Menyadari Bahwa Aku Tidak Dipilih dan Dicintai
Aku ingin
mengabadikan kesadaran yang baru saja aku dapatkan ini dalam bentuk tulisan
sebelum berlalu begitu saja. Sepertinya, akar dari kekecewaan, sakit hati, dan
penderitaan dalam hubungan berawal dari ekspektasi dan harapan. Entah dalam
hubungan apa pun, pasangan, orang tua dan anak, antarkeluarga, atau pertemanan.
Ini lucu, aku seperti seorang penemu dan peneliti yang baru menemukan teori
baru saja. Haha~
Jadi, “teori” ini aku temukan
dari beberapa kejadian yang berakhir dengan kesimpulan yang sama. Inilah cerita
lengkapnya.
Jadi, mudik
Lebaran kemarin ke rumah orang tuaku, aku banyak terpicu oleh banyak hal.
Rasanya seperti aku punya dua sisi kepribadian saat itu: sisi dewasaku saat ini
dan sisi anak kecil yang dulu tumbuh di rumah ini. Kadang aku tersinggung
dengan hal yang sangat sepele. Bagi Restu dewasa, itu konyol sekali, kenapa hal
begitu saja tersentil. Tapi bagi Restu kecil, itu penting sekali, logis sekali
kenapa ia tersinggung. Mungkin inilah yang dinamakan inner child, bukan?
Seperti ada bagian dari diri kita yang tidak ikut tumbuh, sisi itu tertinggal
meskipun kita beranjak dewasa. Dan sepertinya, meskipun pengetahuan, situasi,
dan POV kita banyak berubah, sisi tersebut tetap saja tidak berubah. Ia
menggunakan logika dan perasaan di umur ketika sisi tersebut tertinggal.
Lebaran
kemarin, kami punya banyak daging sapi. Setelah dimasak rendang dan sop, sisa
dagingnya kami putuskan untuk dibuat sate saja. Mamaku memotong daging dan
membuat bumbunya, bapakku membuat tusuk satenya. Aku dan adikku membantu menata
daging ke tusukan sate untuk siap dibakar. Lalu aku berkelakar, kalau daging
bakal sate ini akan lebih empuk kalau diberi parutan air nanas dulu. Kebetulan
memang ada nanas di dapur, sehingga tercetus ide tadi setelah melihat potongan
daging untuk sate ini terlalu besar. Aku khawatir dagingnya tidak matang atau
alot. Jadi, kupikir nanas mungkin bisa membantu mengempukkannya. Tapi mamaku
menjawabnya dengan, “Wah, nggak perlu, nanti juga dibakar matang,” dan ayahku
tertawa ringan sambil menyeringai melihat ideku tersebut, seolah itu ide
konyol. Ia tidak mempercayainya.
Astaga, ide
itu nggak konyol. Cari saja di Google, dan aku sudah mempraktikkannya selama
ini untuk mengempukkan daging. Tapi aku nggak benar-benar kaget dengan respons mereka.
Respons meremehkan dan tidak mendengarkan pendapatku ini cukup familiar dan
menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi adalah saat aku menjawab keraguan mereka,
tapi bukan dengan data ilmiah atau adu argumen, melainkan dengan meminta
konfirmasi adikku, “Iya, kan, Dek?” yang diiyakan oleh adikku. Ajaibnya, orang
tua kami baru percaya dan memperbolehkan ideku itu dieksekusi.
Haha~,
sayatan kedua: pendapatku selalu bernilai minor bagi orang tuaku.
Di lain hari,
saat sedang berdua saja di rumah, ibuku curhat kalau ia pusing dengan adikku
yang tak kunjung lulus kuliah, hampir 5 tahun. Bukan hanya malu karena
teman-teman sebayanya sudah banyak yang wisuda dan bekerja, tapi juga berat
dengan uang bulanan yang harus ia kirimkan, yang mana jadi lebih lama dari
perkiraan 4 tahun. Selama ini aku tak banyak membantu urusan uang bulanan
adikku, karena uang bulanan dia selama satu bulan hampir 4–5 juta yang
dikirimkan orang tuaku. Sedangkan uang bulananku, gabungan dari suami dan hasil
omzet toko, berkisar 3–3,5 juta saja, itu pun untuk kebutuhan 3 orang.
Syukurlah
orang tua dan adikku mengerti dan tidak banyak menuntut dariku selama ini.
Jangan dikira orang tuaku kaya raya, enggak. Uang 4–5 juta dalam sebulan yang
mereka kirimkan untuk adikku itu hasil dari mengorbankan banyak kebutuhan dan
keinginan mereka sendiri juga selama 4 tahun. Jadi, wajar kalau mereka pusing
dengan adikku yang kuliahnya jadi lebih lama lulusnya. Aku bilang kalau
mungkin bisa disambi mengerjakan pekerjaan sampingan lain biar punya uang
tambahan. Itung-itung obat jenuh skripsi. Seingatku, kuliah dulu, mengerjakan
skripsi justru fleksibel karena tidak terikat jadwal masuk kelas. Jadi,
manajemen waktu dan mengerjakannya bisa diatur sedemikian rupa. Lagipula,
bukankah bekerja sampingan adalah ide bagus? Selain dapat uang, juga sebagai
persiapan pascalulus, bukan?! Lumayan, sekadar uang jajan yang bisa sedikit
meringankan uang bulanan yang harus Mama dan Bapak kirim. Iya, kan?
Aku juga tahu
adikku sangat potensial dan memang banyak kelebihan dan skill. Ia tampan dan
tinggi, followers di media sosialnya banyak, ia dibawakan motor oleh orang
tuaku untuk dipakai di kota perantauan kuliahnya, spek HP-nya bagus, ia memakai
iPhone 11, ia bisa main drum, dan ia kuliah di jurusan desain interior yang
tidak hanya jago menggambar desain di komputer, ia juga mahir menggambar di
kanvas, bahkan bisa melukis mural. Tentang lowongan pekerjaan sampingan,
hmm, sepengalamanku semasa kuliah dan kerja dulu, yang dinamakan sampingan ada
volunteer penggalangan dana (ada sedikit fee biasanya), joki tugas, mystery
shopper fintech, guru bimbel harian, sales asuransi, MLM, reseller produk orang
lain, dan sebagainya. Tapi itu lebih dari 10 tahun lalu. Kupikir, zaman
sekarang ada lebih banyak pilihan selain itu, seperti driver ojek online,
content creator, affiliator, dan lain-lain. Akan tetapi, respons ibuku
membuatku hening membeku. Ia bilang, “Jangan, Akh. Biar adikmu itu fokus saja
kuliahnya biar cepat lulus.”
Mungkin ada
benarnya juga, pekerjaan sampingan bisa saja mengganggu fokus skripsi adikku
dan khawatir ia akan makin lama menyelesaikannya. Tapi bukan logika kemungkinan
itu yang membuatku merasa pendapatku tertolak. Melainkan bayanganku yang
tiba-tiba kembali ke tiga tahun aku berkuliah di Surabaya. Kampus dan
jurusanku memang tidak sebagus adikku, hanya kampus swasta yang baru berdiri
dengan jurusan kuliah yang juga tidak familiar. Aku memutuskan masuk situ hanya
karena tidak ada pilihan lain: kampus yang menawarkan gratis uang pangkal, UKT
ataupun uang SPP, dan asrama tinggal. Ditambah lagi ada beasiswa biaya hidup
sebesar 600 ribu. Bagi anak SMA miskin sepertiku, tawaran tadi sungguh seperti
pintu keajaiban yang menungguku untuk aku datangi.
Bayang-bayang
kalau tidak kuliah, maka aku harus kembali ke desaku dengan nasib yang tidak
pasti. Entah bisa jadi nikah muda seperti teman-temanku, entah harus merantau
bekerja. Jadi, memilih kuliah saat itu sepertinya adalah pilihan terbaik yang
aku punya. Uang 600 ribu itu sungguh sangat berarti saat kuliah, tapi bagi
yang pernah tinggal di Kota Surabaya pasti tahu kalau biaya hidup di sana
tidaklah murah. Tapi entah berbeda berapa belas tahun pun, aku sama seperti
adikku yang berkuliah sekarang. Sama-sama butuh makan, sama-sama ada biaya yang
harus dikeluarkan dalam mengerjakan tugas, sama-sama ingin sesekali jajan dan
refreshing dengan teman, dan seterusnya.
Bedanya,
kebutuhan dan apa pun keinginanku itu harus aku usahakan sendiri.
Semuanya. Seingatku, Mama dan Bapak memberiku uang saku dalam kurun waktu
tiga tahun kuliah hanya saat aku pulang mudik ke rumah, Lebaran tahun pertama
berkuliah dan tahun kedua. Aku ingat betul, pulang mudik aku punya uang 600
ribu dari mereka. Meski begitu, biaya perjalanan mudik semua aku usahakan
sendiri. Syukurlah mereka masih menyupport kuliahku dengan membelikanku
laptop seharga 3,5 juta di awal masa kuliah. Aku ingat betul nominalnya karena
memang sejak aku pindah sekolah SMA yang jauh dari tempat mereka tinggal sampai
aku kuliah, aku jarang sekali menerima uang dari mereka.
Adikku
beberapa kali ganti HP, dan aku baru sadar bahwa mulai dari HP pertamaku sampai
yang sekarang aku pakai, semua aku beli sendiri. Saat kuliah, laptopku pun dua
kali masuk tukang servis, sama seperti adikku. Tapi bedanya, orang tuaku nggak
pernah tahu itu dan uangnya aku usahakan sendiri. Aku sering makan hanya
dengan gorengan, dengan hanya serundeng kelapa, mie instan, apalagi. Sering
menahan lapar, sering lebih memilih jalan kaki 5 km demi berhemat membayar
angkot 5 ribu. Pernah gadai HP, saling pinjam ke teman setiap akhir bulan, dan
seterusnya. Sama, aku juga manusia. Aku juga anak yang butuh makan, minum,
dan segala kebutuhannya terpenuhi demi bertahan hidup di perantauan. Sama,
aku juga sama dengan adikku.
Lalu, kenapa tak muncul kalimat
tersebut saat aku kuliah dulu?
“Biar kamu fokus saja kuliahnya
biar cepat lulus.”
Seingatku,
waktuku lebih banyak untuk kerja dibandingkan masuk kuliah. Asalkan ambil batas
maksimal masuk kelas, selebihnya aku akan pakai untuk cari uang. Mengerjakan
tugas dengan sisa-sisa tenaga dan letihku. Mereview materi di tengah perjalanan
pulang dari kerja sampingan. Mengorbankan waktu tidur agar sedikit memperbaiki
nilai mata kuliahku atau mengejar materi mata kuliah yang
ketinggalan. Uang yang aku hasilkan memang tak pernah bisa sampai ke orang
tuaku, bahkan saat mereka membutuhkannya. Hanya cukup sekadar aku bertahan
hidup tanpa merepotkan mereka atas kebutuhan dan keinginanku di perantauan.
Tapi andai
boleh jujur, aku juga ingin seperti adikku sekarang. Aku ingin meminta, aku
ingin dibantu, aku ingin dicukupi kebutuhannya, aku ingin sesekali boleh
merajuk manja, sesekali ingin ‘boros’ karena ingin sesuatu di luar
kebutuhanku. Aku ingin mengeluh, ingin bilang aku capek sekali bekerja,
ingin makan ayam goreng bukan hanya serundengnya saja, ingin sesekali beli
buku, jajan enak, beli kerudung baru, dan pergi ke tempat wisata seperti
teman-teman lainnya. Aku ingin menangis saat laptopku rusak, padahal semua
file tugas dan kerjaan ada di situ, sedangkan aku nggak punya uang lebih. Aku
ingin nggak perlu menggadaikan HP-ku satu-satunya untuk bayar tukang servis
laptop. Aku ingin minta uang ke orang tuaku juga saat aku kepepet butuh, bukan
berutang ke temanku yang sebetulnya sangat sungkan dan malu.
Aku juga ingin seperti adikku
sekarang, yang tak harus mengkhawatirkan uang dan bisa sangat fokus kuliah saja.
Aku juga ingin
begitu. Melihat bagaimana orang tuaku kini memperlakukan adikku sungguh
membuatku agak kaget. Ah, ternyata sebagai orang tua mereka bisa bersikap
sangat mem-provide begini, ya. Mereka bisa nggak tega, bisa kasihan, dan men-support
anaknya juga. Lalu, kenapa tidak demikian terhadapku? Bukankah aku
juga anak kandung mereka?
Satu
pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi standar ekspektasiku.
Bukankah orang tua harusnya adil terhadap anak-anaknya? Kenapa memperlakukan
anak laki-lakinya dengan sangat suportif dan memanjakan, sedangkan membiarkan
anak perempuan mereka serba sendiri dan menuntut sangat mandiri? Tidakkah ini
terbalik? Dan di usiaku yang sudah lebih dari kepala tiga ini, rasanya aku
ingin merajuk menangis seperti layaknya anak usia 8 tahun. Aku ingin bilang,
“Mama, Bapak, kenapa nggak adil? Kenapa pilih kasih ke aku dan adik?” Aku
bisa menjelaskan secara logika tentang perbedaan sikap orang tua kami, kenapa
begitu. Ada faktor perubahan ekonomi yang berbeda jauh saat membesarkan aku dan
adikku. Saat aku, keluarga kami sangat miskin, berbeda dengan adikku yang jauh
lebih membaik. Tapi anak kecil dalam diriku tak mau menerima itu. Ia tetap
marah, sedih, dan kecewa. Setiap kali luka ini tergores sedikit, rasanya ia ingin
berteriak marah, merajuk, dan menangis kencang. Meskipun wajah dan tubuh Restu
dewasa pandai menyembunyikannya.
Sejujurnya, ini hanya sampai tahap menyadari bahwa ada sosok Restu kecil yang masih terluka. Entah bagaimana aku harus mengobatinya. Tapi aku nggak ingin menyangkal emosi yang ia rasakan. Aku hanya ingin memeluknya dan membiarkannya menangis sampai ia puas dan lega. Sampai pada titik perenungan yang membuatku mempertanyakan, mengapa aku menuntut orang tuaku bersikap adil sama rata terhadap aku dan adikku? Bisa jadi mereka memang tak mampu. Atau bisa jadi sejak awal, aku dan adikku bernilai berbeda di mata mereka. Mengapa aku harus bersikukuh supaya mereka melihatku sama seperti adikku dan menuntut mereka bersikap sama pula? Bukankah aku terlalu memaksakan diri untuk sesuatu di luar kendaliku?
Kalau
dipikirkan lagi, aku dan adikku memang tak bisa dibandingkan sama. Ia mewarisi
tubuh tinggi dan kulit putih Bapak. Mama sering memuji dan membanggakannya,
ganteng dan cocok jadi model. Sedangkan seingatku, Mama dan Bapak tidak pernah
memujiku atas fisikku sejak kecil. Entah aku tidak sadar, tidak terdengar, atau
bagaimana. Tapi rasanya saat mereka memuji cucu perempuan mereka, alias anakku,
dengan kata-kata “cantiknya”, hmm, itu terdengar asing. Juga tentang waktu
yang kami habiskan. Adikku menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang tua
kami dibandingkan dengan aku yang lebih dulu terpisah karena harus melanjutkan
sekolah SMA di luar kota.
Sayang
sekali, zamanku sekolah SMA belum ada teknologi video call, aku dan orang tuaku
belum punya handphone, belum kenal m-banking, dan belum ada kurir ekspedisi
paket. Kami jarang bertukar kabar, apalagi berkirim uang atau barang. Selama
masing-masing dari kami masih hidup, maka semua baik-baik saja. Entah
sedang sakit, entah sedang ada masalah apa pun, entah sedang kesulitan, hmm,
kami memilih menyelesaikannya sendiri tanpa tahu satu sama lain. Banyak momen
yang akhirnya terlewatkan.
Bukan! Bukan
momen seperti itu yang penting. Momen seperti saat setelah agenda sekolah
sampai malam hari, dan semua temanku dijemput pulang oleh ayah atau ibunya,
sedangkan aku pura-pura menunggu jemputan di pos satpam. Padahal aku tahu tak
akan ada seorang pun datang. Orang tuaku sudah jelas tidak mungkin, kakekku
sudah sangat sepuh, dan paklek-ku tidak terlalu peduli. Aku pura-pura melihat
jalanan seperti yang lainnya. Saat bingung memilih masuk jurusan IPA atau
IPS. Saat ingin sekali punya sepatu olahraga agar punya pengganti sepatu
hitam satu-satunya yang dipakai setiap hari, tapi aku terlalu sungkan meminta
uang kepada kakek dan nenekku. Takut merepotkan, takut membebani, takut
keinginanku menyusahkan mereka. Saat study tour ke Jogja, aku bingung
harus menyiapkan apa saja. Aku tak punya koper dan uang tabunganku saat itu
tersisa kurang dari 100 ribu. Saat malam akan Lebaran, suara takbiran
berkumandang di masjid, terdengar sendu, membuatku ingin pulang ke rumah. Kami
sudah melewatkan empat kali Lebaran tanpa bisa berkumpul saat SMA hingga awal
kuliah. Saat haid pertama. Saat aku harus ke luar kota pertama
kalinya sendirian naik bus. Saat takut menghadapi ujian nasional, semua
temanku ikut les di luar, dan aku satu-satunya yang tidak. Momen-momen
sederhana demikian yang aku ingin sekali ada orang tuaku hadir. Sayangnya, tidak
bisa.
Ah, tentu
saja aku pun demikian bagi mereka. Nggak bisa hadir saat mereka sakit, nggak
tahu saat mereka kesulitan, nggak ada di momen penting mereka. Sama. Yang
hadir saat itu adalah adikku. Mungkin ia yang mengantarkan Mama atau Bapak ke
puskesmas untuk berobat. Mungkin ia juga yang membelikan obat. Ia jelas selalu
ada, tahu dan terlibat dalam kondisi naik turun keluarga kami sampai saat ini.
Lihat! Bukankah dari sini saja
aku sudah kalah?
Lalu, mengapa aku menuntut
disamakan?
Astaga, bukankah aku sedikit agak
egois?
Ah, pantas saja Mama sangat
hafal kebiasaan dan selera makan, berpakaian, dan serba-serbi tentang adikku.
Sedangkan ia sepertinya tidak tahu makanan favoritku.
Pantas saja Bapak sangat
mengkhawatirkan dan sering ikut campur membantu apa pun masalah adikku. Ya,
mungkin karena terbiasa begitu.
Pantas saja.
Lalu, mengapa aku terus mencari
jawaban kenapa semua ini terasa tidak adil?
Ah, dan
jangan lupa, adikku laki-laki. Bisa saja mereka menganut kepercayaan tentang
anak laki-laki yang lebih prestise. Lagi pula, aku memang berhasil jadi sarjana
pertama di keluarga, hanya saja nggak mengubah apa pun. Aku hanya berhasil
bertahan hidup sendiri. Tak bisa menaikkan derajat dan nilai hidup mereka.
Tentu saja juga tak bisa dibanggakan, apalagi saat ini hanya berakhir sebagai
ibu rumah tangga. Mungkin mereka menilai adikku-lah yang membawa harapan
bagi mereka. Kuliah di kampus lebih bagus dengan jurusan prestisius, dengan
modal full support dari mereka. Mungkin saja mereka ingin memanen ‘hasil’ yang
selama ini mereka usahakan dan impikan lewat adikku.
Hmm, bukankah enak, iya kan,
tidak menanggung beban harapan tersebut?
Toh, sejak dulu, apa pun
prestasi dan sebaik apa pun aku menjadi anak mereka, aku memang tak pernah
mereka banggakan.
Lalu, mengapa sekarang harus
merongrong ingin dibanggakan?
Mereka berhak punya anak emas,
dan itu bukan aku.
Itu hak mereka.
Let them!
Jadi, mari camkan ini baik-baik,
Restu:
Kamu telat menyadari bahwa kamu
sejak awal memang bukan anak emas orang tuamu. Ingat-ingat lagi bahwa sejak
dulu pun, seberapa kamu berusaha menahan diri, mengesampingkan keinginan dan
kebutuhanmu, seberapa keras kamu berusaha dan seberapa banyak kamu memberi
sampai habis pun, bukankah tak pernah cukup bagi mereka?
Kamu bahkan tak pernah bisa
sampai di titik yang sama dengan adikmu.
Kamu memang tak pernah jadi
kebanggaan mereka, bahkan mungkin tak pernah mereka lihat.
Konsep adil kepada semua anak
itu adalah konsep idealmu, yang tak seharusnya kamu paksakan orang lain
terapkan, sekalipun orang tuamu.
Mereka berhak punya preferensi,
punya kesayangan.
Jadi, menyerahlah mulai
sekarang.
Berhentilah mencari jawaban atas
kenapa tak diperlakukan dengan sama adilnya dengan adikmu.
Cobalah—meski aku tahu ini
sulit—tapi cobalah untuk mengikhlaskan perjalanan hidup yang telah kamu lalui.
Semua itu membentukmu hari ini menjadi Restu yang sekarang.
Maafkan ketidakhadiran orang
tuamu saat kamu membutuhkan mereka. Anggap itu setimpal dengan keabsenanmu
sebagai anak juga.
Semoga semua kesulitan yang kamu
lalui di masa kecil dan masa mudamu itu menjadi modal baik untuk masa sekarang
dan ke depan nanti.
Semoga Allah mengganti
kebahagiaanmu yang hilang dengan ribuan kebahagiaan lain di masa mendatang.
Semoga lubang kosong di jiwamu
karena terlalu sering menghadapi apa pun sendirian diganti oleh banyaknya
kebaikan, pertolongan, dan cinta dari Allah.
Dan inilah yang paling penting :
Lepaskanlah, ikhlaskanlah, dan
berbahagialah Restu!

