Jumat, 10 April 2026

Bakso 5 Ribu yang Menjaga Kewarasanku

April 10, 2026 0 Comments

Ada satu tukang bakso langganan yang selalu jadi tujuanku ketika ingin makan bakso: bakso gerobak hijau.

Suami dan anakku sering protes, menyarankan untuk membeli bakso lain saja yang lebih enak atau lebih dekat. Dan memang benar—bakso ini lumayan jauh dari tempat tinggal kami sekarang, dan ada banyak pilihan lain yang rasanya lebih enak.


Tapi aku masih sering diam-diam datang ke sana.

Bukan sekadar untuk menikmati rasa baksonya, tapi karena ada cerita di baliknya.

Bakso itu adalah bakso yang dulu sering lewat di depan rumah kontrakan pertamaku, saat awal aku memiliki anak. Rumah itu kami tempati sejak aku hamil tujuh bulan hingga anakku berusia lima tahun. Di sanalah untuk pertama kalinya aku dan suami benar-benar belajar mandiri—jauh dari orang tua dan mertua.

Kami belajar mengurus anak sendirian.
Dari masa newborn, MPASI, hingga toddler.

Mengenang masa-masa itu selalu membuatku terharu. Kami berhasil melaluinya, meskipun saat itu terasa sangat sulit.


Aku mengalami baby blues yang kemudian berkembang menjadi postpartum depression, dan itu berlangsung cukup lama—sekitar tiga tahun sejak kelahiran anakku.

Yang paling kuingat adalah bagaimana aku dan anakku sering berjalan kaki bersama. Kami berkeliling kampung, kadang sampai ke sawah, kadang ke minimarket, sampai orang-orang sekitar merasa heran dan bertanya-tanya.

Sebenarnya sederhana saja: aku jenuh di rumah.

Saat itu kami hanya memiliki satu motor, yang dipakai suamiku untuk bekerja. Jadi berjalan kaki adalah caraku melawan rasa jenuh, sekaligus memberi kesempatan bagi anakku untuk tetap mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar.


Sebagian besar waktu, aku hanya berdua dengannya.

Pekerjaan suamiku membuat kami menjalani hubungan semi LDR. Kesepian, stres, dan rasa kewalahan menjadi hal yang sangat akrab bagiku saat itu.

Sebelum menikah, aku biasa “mengobati” semua itu dengan hal-hal sederhana: jalan-jalan, jajan makanan yang kuinginkan, ngopi santai di warung atau kafe, sesekali pijat, atau facial saat gajian.


Tapi setelah menikah, semuanya berubah.

Aku tidak memiliki penghasilan sendiri. Aku harus benar-benar bijak menggunakan uang yang diberikan suamiku—uang yang ia dapatkan dengan susah payah. Ada kebutuhan anak yang harus diutamakan, ada kebutuhan rumah tangga yang menjadi prioritas.

Hal-hal untuk diriku sendiri perlahan menjadi kemewahan.

Membeli baju baru, skincare, atau sekadar wisata kuliner—semuanya harus dipikirkan berkali-kali.
Dan tanpa kusadari, pelan-pelan aku mengalah… sampai akhirnya aku merasa kehilangan diriku sendiri.

Aku sering tidak menikmati apa yang kulakukan.

Mencuci baju terasa melelahkan dan tidak ada habisnya. Saat itu aku tidak punya mesin cuci, dan tidak ada yang bisa mengerjakannya selain aku. Menggunakan jasa laundry pun bukan pilihan, karena kami harus berhemat.

Semua terasa seperti lingkaran yang tidak punya ujung.

Melelahkan.


Waktu terbaikku justru saat sendirian—ketika anakku tertidur. Saat itu aku bisa bernapas. Karena sepanjang hari, aku harus terus menemaninya, mengawasinya, tanpa jeda.

Aku merasa terjebak.

Ingin bekerja, tapi tidak ada yang menjaga anakku.
Ada pilihan daycare, tapi kondisi keuangan kami tidak memungkinkan.

Semua terasa buntu. Menyesakkan.
Tapi tetap harus dijalani.

Di tengah semua itu, ada satu hal kecil yang menjadi penghiburku:

Bakso gerobak hijau itu.

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Bakso itu bisa dibeli hanya dengan lima ribu rupiah. Entah memang harganya segitu, atau mungkin si bapak penjualnya sedang bersedekah—yang jelas, setiap kali aku membeli dengan uang lima ribu, mangkokku selalu terisi sekitar sepuluh butir bakso kecil.

Tentu saja aku tidak membelinya setiap hari, meskipun ia lewat setiap sore.

Tapi setiap kali aku memakannya, rasanya selalu sama: haru.

Seperti ada rasa lega kecil—bahwa aku masih bisa membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Bahwa aku bisa makan tanpa harus memasak. Dan yang paling penting, anakku juga menyukainya.

Sering kali kami makan berdua, satu porsi dibagi dua, ditambah nasi.

Sederhana, tapi cukup.


Bakso itu menjadi jeda.
Tempat aku bernapas.

Anakku tetap makan dengan kenyang. Aku juga. Tanpa memasak, tanpa banyak berpikir, dan tanpa terlalu membebani keuangan kami.

Rasanya sangat enak—bukan hanya karena rasanya, tapi karena apa yang ia bawa.

Setiap kali memakannya, rasanya seperti ada suara yang berbisik:

“Memang kita sedang kesulitan.
Tapi lima ribu ini boleh kamu pakai untuk menghargai dirimu.
Kamu sudah berusaha sejauh ini.
Kamu boleh istirahat.
Kamu layak menikmatinya tanpa rasa bersalah.”

Sejak saat itu, setiap kali aku merasa kepayahan dengan kondisiku, aku kembali membeli bakso itu.

Bukan hanya untuk makan.

Tapi untuk mengingat.

Bahwa aku boleh berhenti sejenak.
Bahwa aku sudah cukup kuat menjalani semuanya.
Bahwa aku tetap berharga, bahkan di masa paling sulit sekalipun.

Dan mungkin…
itulah yang sebenarnya sedang kucari setiap kali aku kembali ke sana.

Bukan baksonya.

Tapi diriku yang dulu—
yang sedang belajar bertahan,
dan ternyata… berhasil melewatinya.

Minggu, 05 April 2026

Sabun Biore Merah, Markisa, dan Mangga Kweni

April 05, 2026 0 Comments

 

Di grup WhatsApp alumni SMA, banyak yang bernostalgia.
Cerita kejadian-kejadian lama yang katanya “gak akan pernah lupa.”

Aneh ya…
Aku justru tidak ingat banyak hal dari masa itu.

Tapi aku ingat satu hal dengan sangat jelas—
aroma sabun cair Biore warna merah yang kupakai saat SD kelas 1.

Lucu.
Bagaimana mungkin aku lebih mengingat sesuatu dari 26 tahun lalu,
dibanding masa SMA yang katanya lebih “dekat”?

Aku mulai mengulik.

Ternyata…
di balik aroma sabun itu, ada memori hangat:
mandi di sungai, bersama ayah dan mama.
Perasaan aman. Dekat. Dicintai.

Hal yang sama juga terjadi dengan markisa.
Buah yang hari ini sengaja kupesan,
meski di kota tempatku tinggal hampir tidak pernah ada.

Bukan karena rasanya paling enak.
Tapi karena setiap melihatnya,
aku seperti kembali menjadi anak kecil yang menunggu ayah pulang dari pasar.

Jujur…
yang kutunggu bukan buahnya.

Tapi momen ketika ayah datang,
membawa sesuatu untuk kami di rumah.

Perasaan “dipikirkan”.
Perasaan “diingat”.

Dan mangga kweni—
atau limus, atau bembem.

Pohon itu ada di depan rumah masa kecilku.
Jarang berbuah, tapi selalu kupandangi.

Aromanya khas.
Seratnya sering nyangkut di gigi.
Dan mama selalu bilang,
“Jangan kebanyakan, nanti sariawan.”

Aku nurut.
Tapi diam-diam, aku selalu menunggu musimnya.



Hari ini aku sadar,
bukan aku yang mengingat semua itu.

Tapi tubuhku.

Tubuhku yang menyimpan aroma, rasa, dan rasa aman itu.
Tubuhku yang merekam cinta, dalam bentuk yang sederhana.

Dan mungkin…
itulah kenapa ada hal yang kita lupa,
dan ada yang tinggal begitu dalam.

Karena yang diingat tubuh,
bukan sekadar kejadian—
tapi perasaan.

Aku jadi percaya,
tubuh itu pintar.
Ia merekam semuanya—
bukan hanya luka yang menyakitkan,
tetapi juga rasa hangat yang menyembuhkan.

Selasa, 10 Februari 2026

Menulis adalah Caraku Menyelamatkan Diri

Februari 10, 2026 0 Comments

 

Saat melewati fase depresi lebih dari tiga tahun, aku seperti kehilangan diriku sendiri—termasuk seluruh rasa percaya pada kemampuanku. Public speaking, manajemen, mengelola tim, mengatur uang, pemasaran—semua yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku, perlahan terasa menguap. Padahal dulu kemampuan itu nyata, tercermin dari prestasi dan tanggung jawab pekerjaan. Entah mengapa, yang tersisa hanya rasa tak berdaya.

Tapi ada satu hal yang diam-diam masih kupercaya: aku masih bisa menulis.

Aku menulis untuk mengurai yang rumit di kepalaku, menata lalu menamai emosiku sendiri. Kadang, di tengah kalimat yang belum selesai, aku menemukan kesadaran baru—cara pandang yang berbeda. Tanpa kusadari, tulisan-tulisan itu pelan-pelan menyembuhkanku.

Menulis membuatku merasa ditemani, seolah ada ruang aman tempat aku boleh menjadi apa adanya. Tulisan-tulisan itu kusimpan di sebuah blog sederhana dengan domain gratis, hanya agar tidak hilang, agar lebih rapi, agar bisa kubaca lagi kapan pun aku butuh pulang.

Aku memang suka membaca tulisanku sendiri—mengaguminya diam-diam, dengan sedikit rasa bangga yang kusembunyikan. Meski tanpa dibaca orang lain, tanpa tepuk tangan atau pujian, aku tetap menyayangi tulisan-tulisan tak sempurnaku itu.

Sampai hari ini, menulis masih menjadi rumah batinku. Tempat aku pulang ketika rapuh, tempat mencari makna baru, dan lagi-lagi—tempat yang menyelamatkanku dari hidup yang sering terasa seperti kiamat.

Seperti hari ini...

sumber : dokumentasi pribadi


Kamis, 22 Januari 2026

Ujian Pertemanan Pertama: Catatan Seorang Ibu

Januari 22, 2026 0 Comments

 

Tiga hari ini aku dibuat pusing oleh tingkah anakku yang mendadak ingin mogok sekolah. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, dan kali ini alasannya adalah karena bestie-nya absen sekolah karena sakit. Bestie-nya, sebut saja namanya Radish, harus menjalani operasi amandel di Blitar dan tentu saja membutuhkan waktu pemulihan sebelum bisa kembali bersekolah. Karena operasinya dilakukan di luar kota, kemungkinan Radish baru bisa masuk sekolah lagi setelah lebih dari seminggu. Aku dan papanya sebenarnya tipikal orang tua yang cukup santai dalam urusan sekolah. Tapi membayangkan anak ingin bolos sekolah sekitar tujuh hari hanya karena bestie-nya tidak masuk sekolah terdengar agak tidak masuk akal.


Sepengamatanku, anakku terlihat baik-baik saja dalam hal berteman. Ia memang agak pemalu di awal, tapi cukup bisa berinisiatif mengajak bermain atau mengobrol. Pendiam di awal, namun akan jauh lebih nyaman jika sudah akrab. Tipikal anak yang ngrapyak. Dari tiga kelas yang ada di TK B, hampir semuanya ia kenal, terutama yang perempuan. Ia juga kerap bermain dengan anak TK A dan beberapa adik PAUD di sekolah yang sama. Namun, ia memang seperti memiliki layer pertemanan. Ada yang sekadar kenalan, teman biasa, teman dekat, dan di lapisan terakhir ada bestie—yang jumlahnya hanya satu atau dua orang. Dan lapisan bestie ini terasa sangat “deep” dan intens. Sejauh ini aku masih menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Awalnya aku mendapat kabar dari ibunya Radish, lalu menyampaikannya pada anakku. Responsnya langsung menangis dan meminta libur sekolah keesokan harinya. Padahal, ini bukan pertama kalinya terjadi. Bulan lalu, saat Radish sakit selama empat hari, anakku juga terus mengeluh tidak bahagia di sekolah dan ingin libur sampai Radish sembuh. Saat itu aku mengajaknya menjenguk Radish ke rumahnya, dengan kesepakatan bahwa ia tidak boleh mogok sekolah lagi dengan alasan serupa. Aku menjelaskan panjang lebar bahwa perilaku tersebut tidak tepat. Ia sepakat dan berjanji tidak mengulanginya. Karena itulah, kali ini aku merespons dengan sikap yang cukup tegas dan mengingatkannya kembali pada janjinya.

Hari Senin, ia bangun lebih awal, tetapi enggan beranjak dari kasur. Hampir satu jam aku mengobrol dengannya. Kali ini aku menggunakan nada bicara selembut mungkin sambil menatap matanya. Aku berusaha memahami sudut pandang dan perasaannya. Ia mengatakan bahwa ia sedih karena Radish tidak ada, takut tidak punya teman bermain, khawatir tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak ingin merasa kesepian dan sendirian. Aku mendengarkan semuanya dengan saksama. Berusaha se-empati mungkin, meskipun alasan-alasan itu terdengar tidak masuk akal bagiku. Karena selama ini pun ia bermain dengan banyak anak lain selain Radish. Teman-temannya tersebar di berbagai kelas, baik perempuan maupun laki-laki.

Akhirnya aku tetap mengarahkannya untuk masuk sekolah hari itu. Kebetulan, kegiatan sekolah adalah pawai keliling kampung dalam rangka Isra Mi’raj, jadi tidak ada pelajaran dan pulang lebih cepat. Aku mengantarnya sampai halaman sekolah. Teman-temannya sudah berbaris siap pawai. Setelah melihatnya mengobrol dengan beberapa temannya, aku pun berbalik untuk pulang. Tiba-tiba ia berlari menyusulku sambil menangis tersedu-sedu. Aku memeluknya, sambil berpikir, “Ah, ya sudahlah, pulang saja.” Untungnya, guru kelasnya menghampiri dan mengajaknya tetap sekolah dengan iming-iming membawa payung hias. Sepulang sekolah, aku meminta ia bercerita tentang pawainya. Katanya seru meski capek dan panas. Ia bermain lempar botol dengan Razka, makan bersama Kia, dan ikut pawai dengan anak TK A. Singkatnya, ia senang bersekolah seperti biasanya. Aku mengevaluasi hari itu. Meski akhirnya ia masuk sekolah, rasanya itu berat baginya—dan jujur saja, melelahkan bagiku juga.

Keesokan harinya, aku memilih pendekatan berbeda. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan marah atau mengomel jika ia memilih tidak sekolah. Ia bebas memilih, tapi harus memahami konsekuensinya. Jika di rumah, tidak ada gawai, TV, atau laptop. Aku juga tidak bisa menemaninya bermain karena harus fokus bekerja sampai siang. Ia bahkan harus ikut menjaga toko dan tidak bisa bermain dengan kucingnya. Sebaliknya, jika sekolah, ia bisa bermain dan berkegiatan bersama guru dan teman-temannya. Aku menyampaikannya se-netral mungkin, berharap ia memilih dengan sadar. Ia berpikir cukup lama, lalu memutuskan ingin di rumah saja sampai Radish masuk sekolah lagi. “Oke,” kataku. Tak lama kemudian, ia berubah pikiran. “Ya udah deh, aku masuk sekolah aja. Nggak seru di rumah, nggak boleh lihat HP, mama juga nggak bisa diajak main.” Keputusan itu benar-benar ia jalani. Aku mengantarnya ke sekolah. Namun, sesaat setelah turun dari motor di depan gerbang, ia kembali menangis. Ia menyesali pilihannya dan ingin pulang. Katanya, ia bisa main slime dan bikin kreasi seharian supaya tidak bosan. Aku memeluknya, speechless, sambil bergumam dalam hati, “Astaga, sampai kapan begini terus?” Syukurlah, seorang guru melihatnya dan segera mengajaknya masuk kelas. Dengan langkah berat dan air mata yang masih mengalir, ia tetap berjalan menuju kelas.

Sesampainya di rumah, aku seperti mengalami déjà vu. Adegan menangis di gerbang sekolah ini dulu sering terjadi saat ia baru masuk PAUD di usia tiga tahun. Dan baru kali ini terulang lagi. Aku bingung dan frustrasi. Hingga akhirnya aku menyadari: ini bukan hanya hal baru bagiku, tapi juga bagi anakku. Dan sama-sama terasa berat. Aku yang dewasa tentu sudah paham dinamika pertemanan—bahwa teman datang dan pergi, silih berganti. Kadang bertambah, kadang berkurang. Kadang bertemu, kadang berpisah. Namun tidak demikian dengan anakku. Inilah pertama kalinya ia belajar bahwa sedekat apa pun pertemanan, tidak berarti selalu bersama. Ini adalah pelajaran perpisahan pertamanya. Tentang kenyataan bahwa ia dan bestie-nya memiliki kehidupan yang berbeda. Tentang kehilangan yang sementara, dan kelak mungkin yang lebih panjang. Juga tentang menyadari bahwa ia akan tetap aman dan baik-baik saja, dengan atau tanpa bestie di sisinya.

Aku pun mulai membuka percakapan dengannya lewat cerita masa kecilku. Tentang pengalamanku pindah sekolah saat kelas tiga SD. Tentang sedih, takut, dan cemas karena harus meninggalkan teman lama dan masuk ke sekolah baru tanpa mengenal siapa pun. Aku ceritakan detail perasaanku, bagaimana aku menghadapinya, dan bagaimana semuanya akhirnya berlalu. Ia mendengarkan dengan saksama, banyak bertanya tentang teman-temanku dulu. Aku juga bercerita tentang perubahan pertemanan dari SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, hingga sekarang. Bahwa apa yang ia alami adalah hal yang normal. Perubahan bisa datang kapan saja. Sedih, takut, bingung, cemas—itu semua wajar. Tapi tidak akan selamanya begitu. Obrolan sebelum tidur siang itu membuatnya perlahan berdamai. Ia berkata bahwa ia tetap bisa menghubungi Radish meski berjauhan. “Untung sekarang sudah ada HP, nggak kayak zaman mama dulu,” katanya. Ia pun berjanji akan masuk sekolah besok dan tidak menangis di depan gerbang lagi.

Hari Rabu, jadwalnya latihan drumband—kegiatan yang sebenarnya tidak ia sukai karena harus memegang bendera dan membuat tangannya pegal. Aku agak was-was, tapi pagi itu ia tetap berangkat meski matanya sempat berkaca-kaca. Aku mengajaknya berkeliling sebentar dan membelikan kue basah kesukaannya. Hari itu ia berhasil masuk sekolah tanpa tangis. Sepulang sekolah, ia bercerita bahwa teman-teman lain juga seru. Aku memvalidasi bahwa ia baik-baik saja meski tanpa Radish. Ia mengiyakan. Aku pun memujinya—bahwa ia anak yang mudah berteman, berani menyapa, dan disukai banyak teman.

Hari Kamis datang. Katanya, ini hari paling menyebalkan karena pulang lebih lama untuk kegiatan salat berjamaah. Kekhawatiranku bertambah karena sepulang sekolah ada kelas matrikulasi di bakal SD-nya. Di kelas itu, anak-anak berasal dari berbagai TK, dan dari sekolahnya hanya ada dua anak: anakku dan Radish. Sejak malam, ia sudah cemas. Aku memberinya ide untuk berkenalan dengan membawa koleksi stiker. Bermain stiker, lalu menawarkan dan berkenalan. Ia menyukai ide itu. Aku menambahkan tantangan: jika berhasil berkenalan dengan satu anak saja, aku akan membelikannya es krim kesukaannya.

Hari itu berjalan lancar. Tanpa tangisan, tanpa drama. Ia benar-benar mencoba berkenalan dan mendapatkan satu teman baru. Aku sangat bangga. Janjiku pun kutepati.Saat menikmati es krim, aku mengatakan betapa bangganya aku padanya. Rasanya seperti kami baru saja lulus satu ujian bersama. Ujian itu terasa semakin lengkap ketika malam harinya ada pengumuman di grup kelas: besok akan ada outing class bermain layangan di alun-alun kota. Anakku senang sekali. Aku menggoda, “Tapi Radish belum masuk sekolah loh.”

Ia menjawab mantap, “Nggak apa-apa, Ma. Masih ada teman lain. Di sekolah tetap seru. Aku mau masuk sekolah besok. Aku doain aja Radish biar cepat sembuh dan masuk sekolah lagi.”

Aku sungguh lega. Bergumam dalam hati tentang kami yang sama-sama belajar hal baru. Sungguh, menjadi orang tua itu membuat kita terus belajar—tentang anak, dan tentang diri sendiri.

Senin, 12 Januari 2026

Aku Pernah Mengira Sakit Adalah Cara untuk DIcintai

Januari 12, 2026 0 Comments

 

    Waktu kecil, aku merasa momen ketika aku paling disayang adalah saat aku sakit. Sikap orang tuaku berubah: suara menjadi lebih lembut, omelan dan teriakan menghilang, perintah berkurang. Mereka lebih sering bertanya apa yang aku rasakan, bagian mana yang masih sakit, dan apa yang aku butuhkan.

    Saat sakit, aku dibebaskan dari kewajiban sekolah, pekerjaan rumah, dan PR. Aku diberi obat, ditanya ingin makan apa, ingin melakukan apa. Aku didengarkan. Aku diperhatikan. Aku dilihat. Diam-diam, aku senang ketika sakit. Bahkan ada bagian dalam diriku yang berharap sakit itu bertahan lebih lama.

    Ironisnya, sejak kecil aku justru jarang sakit. Rawat inap di rumah sakit hanya sekali seumur hidup—itu pun karena melahirkan. Jika aku mengatakan ingin sakit, tentu akan banyak orang menasihatiku untuk bersyukur, karena di luar sana banyak orang yang ingin sehat sepertiku. Aku paham itu. Aku tidak menyangkalnya. Namun jujur saja, bagiku sakit bukan tentang rasa sakit fisik. Sakit adalah satu-satunya kondisi di mana aku merasa keberadaanku diakui, perasaanku penting, dan aku layak dipedulikan. Seolah hanya ketika tubuhku lemah, aku boleh menjadi manusia yang butuh.

    Pemikiran itu tidak menghilang ketika aku dewasa. Justru semakin terasa sejak aku menjadi istri dan ibu. Aku tetap bisa menjalankan peran—bahkan saat tidak enak badan. Mengurus anak, menyiapkan makanan, menjaga toko, mengurus rumah. Tubuhku tetap bergerak, tanggung jawab tetap berjalan. Mungkin karena itulah, hampir tidak ada yang benar-benar percaya ketika aku berkata aku sedang sakit. Seolah aku baru dianggap benar-benar sakit jika pingsan, diinfus, atau terbaring di rumah sakit.

    Pada satu fase hidupku—saat aku berjuang melawan depresi—aku pernah terpikir untuk membuat diriku mengalami kecelakaan di jalan. Bukan karena aku ingin mati, apalagi benar-benar celaka. Aku hanya ingin dirawat. Ingin berhenti. Ingin ada yang melihat dan berkata, “Kamu tidak apa-apa untuk lemah.”

    Kini aku tahu, pikiran itu bukan kegilaan. Itu adalah jeritan dari kebutuhan yang terlalu lama diabaikan. Entah dulu atau sekarang, meskipun orang-orang di sekitarku berganti dan bertambah, rasanya tetap sama. Keberadaanku terasa otomatis. Usahaku dianggap wajar. Kuatku dianggap kewajiban. Seolah semua yang kulakukan memang seharusnya begitu.

    Hari ini, aku sakit. Hampir seminggu tubuhku belum pulih dari batuk, flu, dan radang tenggorokan. Dan justru di sakit kali ini, aku sampai pada satu kesadaran yang pelan tapi tegas: berharap sakit agar diperhatikan adalah harapan yang sia-sia. Keberadaanku tetap penting, ada ataupun tidak ada yang mengakuinya. Kesehatan fisik dan mentalku tetap berharga, ada ataupun tidak ada yang peduli.

Aku tidak seharusnya menunggu seseorang sadar untuk merawatku.

Sumber : Dok. Pribadi

 Aku berhenti menunggu. Berhenti mencari perhatian dan validasi dari luar. Berhenti berharap ada yang tiba-tiba mengulurkan tangan. Dan yang terpenting, aku berhenti menjadi kuat sendirian.

Aku mulai menempatkan diriku dalam daftar prioritasku sendiri. Aku menunda pekerjaan domestik. Aku mendelegasikan tugas. Aku meliburkan diri dari kewajiban menjaga toko. Aku berkata dengan jujur kepada orang rumah bahwa aku sedang sakit dan butuh istirahat.

Aku pergi ke dokter. Aku meminum obat. Aku membuatkan jamu untuk diriku sendiri. Aku membeli vitamin, buah, bubur ayam, dan memasak sup kaldu—hal-hal yang biasanya kulakukan untuk orang-orang yang kucintai saat mereka sakit.

Kini aku merawat diriku seperti aku merawat orang lain.

Aku tidak akan lagi menunggu runtuh untuk dianggap layak dirawat. Aku tidak perlu sakit untuk pantas disayangi. Mulai sekarang, akulah orang yang akan menjaga, melindungi, dan menyayangi diriku sendiri—

Minggu, 21 Desember 2025

Kisah Lucu dalam Hidup Orang Lain

Desember 21, 2025 2 Comments

 

Hari ini aku ikut jenguk anak teman SMA ku yang dirawat di Rumah Sakit. Aku memang masih rutin menjalin komunikasi dengan beberapa teman SMA ku, sekitar 4 orang itu. Sekadar berbagi kabar, saling menjenguk saat ada yang sakit atau saling mengunjungi saat ada yang menikah atau melahirkan. Ada Yeni, si paling duluan menikah dan anaknya pun sekarang paling tua di antara anak kita, sudah kelas 5 SD. Meski begitu ia masih jadi anak tunggal Yeni yang juga bekerja jadi penjahit. Ada lagi Tina, ia mantan atlet voli yang kini jadi ibu rumah tangga. Anak pertamanya masih kelas 2 SD, anak kedua 3 tahun dan sekarang hamil anak ketiganya. Ada lagi Sinta, ia Sarjana Psikilogi yang juga jadi ibu rumah tangga sepertiku. Anak pertamanya berusia sama dengan anakku, tapi ia sudah punya adik yang jaraknya satu tahun lebih muda. Temanku yang lain bernama Kina, ia guru PNS di luar kota tapi sering pulang kesini, dia lah teman kami yang paling akhir menikah, dan kini sedang mengandung anak pertamanya.

Kebetulan yang kami jenguk itu adalah anak pertama Tina, ia sudah dirawat di RS sekitar 5 hari karena muntah-muntah. Kecuali Kina, yang lainnya bisa datang menjenguk. Setelah puas bertanya tentang kronologis sakit anaknya, kondisi terkininya, dst. Kami pun mengobrol santai saling bertukar cerita. Salah satu topik ceritanya adalah pertanyaan tentang mau lanjut sekolah SD mana anakku dan anak pertama Sinta yang memang sama-sama lulus TK pertengahan tahun depan. Belum sempat aku jawab, Yeni merekomendasikan sekolah MI dekat rumahnya dimana anaknya sekolah. Kebetulan rumah kami berdua memang tidak terpaut jauh. Di sahut oleh Tina yang merekomendasikan sekolah SD negri aja, gratis seperti anak pertamanya. Aku jawab kalau KTP ku masih bukan warga kota ini, dan kalaupun pun urus KTP pindah aku bingung pakai alamat mana karena posisi rumah kami sekarang masih ngontrak. Sedangkan Sinta, ia yang dua bulan lalu cerita mau masukin anak pertamanya di MI dekat rumahnya yang katanya bagus kurikulumnya, lengkap ekskul dan gedungnya besar itu kini ganti rencana akan menyekolahkan anaknya masuk sekolah negri aja. Alasannya adalah karena ada beberapa wali murid julid dan suka memfitnahnya yang juga memasukkan anaknya ke MI tersebut. Intinya, ia gak ingin sering-sering bertemu mereka.

Sebetulnya, aku sudah mendaftarkan anakku ke SD sejak bulan September lalu, ke sekolah SD swasta pilihan kami. Gak kurang dari 8 sekolah yang aku, suami dan anakku datangi langsung. Kami bertanya, mengamati, melihat langsung proses pembelajaran dan beberapa ikut trial class-nya. Nilai-nilai sekolah, kurikulum, biaya pendaftaran, SPP bulanan, ekstrakulikuler, jarak dan karakter sekolah adalah poin-poin yang kami lihat betul-betul dan pertimbangkan. Kalau ada kesempatan, kami sekalian amati juga bagaimana pola interaksi guru dengan murid-muridnya, bagaimana suasana kelasnya, bagaimana cara guru beserta jajarannya menyiapkan acara  dan berinteraksi (saat trial class, mengenalan sekolah, observasi siswa), dst. Sungguh pilihan yang agak sulit bagi kami menentukan sekolah SD ini. Menemukan titik temu  antara nilai-nilai sekolah, karakter dan kebutuhan anak serta bagaimana kapasitas orang tua itu sungguh butuh banyak pertimbangan, diskusi dan kejernihan berpikir. Untunglah aku dan suami satu visi dalam hal ini. Kami tidak ingin menunggu sekolah lanjutan dan kuliah untuk memberikan anak sekolah terbaik versi kami. SD adalah sekolah terlama, 6 tahun. Kelak ia akan melewatkan masa anak-anak hingga masa pra remaja di sekolah ini. Masa dimana ia membangun pondasi awal tentang kecintaan akan proses belajar, kebiasaan-kebiasaan baru, tentang hubungan pertemanan, hubungan dengan guru, dan belajar membangun juga menemukan identitas dan potensi-potensi dirinya. Kami ingin sekali memberikan pondasi awal tersebut dengan baik. Oleh karena itu kami mengusahakannya sebaik mungkin, tanpa keluar dari batas kapasitas kami sebagai orang tuanya. Hingga akhirnya kami putuskan 1 sekolah ini. Sekolah swasta, sekolah Islam, sekolah ini bukan tergolong sekolah mewah, dari segi biaya masuk dan SPP nya masih tergolong standart menengah. Bukan sekolah Internasional, gedungnya pun tidak besar dan siswanya pun tergolong sedikit dibandingkan sekolah swasta sejenis. Tapi kami jatuh suka dengan sekolah ini karena ia mengajarkan tentang keseimbangan belajar agama dengan belajar ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka sediakan 20 ekskul gratis, mendorong siswanya untuk ikut berbagai kompetisi sebagai bagian dari nilai-nilai mereka yang mengakui bahwa kecerdasan setiap anak itu unik dan berbeda, bukan hanya dalam akademik saja. Mereka sering study tour dan mendatangkan native speaker untuk mendorong siswa-siswanya belajar bahasa asing, juga mendekatkan teknologi dalam pembelajarnnya. Sejauh itu dulu yang kami amati, dan tidak kami temukan di 7 sekolah lainnya. Tentang biaya, biaya pendaftaran awalnya memang 2x lipat biaya pendaftaran TK, tapi  SPP bulananya nya 70% lebih murah. Jarak dari rumah pun masih tergolong kurang dari 15 menit. Titik temu inilah jatuh di sekolah ini. Bagiku pribadi, sepertinya tidak ada yang namanya sekolah paling baik paling bagus itu, yang ada adalah sekolah terbaik versi anak dan keluarganya masing-masing, yang hasil pilihan itu tentu saja akan berbeda. Selama orang tua mempertimbangkan nilai-nilai yang selaras diajarkan di keluarga maupun di sekolah + kebutuhan dan karakter anak + kapasitas orang tua baik secara uang maupun jarak. Menurutku itu akan menjadi pilihan yang “sehat” dan versi terbaiknya.

Lanjut tentang pecakapan dengan teman-temanku tadi. Giliranku, mereka tidak percaya kalau aku belum mendaftarkan anakku ke sekolah manapun. Wajar saja karena ini sudah pertengahan semester dan sekolah swasta sudah membuak pendaftaran siswa baru sejak September. Aku pun akhirnya menjawab dan menyebutkan pilihan sekolah anakku tadi. Tentu saja aku tak merinci alasan memilih sekolah tersebut yang sangat panjang itu. Bahkan cenderung menjawabnya dengan guyonan, kalau aku dan ayahnya memang agak ‘bonek’ dalam milih sekolah anak. Karena aku tahu bagi mereka akan menganggapnya begitu. Benar saja, respon otomatis dari mereka saat mendengar jawabanku adalah “isok kebayar a di sekolahno kono iku” (bisa kebayar kah di sekolahin sana itu?) disertai tertawaan bersama. Di sahuti lagi dengan aneka komentar mereka.


akh kabeh sekolah iku podo ae” (akh semua sekolah itu sama saja),

enakkan sekolah negri, gratis”,

sing penting iku sekolah e cidek omah” (yang penting itu sekolahnya dekat rumah),

koncoku anak e sekolah kono loh, apik tapi yo kewalahan bayar-bayar e akeh” (temanku anaknya sekolah sana, bagus tapi ya kewalahan bayar-bayarnya banyak”,

bayar uang pangkal e akeh loh” (bayar uang pangkalnya banyak loh),

wajar rek, karna anak e sek siji, makane jor-jor-an” (wajar anaknya baru satu, makanya gak sayang keluarin uang banyak) dan seterusnya.

 

Sebetulnya aku antara kaget dan tidak kaget dengan respon mereka. Bagi mereka, melihatku yang termasuk kaum mendang mending yang masih ngontrak ini sungguh lucu memilih keputusan menyekolahkan anak di sekolah swasta itu. Tapi aku tetap saja merasa dongkol juga mendengar komentar bernada meremehkan tersebut. Meski aku hanya diam dan ikut tersenyum masam, sebenarnya aku tersinggung, harga diriku rasanya terganggu, pilihanku pun rasanya di salahkan. Aku dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan mereka. Untung saja hari ini, anakku jadwalnya pulang lebih cepat, jadi ada alasan pamit pulang lebih dulu. Tentu saja pulang dengan rasa dongkol, campur sedih, dan marah.

Sepanjang perjalanan naik motor jemput anakku, aku masih dengan pikiran dan emosi yang sama. Tapi sesampainya dirumah rasanya terbersit bahwa, “bukankah setiap orang bisa jadi kisah lucu bagi orang lainnya”, dan aku pun mengamini itu, “akh ya benar juga ya”. Seperti halnya teman-temanku itu. Bagi mereka keputusanku menyekolahkan anakku di sekolah SD swasta adalah hal lucu. Aku pikir lagi, bukankah tiap-tiap mereka juga jadi kisah yang lucu bagiku. Seperti keputusan Tina untuk hamil lagi anak ke-3, disaat anak keduanya saja bahkan belum lepas popok. Ditambah anak pertamanya yang kebetulan butuh perhatian ekstra karena berkebutuhan khusus. Bagiku yang pernah tahu rasanya baby blues dan postpatrum depression, membayangkannya saja sudah angkat tangan. Bukankah menambah anak akan membuatnya bertambah pusing, bertambah capek, dan bertambah pengeluaran. Tak kalah lucu lagi adalah kisah Yeni, dari ceritanya, ia memutuskan bertahan dalam pernikahan dengan suaminya yang kurang memberi nafkah dan tidak banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Mungkin kalau aku ada di posisinya, sudah lama aku tinggalkan saja suami model begitu. Sinta juga menurutku lucu. Sebelumnya ia sangat menggebu-gebu mempromosikan betapa bagusnya sekolah MI yang akan jadi bakal sekolah anak pertamanya itu. Tapi kini tiba-tiba berubah karena alasan yang bagiku lucu, yakni karena ada ibu-ibu julid yang anaknya daftar sekolah disana juga. Sayang sekali anaknya gak jadi merasakan sekolah yang bagus tersebut karena perkara ibu-ibunya. Padahal ibunya gak tiap hari ketemu dengan ibu-ibu julid tadi setiap hari.  Begitulah sekiranya penilaian-penilaian yang muncul dari kedangkalan berpikir, informasi yang parsial, dan menilai sesuatu hanya dari sudut pandang sendiri. Jadinya terlihat lucu, bukan?!. Mungkin saja bagi Tina, menambah anak adalah menambah kebahagian. Apalagi 2 anak sebelumnya adalah laki-laki, dan hamil kali ini ia mengandung anak perempuan. Mungkin juga bagi Yeni, bertahan dalam pernikahan itu adalah bentuk cinta tulusnya dan pengharapan. Mungkin pula bagi Sinta, kewarasannya lebih prioritas daripada sekolah MI bagus itu, toh masih ada sekolah bagus lainnya. Mungkin saja benar, mungkin juga salah, mungkin sebagian benar dan sebagian lagi salah. Kita tak pernah benar-benar memahami sudut pandang orang lain sebelum mencoba berjalan dengan sepatunya.

Gambar :  Arsip Pribadi

 Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hidup memang tidak pernah lepas dari penilaian, dan setiap orang bisa menjadi kisah lucu bagi orang lain. Keputusan yang diambil dengan pertimbangan panjang bisa tampak berlebihan dari luar, sementara pilihan yang terlihat sederhana sering kali adalah cara seseorang menjaga kewarasannya. Aku tak perlu dipahami semua orang untuk merasa benar dalam hidupku, sebagaimana aku pun tak pernah benar-benar memahami hidup orang lain sepenuhnya. Barangkali disinilah kedewasaan dimulai, ketika aku berhenti sibuk menjelaskan hidupku kepada orang lain, berhenti membandingkan jalan yang kupilih dengan jalan mereka, dan mulai menerima bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan komentar orang lain sebagai penentu harga diriku, karena hidup ini bukan panggung pembenaran, melainkan ruang untuk bertumbuh dan bertahan dengan versi kewarasan masing-masing.

 

 

Rabu, 26 November 2025

Selamat Ulang Tahun, Nak!

November 26, 2025 0 Comments

 

Bulan ini putriku berulang tahun, dan kebetulan hari ini ada notifikasi dari Google Photos yang berisi memori foto-fotonya bahkan sebelum ia lahir. Aku jadi ikut flashback ke masa-masa tersebut, wah ternyata sudah 6 tahun berlalu sejak ia hadir di duniaku. Padahal setiap hari rasanya panjang dan lama sekali, tapi ternyata tahun berganti bagai kedipan mata. Rasanya baru kemarin aku lihat dia keluar dari perutku dengan muka merahnya yang belum ada alis itu menangis kencang. Karena hobi minum ASI pipinya jadi bulat gembil dengan otot tangan menyerupai roti sobek, lucu sekali. Ia punya bau khas bayi yang bikin candu kalau menciumnya. Sekarang bau khas bayi dan muka bayinya itu sudah hilang, wajahnya berubah jadi wajah anak-anak, si lucu itu pun berubah jadi si cantik. Ia hadir membawa banyak kebahagiaan beserta banyak kekhawatiran sebagai ibu baru. Dulu, aku pikir masa-masa newborn adalah yang paling sulit, ternyata fase growth spurt lebih dar der dor. Lanjut fase MPASI yang penuh drama, sambil belajar bicara, belajar merangkak, belajar duduk, dan belajar berjalan. Santai sedikit harus mulai belajar toilet training dan disapih ASI. Kemudian disambut fase toodler dengan segala tingkah ajaib dan emosinya yang meledak-ledak.  Lanjut belajar hal yang lebih kompleks, berteman, bersekolah, mengelola emosinya, berkonflik, mengenal batasan boleh tidak boleh aman bahaya baik tidak baik, dst.

Sungguh ia memaksaku banyak belajar  banyak hal. Tapi ternyata masa-masa sulit itu bisa juga terlewati meski sambil terkena depresi. Hahaaa~ (it’s a dark jokes). Dulu sepertinya aku memang tidak sadar mendedikasikan 100% diriku untuk anak, sampai lupa hal lainnya bahkan diriku sendiri. Waktu dan tenagaku menyesuaikan jam biologis dan kebutuhan dia. Topik belajarku dari berbagai webinar, kulwapp, youtube maupun buku isinya tentang tumbuh kembang, kesehatan, MPASI, parenting, dll, intinya semua tentang anak. Setiap hari isinya mikir tentang stimulasi apa lagi hari ini, ada kesempatan belajar apa lagi nih buat dia, butuh ekplorasi apa lagi ya, harus pergi kemana lagi ya, dst. Ia bukan hanya jadi prioritas, tapi jadi pusat duniaku. Tempat berpusatnya waktu, tenaga, uang dan perhatian. Ada cerita lucu, setelah anakku berusia sekitar 8 atau 9 bulan, mamaku datang berkunjung, lalu ia mencari keberadaan sisir dan cermin, yang baru aku sadari kalo gak ada 2 benda itu di rumah ini. Ia terheran-heran bagamana bisa gak ada sisir dan cermin di rumah, terus gimana selama ini dandan atau sekadar menyiris rambut. Dari situ aku sadar akh iya ya, selama ini aku hanya peduli anakku, sampai lupa peduli diri sendiri. Gak heran aku bisa terkena depresi dan harus berobat selama lebih dari 3 tahun.

Meski begitu semuanya pada akhirnya terlewati, kini aku sembuh dari depresi dan anakku tumbuh dengan baik. Aku hampir tak punya penyesalan apapun tentang usahaku menemani tumbuh kembangnya selama 6 tahun ke belakang. Anak yang dulu cukup di letakkan diatas bantal itu, sekarang tingginya setara perutku. Anak yang dulu mengoceh ‘ma-ma, bo-a, da-da,’ itu sekarang sudah jadi lawan debat dan bisa diajak ngobrol banyak hal. Anak yang dulu makan belepotan harus disuapi dan sering mengompol itu kini bis.a makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri dan berdandan sendiri. Anak yang dulu selalu ikut dan nempel kemana pun aku pergi, minggu lalu baru saja ikut kegiatan sekolahnya outbond ke luar kota sendirian. Anak yang dulu sering aku bacakan buku cerita sebelum tidur itu, kemarin bisa gantian membacakan aku 1 buku cerita meski masih terbata-bata. Anak yang dulu sering tantrum dengan tangisan khasnya yang melengking  itu sekarang sudah bisa memelukku saat aku sedih, sudah bisa manawariku pijat saat aku mengeluh kecapekkan. Anak yang dulu pemalu saat bertemu orang baru itu, kini sudah punya banyak bestie dan berani tampil menari di acara pentas sekolahnya. Hmmm, rasanya dadaku penuh haru dan bangga. Good Job anakku, Good Job juga diriku!

Sekarang ia terasa lebih seperti sosok sahabat di bandingkan sebegai sosok anak. Ia mulai lebih melihat apa yang aku lakukan dibandingkan sekadar yang aku katakan sekalipun itu benar dan logis. Ia lebih peka dan memperhatikan detil gerak gerik dan perkataanku. Ia juga mengikuti kebiasaanku sehari-hari. Ia mulai paham makna interaksi dan komunikasiku dengan orang lain. Ia mulai menyadari emosiku dan ikut merasakan vibes-nya. Aku benar-benar menjadi influencer yang utama baginya untuk saat ini. Sedikit terasa sebagai beban, seperti meletakkan batu fondasi untuk membangun sebuah rumah. Dulu saat bulan Ramadhan aku batal puasa tengah hari karena tidak kuat, aku makan dan minum di hadapannya, dan tidak ada masalah. Tapi sekarang aku gak bisa bersikap begitu lagi, Ramadhan tahun lalu saja ia mulai tahu kalau ini bulan puasa, puasa itu tidak makan dan minum sampai adzan Maghrib tiba. Saat ia lihat aku makan dan minum di siang hari, ia bertanya kenapa mama makan padahal puasa. Hari itu aku berbohong dengan bilang kalau aku sedang berhalangan, padahal sebetulnya aku gak kuat nahan lapar dan haus. Aku menyesal sudah berbohong, tapi aku benar-benar gak mau dia meniruku, yang saat itu kalah dan gampang menyerah dalam berpuasa. Sejak hari itu aku bertekad menjalani puasa dengan benar.

Perlahan tapi pasti anakku “memaksaku berbenah diri”, dalam semua aspek kehidupan, baik yang terlihat maupun yang tidak.  Aku pikir semua ibu pun pasti ingin anakknya adalah versi lebih baik darinya dalam segi apapun. Aku pun sedang mengupayakan hal itu. Mulai dari hal yang paling mendasar seperti beribadah, dulu aku bukan hanya rajin sholat wajib, tapi juga sholat sunnah, puasa penuh selama Ramadhan, puasa weton, pintar mengaji, dan rajin ikut kajian. Tapi semua itu hilang dan lupa saat aku dewasa, banyak yang tak lagi aku lakukan. Ternyata aku dulu beribadah karena takut, takut Allah, takut dosa, takut neraka, takut azab, takut di omelin mama dan bapak, takut di cap anak nakal, dan takut jadi bahan gunjingan tetangga satu desa. Dulu aku rajin beribadah karena aku akan di puji “Restu itu anak sholehah, anak baik, anak pintar” oleh mama bapak dan orang-orang sekitar. Mereka sayang kepadaku saat aku menuruti mereka dan sebaliknya. Satu lagi, aku ingin mereka bangga terhadapku. Saat ini, aku gak ingin itu terjadi berulang ke anakku. Aku ingin dia beribadah secara sadar, bukan hanya tahu nilai penting atau manfaat sholat, puasa, zakat, mengaji dan ibadah lainnya. Tapi karena ia menyukai melakukan hal-hal tersebut. Bukan terdorong oleh rasa takut tapi karena menemukan rasa tenang. Ritual ibadah bukanlah perlombaan, bukan bahan pamer, bukan alat ukur seberapa “baik” dirimu, juga bukan prasyarat kelayakan mendapat kasih sayang dari orang tua. Bukan hanya beribadah saat kecil saja, yang memang masih gencar-gencarnya di ajarkan di sekolah, di tempat mengaji maupun di rumah. Tapi kelak ia ‘bawa’ sampai dewasa, dengan atau tanpa pengawasan dan perhatian manusia lain. Namun semuanya ini sepertinya bisa terwujud dengan syarat aku pun melakukan hal yang sama. Aku sendiri harus selesai dengan trauma religiku dan mulai beribadah sebagaimana yang aku ingin anakku beribadah.

Lihat!, baru satu aspek saja PR-nya sudah sedemikian banyak. Mungkin beginilah artinya ‘memutus rantai trauma antar generasi’. Dalam hal uang juga, aku ingin sekali memutus rantai trauma finansial yang aku punya. Aku dan papanya sama-sama terbiasa hidup dalam kemiskinan.  Terbiasa hidup sekadar bertahan hidup dan selalu takut kekurangan. Terbiasa mendengar bahkan meyakini kalimat-kalimat seperti ini, “cari uang itu susah”, “nanti gak cukup”, “orang kaya itu banyak masalah, sombong, berlebihan, jahat, banyak tanggungjawabnya”, “uang gak bisa membeli kebahagiaan”, “uang gak dibawa mati”, “gak bakal bisa punya barang mahal ini kalau gak kredit / ikut arisan”, “beginilah nasib kita sebagai orang kecil (baca:miskin)”. Dari kecil, aku melihat orang tuaku kerja keras bekerja, sangat keras sampai-sampai aku merasa mereka hidup hanya untuk beribadah dan bekerja saja. Tak pernah ada liburan dan jalan-jalan sekeluarga atau sekadar makan bersama di warung makan, bahkan bisa terhitung jari berapa kali kami beli makan di luar. Hari libur kami adalah kerja bakti beres-beres rumah atau pergi merawat kebun. Lauk sehari-hari kami yang didonimasi ikan asin dan sayuran dari kebun atau sesekali tahu tempe, bisa makan telor 1 butir dibagi untuk 4 orang, beli baju hanya saat lebaran, makan daging sapi harus ikut arisan setahun, makan daging ayam harus menyembelih ayam peliharaan dulu. Dibalik semua itu aku tahu semuanya adalah usaha terbaik orang tuaku saat itu, hasil dari kerja keras mereka tanpa kenal lelah, bahkan hingga sekarang. Aku sungguh berterimakasih dan bersyukur memiliki orang tua yang memiliki daya juang dan cinta yang demikian besar untuk keluarga. Aku akan meneladani hal-hal baiknya, tapi juga mengoreksi, menambahkan, mengurangi dan membuang hal selainnya.

Untuk anakku, aku ingin dia punya pemikiran, sikap, rasa, dan takdir yang berbeda dari kami orang tuanya. Aku ingin ia mengerti bahwa untuk mendapatkan uang memang butuh kerja keras, tapi bisa juga dengan cara kerja cerdas, kreatifitas, memanfaatkan peluang atau fokus belajar satu bidang sampai jadi ahli. Bisa memandang uang dengan lebih netral, bukan sumber masalah tapi juga bukan segalanya. Kelak aku ingin hubungan dia dengan uang bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan dan bertahan hidup, melainkan juga untuk bertumbuh, untuk merawat, dan untuk berbuat kebaikan. Merasa layak mendapatkan uang, merasa aman memilikinya dan menggunakannya dengan penuh kesadaran.  Bukan sekadar berharap dia memiliki kehidupan yang berkelimpahan, tapi berharap ia memiliki hubungan yang sehat dengan uang, dalam mendapatkannya ia mengerahkan segenap potensi dan usaha terbaiknya tanpa harus mengorbankan diri, tanpa perlu menyakiti sesama juga alam, dan tanpa perlu menjauhkannya dari nilai-nilai kebaikan dan Tuhan.  Lagi-lagi semua harapan ini memungkinkan terwujud bila aku sendiri mampu memberi contoh sikap yang konsisten, baik dalam hal berpikir, merasa maupun sikap dalam mendapatkan, mengelola, dan membelanjakan uang. Sebetulnya ini agak sulit bagiku, rasanya seperti “learn and unlearn” di saat yang bersamaan, yang artinya aku harus belajar hal baru sambil melepaskan pola lama yang sudah tidak cocok. Padahal pola lama ini sudah berlangsung lebih dari 30 tahun, turun temurun di ajarkan, dan sudah tersimpan dalam bentuk respon tubuh. Tapi mungkin pola lama tentang uang ini harus berhenti di aku. Rasanya seperti aku gak punya pilihan lain selain berubah jika tak ingin mewariskan pola lama dan kemiskinan ini pada anakku. Tapi sebetulnya aku sendiri pun penasaran, apakah jika aku benar-benar berhasil keluar dari pola lama lalu belajar memiliki hubungan sehat dengan uang, akahkah aku pun keluar dari kemiskinan turun temurun ini.

Sepertinya dalam semua aspek pun begitu, di dorong hingga batas akhir sampai rasanya tak punya pilihan lain selain berubah. Apalagi aku adalah penyintas depresi dan sampai hari ini aku masih belajar merawat kesehatan mentalku. Aku masih belajar  memproses satu per satu trauma pengasuhan, belajar berhenti menjadi people pleasure, belajar mengenal dan mencintai diri sendiri, belajar merasa aman, merasa layak, dan berharga, belajar berdamai dengan anxiety dan keluar dari survival mode on, belajar memiliki batasan yang sehat, dan belajar menjadi support system yang baik untuk diri sendiri. Aku ingin anakku mendapatkan versi diriku yang sudah sembuh dan versi terbaik diriku.

Begitupun dalam hal kebiasaan lainnya. Aku ingin dia punya kebiasaan hidup sehat dan suka olahraga, punya pola hidup bersih, punya kebiasaan membaca dan menyukai buku, menyukai belajar, memelihara kuriositas dan berpikir kristisnya, akrab dengan alam, mindful dalam memilih makanan dan minuman yang  ia konsumsi, bisa bersabar, tekun dan disiplin dalam berproses, dll. Intinya besar harapan kelak ia bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dalam berbagai aspek. Dan semua itu harus berawal dari aku, ibunya, orang tuanya yang memberikan fondasi dan (seharusnya) memberikan teladan juga. Aku yang  saat fase ‘parah-parahnya’ depresi pernah punya keinginan mengakhiri hidup ini, kini setiap hari berdoa untuk mohon diberikan umur yang panjang, mohon dimampukan secara fisik, secara mental dan finansial dalam menjaga merawat dan mendidik titipanNya ini, anak. 

Dear gadis kecilku..., hadirmu memang menguras waktu, tubuh, emosi, fokus dan tenaga mama (oh dan juga uang). Kadang rasanya melelahkan, kadang mama pun kesulitan, kadang gak tahu harus bagaimana, bahkan sempat hilang arah. Tapi suka duka perjalanan membersamaimu pun tak kalah menakjubkan. Kamu seperti lahir untuk jadi obat kesendirian mama. Kadang mama merasa saat mengasuhmu, mama sedang mengasuh ‘anak kecil dalam diri mama’ juga. Memberimu pelukan, ciuman, meminta maaf, berterimakasih, memberitahumu betapa sayang dan berharganya kamu, semua itu sungguh seperti memberikan hal-hal yang sejak kecil mama rindukan. Lalu perlahan menyembuhkan ‘anak kecil dalam diri mama’ itu. Satu lagi, tahukah gak kalau kamu pernah menyelamatkan hidup mama. Kamu jadi alasan mama bertahan hidup, lalu kini jadi alasan mama ingin menjalani hidup lebih baik dan ingin menjadi versi terbaik mama. Betul, mama tahu kalau kamu hanya sebuah ‘titipanNya’, yang bisa kapan saja diambil kembali, kamu bukan milik mama. Maka dari itu mama banyak memohon dan berdoa, semoga Allah berkenan dan berbaik hati membiarkanmu bersama sama sampai mama tua dan memberikan mama kekuatan fisik dan mental yang baik, memberikan kecukupan ilmu dan rejeki berlimpah untuk bisa membersamaimu, dalam sebaik-baiknya usaha mama sampai waktu mama selesai. Amin Allahuma Amin. Selamat ulang tahun Nak.

 

Dokumentasi Pribadi