perantauan. Sama, aku juga sama dengan adikku.

Lalu, kenapa tak muncul kalimat tersebut saat aku kuliah dulu?

“Biar kamu fokus saja kuliahnya biar cepat lulus.”

    Seingatku, waktuku lebih banyak untuk kerja dibandingkan masuk kuliah. Asalkan ambil batas maksimal masuk kelas, selebihnya aku akan pakai untuk cari uang. Mengerjakan tugas dengan sisa-sisa tenaga dan letihku. Mereview materi di tengah perjalanan pulang dari kerja sampingan. Mengorbankan waktu tidur agar sedikit memperbaiki nilai mata kuliahku atau mengejar materi mata kuliah yang ketinggalan. Uang yang aku hasilkan memang tak pernah bisa sampai ke orang tuaku, bahkan saat mereka membutuhkannya. Hanya cukup sekadar aku bertahan hidup tanpa merepotkan mereka atas kebutuhan dan keinginanku di perantauan.

    Tapi andai boleh jujur, aku juga ingin seperti adikku sekarang. Aku ingin meminta, aku ingin dibantu, aku ingin dicukupi kebutuhannya, aku ingin sesekali boleh merajuk manja, sesekali ingin ‘boros’ karena ingin sesuatu di luar kebutuhanku. Aku ingin mengeluh, ingin bilang aku capek sekali bekerja, ingin makan ayam goreng bukan hanya serundengnya saja, ingin sesekali beli buku, jajan enak, beli kerudung baru, dan pergi ke tempat wisata seperti teman-teman lainnya. Aku ingin menangis saat laptopku rusak, padahal semua file tugas dan kerjaan ada di situ, sedangkan aku nggak punya uang lebih. Aku ingin nggak perlu menggadaikan HP-ku satu-satunya untuk bayar tukang servis laptop. Aku ingin minta uang ke orang tuaku juga saat aku kepepet butuh, bukan berutang ke temanku yang sebetulnya sangat sungkan dan malu.

Aku juga ingin seperti adikku sekarang, yang tak harus mengkhawatirkan uang dan bisa sangat fokus kuliah saja.

    Aku juga ingin begitu. Melihat bagaimana orang tuaku kini memperlakukan adikku sungguh membuatku agak kaget. Ah, ternyata sebagai orang tua mereka bisa bersikap sangat mem-provide begini, ya. Mereka bisa nggak tega, bisa kasihan, dan men-support anaknya juga. Lalu, kenapa tidak demikian terhadapku? Bukankah aku juga anak kandung mereka?

    Satu pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi standar ekspektasiku. Bukankah orang tua harusnya adil terhadap anak-anaknya? Kenapa memperlakukan anak laki-lakinya dengan sangat suportif dan memanjakan, sedangkan membiarkan anak perempuan mereka serba sendiri dan menuntut sangat mandiri? Tidakkah ini terbalik? Dan di usiaku yang sudah lebih dari kepala tiga ini, rasanya aku ingin merajuk menangis seperti layaknya anak usia 8 tahun. Aku ingin bilang, “Mama, Bapak, kenapa nggak adil? Kenapa pilih kasih ke aku dan adik?” Aku bisa menjelaskan secara logika tentang perbedaan sikap orang tua kami, kenapa begitu. Ada faktor perubahan ekonomi yang berbeda jauh saat membesarkan aku dan adikku. Saat aku, keluarga kami sangat miskin, berbeda dengan adikku yang jauh lebih membaik. Tapi anak kecil dalam diriku tak mau menerima itu. Ia tetap marah, sedih, dan kecewa. Setiap kali luka ini tergores sedikit, rasanya ia ingin berteriak marah, merajuk, dan menangis kencang. Meskipun wajah dan tubuh Restu dewasa pandai menyembunyikannya.

Sumber : Dokumen Pribadi 

     Sejujurnya, ini hanya sampai tahap menyadari bahwa ada sosok Restu kecil yang masih terluka. Entah bagaimana aku harus mengobatinya. Tapi aku nggak ingin menyangkal emosi yang ia rasakan. Aku hanya ingin memeluknya dan membiarkannya menangis sampai ia puas dan lega. Sampai pada titik perenungan yang membuatku mempertanyakan, mengapa aku menuntut orang tuaku bersikap adil sama rata terhadap aku dan adikku? Bisa jadi mereka memang tak mampu. Atau bisa jadi sejak awal, aku dan adikku bernilai berbeda di mata mereka. Mengapa aku harus bersikukuh supaya mereka melihatku sama seperti adikku dan menuntut mereka bersikap sama pula? Bukankah aku terlalu memaksakan diri untuk sesuatu di luar kendaliku?

    Kalau dipikirkan lagi, aku dan adikku memang tak bisa dibandingkan sama. Ia mewarisi tubuh tinggi dan kulit putih Bapak. Mama sering memuji dan membanggakannya, ganteng dan cocok jadi model. Sedangkan seingatku, Mama dan Bapak tidak pernah memujiku atas fisikku sejak kecil. Entah aku tidak sadar, tidak terdengar, atau bagaimana. Tapi rasanya saat mereka memuji cucu perempuan mereka, alias anakku, dengan kata-kata “cantiknya”, hmm, itu terdengar asing. Juga tentang waktu yang kami habiskan. Adikku menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang tua kami dibandingkan dengan aku yang lebih dulu terpisah karena harus melanjutkan sekolah SMA di luar kota.

    Sayang sekali, zamanku sekolah SMA belum ada teknologi video call, aku dan orang tuaku belum punya handphone, belum kenal m-banking, dan belum ada kurir ekspedisi paket. Kami jarang bertukar kabar, apalagi berkirim uang atau barang. Selama masing-masing dari kami masih hidup, maka semua baik-baik saja. Entah sedang sakit, entah sedang ada masalah apa pun, entah sedang kesulitan, hmm, kami memilih menyelesaikannya sendiri tanpa tahu satu sama lain. Banyak momen yang akhirnya terlewatkan.

    Bukan! Bukan momen seperti itu yang penting. Momen seperti saat setelah agenda sekolah sampai malam hari, dan semua temanku dijemput pulang oleh ayah atau ibunya, sedangkan aku pura-pura menunggu jemputan di pos satpam. Padahal aku tahu tak akan ada seorang pun datang. Orang tuaku sudah jelas tidak mungkin, kakekku sudah sangat sepuh, dan paklek-ku tidak terlalu peduli. Aku pura-pura melihat jalanan seperti yang lainnya. Saat bingung memilih masuk jurusan IPA atau IPS. Saat ingin sekali punya sepatu olahraga agar punya pengganti sepatu hitam satu-satunya yang dipakai setiap hari, tapi aku terlalu sungkan meminta uang kepada kakek dan nenekku. Takut merepotkan, takut membebani, takut keinginanku menyusahkan mereka. Saat study tour ke Jogja, aku bingung harus menyiapkan apa saja. Aku tak punya koper dan uang tabunganku saat itu tersisa kurang dari 100 ribu. Saat malam akan Lebaran, suara takbiran berkumandang di masjid, terdengar sendu, membuatku ingin pulang ke rumah. Kami sudah melewatkan empat kali Lebaran tanpa bisa berkumpul saat SMA hingga awal kuliah. Saat haid pertama. Saat aku harus ke luar kota pertama kalinya sendirian naik bus. Saat takut menghadapi ujian nasional, semua temanku ikut les di luar, dan aku satu-satunya yang tidak. Momen-momen sederhana demikian yang aku ingin sekali ada orang tuaku hadir. Sayangnya, tidak bisa.

    Ah, tentu saja aku pun demikian bagi mereka. Nggak bisa hadir saat mereka sakit, nggak tahu saat mereka kesulitan, nggak ada di momen penting mereka. Sama. Yang hadir saat itu adalah adikku. Mungkin ia yang mengantarkan Mama atau Bapak ke puskesmas untuk berobat. Mungkin ia juga yang membelikan obat. Ia jelas selalu ada, tahu dan terlibat dalam kondisi naik turun keluarga kami sampai saat ini.

Lihat! Bukankah dari sini saja aku sudah kalah?

Lalu, mengapa aku menuntut disamakan?

Astaga, bukankah aku sedikit agak egois?

Ah, pantas saja Mama sangat hafal kebiasaan dan selera makan, berpakaian, dan serba-serbi tentang adikku. Sedangkan ia sepertinya tidak tahu makanan favoritku.

Pantas saja Bapak sangat mengkhawatirkan dan sering ikut campur membantu apa pun masalah adikku. Ya, mungkin karena terbiasa begitu.

Pantas saja.

Lalu, mengapa aku terus mencari jawaban kenapa semua ini terasa tidak adil?

    Ah, dan jangan lupa, adikku laki-laki. Bisa saja mereka menganut kepercayaan tentang anak laki-laki yang lebih prestise. Lagi pula, aku memang berhasil jadi sarjana pertama di keluarga, hanya saja nggak mengubah apa pun. Aku hanya berhasil bertahan hidup sendiri. Tak bisa menaikkan derajat dan nilai hidup mereka. Tentu saja juga tak bisa dibanggakan, apalagi saat ini hanya berakhir sebagai ibu rumah tangga. Mungkin mereka menilai adikku-lah yang membawa harapan bagi mereka. Kuliah di kampus lebih bagus dengan jurusan prestisius, dengan modal full support dari mereka. Mungkin saja mereka ingin memanen ‘hasil’ yang selama ini mereka usahakan dan impikan lewat adikku.

Hmm, bukankah enak, iya kan, tidak menanggung beban harapan tersebut?

Toh, sejak dulu, apa pun prestasi dan sebaik apa pun aku menjadi anak mereka, aku memang tak pernah mereka banggakan.

Lalu, mengapa sekarang harus merongrong ingin dibanggakan?

Mereka berhak punya anak emas, dan itu bukan aku.

Itu hak mereka.

Let them!

 

Jadi, mari camkan ini baik-baik, Restu:

    Kamu telat menyadari bahwa kamu sejak awal memang bukan anak emas orang tuamu. Ingat-ingat lagi bahwa sejak dulu pun, seberapa kamu berusaha menahan diri, mengesampingkan keinginan dan kebutuhanmu, seberapa keras kamu berusaha dan seberapa banyak kamu memberi sampai habis pun, bukankah tak pernah cukup bagi mereka?

Kamu bahkan tak pernah bisa sampai di titik yang sama dengan adikmu.

Kamu memang tak pernah jadi kebanggaan mereka, bahkan mungkin tak pernah mereka lihat.

Konsep adil kepada semua anak itu adalah konsep idealmu, yang tak seharusnya kamu paksakan orang lain terapkan, sekalipun orang tuamu.

Mereka berhak punya preferensi, punya kesayangan.

Jadi, menyerahlah mulai sekarang.

Berhentilah mencari jawaban atas kenapa tak diperlakukan dengan sama adilnya dengan adikmu.

Cobalah—meski aku tahu ini sulit—tapi cobalah untuk mengikhlaskan perjalanan hidup yang telah kamu lalui. Semua itu membentukmu hari ini menjadi Restu yang sekarang.

Maafkan ketidakhadiran orang tuamu saat kamu membutuhkan mereka. Anggap itu setimpal dengan keabsenanmu sebagai anak juga.

Semoga semua kesulitan yang kamu lalui di masa kecil dan masa mudamu itu menjadi modal baik untuk masa sekarang dan ke depan nanti.

Semoga Allah mengganti kebahagiaanmu yang hilang dengan ribuan kebahagiaan lain di masa mendatang.

Semoga lubang kosong di jiwamu karena terlalu sering menghadapi apa pun sendirian diganti oleh banyaknya kebaikan, pertolongan, dan cinta dari Allah.

 

Dan inilah yang paling penting :

Kita tak pernah bisa memaksa orang lain, siapapun itu, untuk mencintai kita. Apalagi menuntut orang lain mencintai kita dengan cara yang kita mau. Mungkin akan terasa seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, seolah hanya kamu yang memberi. Tapi jika kamu memilih dengan sadar memilih untuk tetap mencintai maka jalani saja. Tanpa  berharap dibalas dengan cinta yang sama dan setara. Belajarlah menerima bahwa kamu memang tidak dipilih dan dicintai sebagaimana yang kamu harapkan. Percayalah, ini obat mujabab untuk semua sakit hatimu dimasa lampau, sekarang, maupun masa mendatang. 
Oh ya, sering-seringlah bilang mantra ini ke dirimu sendiri :
“Aku tidak perlu menjadi anak emas dan sempurna untuk berhak mendapatkan cinta, perhatian, bantuan, atau kebanggaan", dan
“Aku tidak perlu mendapatkan kembali masa kecilku dari orang tuaku untuk akhirnya merasa berharga.”

Lepaskanlah, ikhlaskanlah, dan berbahagialah Restu!