Senin, 04 Mei 2026

Kami Bangga Sekali, Nak!

Mei 04, 2026 0 Comments

Ini bukan postingan tentang anakku.

Ini tentang mereka.

52 anak.
Anak TK B.




Yang biasanya…
masih suka lari-lari, susah diam,
nunggu sebentar aja bisa rewel.


Tapi hari ini,
mereka berdiri di sana—
rapi, kompak,
membawakan Tanah Air Beta
dengan melodi yang… bahkan aku sendiri hampir nggak percaya.

Sinkron.
Punya peran masing-masing.
Dan mereka benar-benar melakukannya.


Sebagai orang yang pernah ngajar,
aku tahu persis—
ngajar satu anak kecil aja bisa bikin kepala penuh.

Lah ini… 52 anak sekaligus.
Dari yang awalnya belum bisa apa-apa,
sampai jadi satu tim yang selaras.

Itu bukan hal biasa.
Itu luar biasa.


Dan yang paling bikin hati aku penuh—
aku tahu prosesnya.

Latihan hampir setahun.
Setiap Rabu.
Satu bulan terakhir… hampir setiap hari.
Panas. Capek. Bosan.

Tapi mereka tetap datang, tetap belajar.


Mungkin mereka deg-degan.
Mungkin ada yang takut.

Tapi mereka tetap maju.
Dan menyelesaikan semuanya.


Dan kami, para orang tua…
bukan cuma nonton.

Kami menyaksikan proses panjang
yang akhirnya mewujud di 10 menit penampilan itu.


Nak,
nggak peduli kamu pegang apa—
mayoret, pianika, bass, atau bendera.

Nggak peduli nanti juara berapa.


Kami bangga.
Bangga sekali.


Karena hari ini,
kalian bukan cuma tampil.

Kalian membuktikan
kalau kalian bisa belajar, bertahan,
dan jadi bagian dari sesuatu yang besar.

Jumat, 10 April 2026

Bakso 5 Ribu yang Menjaga Kewarasanku

April 10, 2026 0 Comments

Ada satu tukang bakso langganan yang selalu jadi tujuanku ketika ingin makan bakso: bakso gerobak hijau.

Suami dan anakku sering protes, menyarankan untuk membeli bakso lain saja yang lebih enak atau lebih dekat. Dan memang benar—bakso ini lumayan jauh dari tempat tinggal kami sekarang, dan ada banyak pilihan lain yang rasanya lebih enak.


Tapi aku masih sering diam-diam datang ke sana.

Bukan sekadar untuk menikmati rasa baksonya, tapi karena ada cerita di baliknya.

Bakso itu adalah bakso yang dulu sering lewat di depan rumah kontrakan pertamaku, saat awal aku memiliki anak. Rumah itu kami tempati sejak aku hamil tujuh bulan hingga anakku berusia lima tahun. Di sanalah untuk pertama kalinya aku dan suami benar-benar belajar mandiri—jauh dari orang tua dan mertua.

Kami belajar mengurus anak sendirian.
Dari masa newborn, MPASI, hingga toddler.

Mengenang masa-masa itu selalu membuatku terharu. Kami berhasil melaluinya, meskipun saat itu terasa sangat sulit.


Aku mengalami baby blues yang kemudian berkembang menjadi postpartum depression, dan itu berlangsung cukup lama—sekitar tiga tahun sejak kelahiran anakku.

Yang paling kuingat adalah bagaimana aku dan anakku sering berjalan kaki bersama. Kami berkeliling kampung, kadang sampai ke sawah, kadang ke minimarket, sampai orang-orang sekitar merasa heran dan bertanya-tanya.

Sebenarnya sederhana saja: aku jenuh di rumah.

Saat itu kami hanya memiliki satu motor, yang dipakai suamiku untuk bekerja. Jadi berjalan kaki adalah caraku melawan rasa jenuh, sekaligus memberi kesempatan bagi anakku untuk tetap mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar.


Sebagian besar waktu, aku hanya berdua dengannya.

Pekerjaan suamiku membuat kami menjalani hubungan semi LDR. Kesepian, stres, dan rasa kewalahan menjadi hal yang sangat akrab bagiku saat itu.

Sebelum menikah, aku biasa “mengobati” semua itu dengan hal-hal sederhana: jalan-jalan, jajan makanan yang kuinginkan, ngopi santai di warung atau kafe, sesekali pijat, atau facial saat gajian.


Tapi setelah menikah, semuanya berubah.

Aku tidak memiliki penghasilan sendiri. Aku harus benar-benar bijak menggunakan uang yang diberikan suamiku—uang yang ia dapatkan dengan susah payah. Ada kebutuhan anak yang harus diutamakan, ada kebutuhan rumah tangga yang menjadi prioritas.

Hal-hal untuk diriku sendiri perlahan menjadi kemewahan.

Membeli baju baru, skincare, atau sekadar wisata kuliner—semuanya harus dipikirkan berkali-kali.
Dan tanpa kusadari, pelan-pelan aku mengalah… sampai akhirnya aku merasa kehilangan diriku sendiri.

Aku sering tidak menikmati apa yang kulakukan.

Mencuci baju terasa melelahkan dan tidak ada habisnya. Saat itu aku tidak punya mesin cuci, dan tidak ada yang bisa mengerjakannya selain aku. Menggunakan jasa laundry pun bukan pilihan, karena kami harus berhemat.

Semua terasa seperti lingkaran yang tidak punya ujung.

Melelahkan.


Waktu terbaikku justru saat sendirian—ketika anakku tertidur. Saat itu aku bisa bernapas. Karena sepanjang hari, aku harus terus menemaninya, mengawasinya, tanpa jeda.

Aku merasa terjebak.

Ingin bekerja, tapi tidak ada yang menjaga anakku.
Ada pilihan daycare, tapi kondisi keuangan kami tidak memungkinkan.

Semua terasa buntu. Menyesakkan.
Tapi tetap harus dijalani.

Di tengah semua itu, ada satu hal kecil yang menjadi penghiburku:

Bakso gerobak hijau itu.

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Bakso itu bisa dibeli hanya dengan lima ribu rupiah. Entah memang harganya segitu, atau mungkin si bapak penjualnya sedang bersedekah—yang jelas, setiap kali aku membeli dengan uang lima ribu, mangkokku selalu terisi sekitar sepuluh butir bakso kecil.

Tentu saja aku tidak membelinya setiap hari, meskipun ia lewat setiap sore.

Tapi setiap kali aku memakannya, rasanya selalu sama: haru.

Seperti ada rasa lega kecil—bahwa aku masih bisa membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Bahwa aku bisa makan tanpa harus memasak. Dan yang paling penting, anakku juga menyukainya.

Sering kali kami makan berdua, satu porsi dibagi dua, ditambah nasi.

Sederhana, tapi cukup.


Bakso itu menjadi jeda.
Tempat aku bernapas.

Anakku tetap makan dengan kenyang. Aku juga. Tanpa memasak, tanpa banyak berpikir, dan tanpa terlalu membebani keuangan kami.

Rasanya sangat enak—bukan hanya karena rasanya, tapi karena apa yang ia bawa.

Setiap kali memakannya, rasanya seperti ada suara yang berbisik:

“Memang kita sedang kesulitan.
Tapi lima ribu ini boleh kamu pakai untuk menghargai dirimu.
Kamu sudah berusaha sejauh ini.
Kamu boleh istirahat.
Kamu layak menikmatinya tanpa rasa bersalah.”

Sejak saat itu, setiap kali aku merasa kepayahan dengan kondisiku, aku kembali membeli bakso itu.

Bukan hanya untuk makan.

Tapi untuk mengingat.

Bahwa aku boleh berhenti sejenak.
Bahwa aku sudah cukup kuat menjalani semuanya.
Bahwa aku tetap berharga, bahkan di masa paling sulit sekalipun.

Dan mungkin…
itulah yang sebenarnya sedang kucari setiap kali aku kembali ke sana.

Bukan baksonya.

Tapi diriku yang dulu—
yang sedang belajar bertahan,
dan ternyata… berhasil melewatinya.

Minggu, 05 April 2026

Sabun Biore Merah, Markisa, dan Mangga Kweni

April 05, 2026 0 Comments

 

Di grup WhatsApp alumni SMA, banyak yang bernostalgia.
Cerita kejadian-kejadian lama yang katanya “gak akan pernah lupa.”

Aneh ya…
Aku justru tidak ingat banyak hal dari masa itu.

Tapi aku ingat satu hal dengan sangat jelas—
aroma sabun cair Biore warna merah yang kupakai saat SD kelas 1.

Lucu.
Bagaimana mungkin aku lebih mengingat sesuatu dari 26 tahun lalu,
dibanding masa SMA yang katanya lebih “dekat”?

Aku mulai mengulik.

Ternyata…
di balik aroma sabun itu, ada memori hangat:
mandi di sungai, bersama ayah dan mama.
Perasaan aman. Dekat. Dicintai.

Hal yang sama juga terjadi dengan markisa.
Buah yang hari ini sengaja kupesan,
meski di kota tempatku tinggal hampir tidak pernah ada.

Bukan karena rasanya paling enak.
Tapi karena setiap melihatnya,
aku seperti kembali menjadi anak kecil yang menunggu ayah pulang dari pasar.

Jujur…
yang kutunggu bukan buahnya.

Tapi momen ketika ayah datang,
membawa sesuatu untuk kami di rumah.

Perasaan “dipikirkan”.
Perasaan “diingat”.

Dan mangga kweni—
atau limus, atau bembem.

Pohon itu ada di depan rumah masa kecilku.
Jarang berbuah, tapi selalu kupandangi.

Aromanya khas.
Seratnya sering nyangkut di gigi.
Dan mama selalu bilang,
“Jangan kebanyakan, nanti sariawan.”

Aku nurut.
Tapi diam-diam, aku selalu menunggu musimnya.



Hari ini aku sadar,
bukan aku yang mengingat semua itu.

Tapi tubuhku.

Tubuhku yang menyimpan aroma, rasa, dan rasa aman itu.
Tubuhku yang merekam cinta, dalam bentuk yang sederhana.

Dan mungkin…
itulah kenapa ada hal yang kita lupa,
dan ada yang tinggal begitu dalam.

Karena yang diingat tubuh,
bukan sekadar kejadian—
tapi perasaan.

Aku jadi percaya,
tubuh itu pintar.
Ia merekam semuanya—
bukan hanya luka yang menyakitkan,
tetapi juga rasa hangat yang menyembuhkan.

Selasa, 10 Februari 2026

Menulis adalah Caraku Menyelamatkan Diri

Februari 10, 2026 0 Comments

 

Saat melewati fase depresi lebih dari tiga tahun, aku seperti kehilangan diriku sendiri—termasuk seluruh rasa percaya pada kemampuanku. Public speaking, manajemen, mengelola tim, mengatur uang, pemasaran—semua yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku, perlahan terasa menguap. Padahal dulu kemampuan itu nyata, tercermin dari prestasi dan tanggung jawab pekerjaan. Entah mengapa, yang tersisa hanya rasa tak berdaya.

Tapi ada satu hal yang diam-diam masih kupercaya: aku masih bisa menulis.

Aku menulis untuk mengurai yang rumit di kepalaku, menata lalu menamai emosiku sendiri. Kadang, di tengah kalimat yang belum selesai, aku menemukan kesadaran baru—cara pandang yang berbeda. Tanpa kusadari, tulisan-tulisan itu pelan-pelan menyembuhkanku.

Menulis membuatku merasa ditemani, seolah ada ruang aman tempat aku boleh menjadi apa adanya. Tulisan-tulisan itu kusimpan di sebuah blog sederhana dengan domain gratis, hanya agar tidak hilang, agar lebih rapi, agar bisa kubaca lagi kapan pun aku butuh pulang.

Aku memang suka membaca tulisanku sendiri—mengaguminya diam-diam, dengan sedikit rasa bangga yang kusembunyikan. Meski tanpa dibaca orang lain, tanpa tepuk tangan atau pujian, aku tetap menyayangi tulisan-tulisan tak sempurnaku itu.

Sampai hari ini, menulis masih menjadi rumah batinku. Tempat aku pulang ketika rapuh, tempat mencari makna baru, dan lagi-lagi—tempat yang menyelamatkanku dari hidup yang sering terasa seperti kiamat.

Seperti hari ini...

sumber : dokumentasi pribadi


Kamis, 22 Januari 2026

Ujian Pertemanan Pertama: Catatan Seorang Ibu

Januari 22, 2026 0 Comments

 

Tiga hari ini aku dibuat pusing oleh tingkah anakku yang mendadak ingin mogok sekolah. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, dan kali ini alasannya adalah karena bestie-nya absen sekolah karena sakit. Bestie-nya, sebut saja namanya Radish, harus menjalani operasi amandel di Blitar dan tentu saja membutuhkan waktu pemulihan sebelum bisa kembali bersekolah. Karena operasinya dilakukan di luar kota, kemungkinan Radish baru bisa masuk sekolah lagi setelah lebih dari seminggu. Aku dan papanya sebenarnya tipikal orang tua yang cukup santai dalam urusan sekolah. Tapi membayangkan anak ingin bolos sekolah sekitar tujuh hari hanya karena bestie-nya tidak masuk sekolah terdengar agak tidak masuk akal.


Sepengamatanku, anakku terlihat baik-baik saja dalam hal berteman. Ia memang agak pemalu di awal, tapi cukup bisa berinisiatif mengajak bermain atau mengobrol. Pendiam di awal, namun akan jauh lebih nyaman jika sudah akrab. Tipikal anak yang ngrapyak. Dari tiga kelas yang ada di TK B, hampir semuanya ia kenal, terutama yang perempuan. Ia juga kerap bermain dengan anak TK A dan beberapa adik PAUD di sekolah yang sama. Namun, ia memang seperti memiliki layer pertemanan. Ada yang sekadar kenalan, teman biasa, teman dekat, dan di lapisan terakhir ada bestie—yang jumlahnya hanya satu atau dua orang. Dan lapisan bestie ini terasa sangat “deep” dan intens. Sejauh ini aku masih menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Awalnya aku mendapat kabar dari ibunya Radish, lalu menyampaikannya pada anakku. Responsnya langsung menangis dan meminta libur sekolah keesokan harinya. Padahal, ini bukan pertama kalinya terjadi. Bulan lalu, saat Radish sakit selama empat hari, anakku juga terus mengeluh tidak bahagia di sekolah dan ingin libur sampai Radish sembuh. Saat itu aku mengajaknya menjenguk Radish ke rumahnya, dengan kesepakatan bahwa ia tidak boleh mogok sekolah lagi dengan alasan serupa. Aku menjelaskan panjang lebar bahwa perilaku tersebut tidak tepat. Ia sepakat dan berjanji tidak mengulanginya. Karena itulah, kali ini aku merespons dengan sikap yang cukup tegas dan mengingatkannya kembali pada janjinya.

Hari Senin, ia bangun lebih awal, tetapi enggan beranjak dari kasur. Hampir satu jam aku mengobrol dengannya. Kali ini aku menggunakan nada bicara selembut mungkin sambil menatap matanya. Aku berusaha memahami sudut pandang dan perasaannya. Ia mengatakan bahwa ia sedih karena Radish tidak ada, takut tidak punya teman bermain, khawatir tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak ingin merasa kesepian dan sendirian. Aku mendengarkan semuanya dengan saksama. Berusaha se-empati mungkin, meskipun alasan-alasan itu terdengar tidak masuk akal bagiku. Karena selama ini pun ia bermain dengan banyak anak lain selain Radish. Teman-temannya tersebar di berbagai kelas, baik perempuan maupun laki-laki.

Akhirnya aku tetap mengarahkannya untuk masuk sekolah hari itu. Kebetulan, kegiatan sekolah adalah pawai keliling kampung dalam rangka Isra Mi’raj, jadi tidak ada pelajaran dan pulang lebih cepat. Aku mengantarnya sampai halaman sekolah. Teman-temannya sudah berbaris siap pawai. Setelah melihatnya mengobrol dengan beberapa temannya, aku pun berbalik untuk pulang. Tiba-tiba ia berlari menyusulku sambil menangis tersedu-sedu. Aku memeluknya, sambil berpikir, “Ah, ya sudahlah, pulang saja.” Untungnya, guru kelasnya menghampiri dan mengajaknya tetap sekolah dengan iming-iming membawa payung hias. Sepulang sekolah, aku meminta ia bercerita tentang pawainya. Katanya seru meski capek dan panas. Ia bermain lempar botol dengan Razka, makan bersama Kia, dan ikut pawai dengan anak TK A. Singkatnya, ia senang bersekolah seperti biasanya. Aku mengevaluasi hari itu. Meski akhirnya ia masuk sekolah, rasanya itu berat baginya—dan jujur saja, melelahkan bagiku juga.

Keesokan harinya, aku memilih pendekatan berbeda. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan marah atau mengomel jika ia memilih tidak sekolah. Ia bebas memilih, tapi harus memahami konsekuensinya. Jika di rumah, tidak ada gawai, TV, atau laptop. Aku juga tidak bisa menemaninya bermain karena harus fokus bekerja sampai siang. Ia bahkan harus ikut menjaga toko dan tidak bisa bermain dengan kucingnya. Sebaliknya, jika sekolah, ia bisa bermain dan berkegiatan bersama guru dan teman-temannya. Aku menyampaikannya se-netral mungkin, berharap ia memilih dengan sadar. Ia berpikir cukup lama, lalu memutuskan ingin di rumah saja sampai Radish masuk sekolah lagi. “Oke,” kataku. Tak lama kemudian, ia berubah pikiran. “Ya udah deh, aku masuk sekolah aja. Nggak seru di rumah, nggak boleh lihat HP, mama juga nggak bisa diajak main.” Keputusan itu benar-benar ia jalani. Aku mengantarnya ke sekolah. Namun, sesaat setelah turun dari motor di depan gerbang, ia kembali menangis. Ia menyesali pilihannya dan ingin pulang. Katanya, ia bisa main slime dan bikin kreasi seharian supaya tidak bosan. Aku memeluknya, speechless, sambil bergumam dalam hati, “Astaga, sampai kapan begini terus?” Syukurlah, seorang guru melihatnya dan segera mengajaknya masuk kelas. Dengan langkah berat dan air mata yang masih mengalir, ia tetap berjalan menuju kelas.

Sesampainya di rumah, aku seperti mengalami dĂ©jĂ  vu. Adegan menangis di gerbang sekolah ini dulu sering terjadi saat ia baru masuk PAUD di usia tiga tahun. Dan baru kali ini terulang lagi. Aku bingung dan frustrasi. Hingga akhirnya aku menyadari: ini bukan hanya hal baru bagiku, tapi juga bagi anakku. Dan sama-sama terasa berat. Aku yang dewasa tentu sudah paham dinamika pertemanan—bahwa teman datang dan pergi, silih berganti. Kadang bertambah, kadang berkurang. Kadang bertemu, kadang berpisah. Namun tidak demikian dengan anakku. Inilah pertama kalinya ia belajar bahwa sedekat apa pun pertemanan, tidak berarti selalu bersama. Ini adalah pelajaran perpisahan pertamanya. Tentang kenyataan bahwa ia dan bestie-nya memiliki kehidupan yang berbeda. Tentang kehilangan yang sementara, dan kelak mungkin yang lebih panjang. Juga tentang menyadari bahwa ia akan tetap aman dan baik-baik saja, dengan atau tanpa bestie di sisinya.

Aku pun mulai membuka percakapan dengannya lewat cerita masa kecilku. Tentang pengalamanku pindah sekolah saat kelas tiga SD. Tentang sedih, takut, dan cemas karena harus meninggalkan teman lama dan masuk ke sekolah baru tanpa mengenal siapa pun. Aku ceritakan detail perasaanku, bagaimana aku menghadapinya, dan bagaimana semuanya akhirnya berlalu. Ia mendengarkan dengan saksama, banyak bertanya tentang teman-temanku dulu. Aku juga bercerita tentang perubahan pertemanan dari SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, hingga sekarang. Bahwa apa yang ia alami adalah hal yang normal. Perubahan bisa datang kapan saja. Sedih, takut, bingung, cemas—itu semua wajar. Tapi tidak akan selamanya begitu. Obrolan sebelum tidur siang itu membuatnya perlahan berdamai. Ia berkata bahwa ia tetap bisa menghubungi Radish meski berjauhan. “Untung sekarang sudah ada HP, nggak kayak zaman mama dulu,” katanya. Ia pun berjanji akan masuk sekolah besok dan tidak menangis di depan gerbang lagi.

Hari Rabu, jadwalnya latihan drumband—kegiatan yang sebenarnya tidak ia sukai karena harus memegang bendera dan membuat tangannya pegal. Aku agak was-was, tapi pagi itu ia tetap berangkat meski matanya sempat berkaca-kaca. Aku mengajaknya berkeliling sebentar dan membelikan kue basah kesukaannya. Hari itu ia berhasil masuk sekolah tanpa tangis. Sepulang sekolah, ia bercerita bahwa teman-teman lain juga seru. Aku memvalidasi bahwa ia baik-baik saja meski tanpa Radish. Ia mengiyakan. Aku pun memujinya—bahwa ia anak yang mudah berteman, berani menyapa, dan disukai banyak teman.

Hari Kamis datang. Katanya, ini hari paling menyebalkan karena pulang lebih lama untuk kegiatan salat berjamaah. Kekhawatiranku bertambah karena sepulang sekolah ada kelas matrikulasi di bakal SD-nya. Di kelas itu, anak-anak berasal dari berbagai TK, dan dari sekolahnya hanya ada dua anak: anakku dan Radish. Sejak malam, ia sudah cemas. Aku memberinya ide untuk berkenalan dengan membawa koleksi stiker. Bermain stiker, lalu menawarkan dan berkenalan. Ia menyukai ide itu. Aku menambahkan tantangan: jika berhasil berkenalan dengan satu anak saja, aku akan membelikannya es krim kesukaannya.

Hari itu berjalan lancar. Tanpa tangisan, tanpa drama. Ia benar-benar mencoba berkenalan dan mendapatkan satu teman baru. Aku sangat bangga. Janjiku pun kutepati.Saat menikmati es krim, aku mengatakan betapa bangganya aku padanya. Rasanya seperti kami baru saja lulus satu ujian bersama. Ujian itu terasa semakin lengkap ketika malam harinya ada pengumuman di grup kelas: besok akan ada outing class bermain layangan di alun-alun kota. Anakku senang sekali. Aku menggoda, “Tapi Radish belum masuk sekolah loh.”

Ia menjawab mantap, “Nggak apa-apa, Ma. Masih ada teman lain. Di sekolah tetap seru. Aku mau masuk sekolah besok. Aku doain aja Radish biar cepat sembuh dan masuk sekolah lagi.”

Aku sungguh lega. Bergumam dalam hati tentang kami yang sama-sama belajar hal baru. Sungguh, menjadi orang tua itu membuat kita terus belajar—tentang anak, dan tentang diri sendiri.

Senin, 12 Januari 2026

Aku Pernah Mengira Sakit Adalah Cara untuk DIcintai

Januari 12, 2026 0 Comments

 

    Waktu kecil, aku merasa momen ketika aku paling disayang adalah saat aku sakit. Sikap orang tuaku berubah: suara menjadi lebih lembut, omelan dan teriakan menghilang, perintah berkurang. Mereka lebih sering bertanya apa yang aku rasakan, bagian mana yang masih sakit, dan apa yang aku butuhkan.

    Saat sakit, aku dibebaskan dari kewajiban sekolah, pekerjaan rumah, dan PR. Aku diberi obat, ditanya ingin makan apa, ingin melakukan apa. Aku didengarkan. Aku diperhatikan. Aku dilihat. Diam-diam, aku senang ketika sakit. Bahkan ada bagian dalam diriku yang berharap sakit itu bertahan lebih lama.

    Ironisnya, sejak kecil aku justru jarang sakit. Rawat inap di rumah sakit hanya sekali seumur hidup—itu pun karena melahirkan. Jika aku mengatakan ingin sakit, tentu akan banyak orang menasihatiku untuk bersyukur, karena di luar sana banyak orang yang ingin sehat sepertiku. Aku paham itu. Aku tidak menyangkalnya. Namun jujur saja, bagiku sakit bukan tentang rasa sakit fisik. Sakit adalah satu-satunya kondisi di mana aku merasa keberadaanku diakui, perasaanku penting, dan aku layak dipedulikan. Seolah hanya ketika tubuhku lemah, aku boleh menjadi manusia yang butuh.

    Pemikiran itu tidak menghilang ketika aku dewasa. Justru semakin terasa sejak aku menjadi istri dan ibu. Aku tetap bisa menjalankan peran—bahkan saat tidak enak badan. Mengurus anak, menyiapkan makanan, menjaga toko, mengurus rumah. Tubuhku tetap bergerak, tanggung jawab tetap berjalan. Mungkin karena itulah, hampir tidak ada yang benar-benar percaya ketika aku berkata aku sedang sakit. Seolah aku baru dianggap benar-benar sakit jika pingsan, diinfus, atau terbaring di rumah sakit.

    Pada satu fase hidupku—saat aku berjuang melawan depresi—aku pernah terpikir untuk membuat diriku mengalami kecelakaan di jalan. Bukan karena aku ingin mati, apalagi benar-benar celaka. Aku hanya ingin dirawat. Ingin berhenti. Ingin ada yang melihat dan berkata, “Kamu tidak apa-apa untuk lemah.”

    Kini aku tahu, pikiran itu bukan kegilaan. Itu adalah jeritan dari kebutuhan yang terlalu lama diabaikan. Entah dulu atau sekarang, meskipun orang-orang di sekitarku berganti dan bertambah, rasanya tetap sama. Keberadaanku terasa otomatis. Usahaku dianggap wajar. Kuatku dianggap kewajiban. Seolah semua yang kulakukan memang seharusnya begitu.

    Hari ini, aku sakit. Hampir seminggu tubuhku belum pulih dari batuk, flu, dan radang tenggorokan. Dan justru di sakit kali ini, aku sampai pada satu kesadaran yang pelan tapi tegas: berharap sakit agar diperhatikan adalah harapan yang sia-sia. Keberadaanku tetap penting, ada ataupun tidak ada yang mengakuinya. Kesehatan fisik dan mentalku tetap berharga, ada ataupun tidak ada yang peduli.

Aku tidak seharusnya menunggu seseorang sadar untuk merawatku.

Sumber : Dok. Pribadi

 Aku berhenti menunggu. Berhenti mencari perhatian dan validasi dari luar. Berhenti berharap ada yang tiba-tiba mengulurkan tangan. Dan yang terpenting, aku berhenti menjadi kuat sendirian.

Aku mulai menempatkan diriku dalam daftar prioritasku sendiri. Aku menunda pekerjaan domestik. Aku mendelegasikan tugas. Aku meliburkan diri dari kewajiban menjaga toko. Aku berkata dengan jujur kepada orang rumah bahwa aku sedang sakit dan butuh istirahat.

Aku pergi ke dokter. Aku meminum obat. Aku membuatkan jamu untuk diriku sendiri. Aku membeli vitamin, buah, bubur ayam, dan memasak sup kaldu—hal-hal yang biasanya kulakukan untuk orang-orang yang kucintai saat mereka sakit.

Kini aku merawat diriku seperti aku merawat orang lain.

Aku tidak akan lagi menunggu runtuh untuk dianggap layak dirawat. Aku tidak perlu sakit untuk pantas disayangi. Mulai sekarang, akulah orang yang akan menjaga, melindungi, dan menyayangi diriku sendiri—