Ujian Pertemanan Pertama: Catatan Seorang Ibu
Tiga hari ini aku dibuat pusing oleh tingkah anakku yang mendadak
ingin mogok sekolah. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, dan kali ini
alasannya adalah karena bestie-nya absen sekolah karena sakit. Bestie-nya,
sebut saja namanya Radish, harus menjalani operasi amandel di Blitar dan tentu
saja membutuhkan waktu pemulihan sebelum bisa kembali bersekolah. Karena
operasinya dilakukan di luar kota, kemungkinan Radish baru bisa masuk sekolah
lagi setelah lebih dari seminggu. Aku dan papanya sebenarnya tipikal orang tua
yang cukup santai dalam urusan sekolah. Tapi membayangkan anak ingin bolos
sekolah sekitar tujuh hari hanya karena bestie-nya tidak masuk sekolah
terdengar agak tidak masuk akal.
Sepengamatanku,
anakku terlihat baik-baik saja dalam hal berteman. Ia memang agak pemalu di
awal, tapi cukup bisa berinisiatif mengajak bermain atau mengobrol. Pendiam di
awal, namun akan jauh lebih nyaman jika sudah akrab. Tipikal anak yang
ngrapyak. Dari tiga kelas yang ada di TK B, hampir semuanya ia kenal, terutama yang
perempuan. Ia juga kerap bermain dengan anak TK A dan beberapa adik PAUD di
sekolah yang sama. Namun, ia memang seperti memiliki layer pertemanan. Ada yang
sekadar kenalan, teman biasa, teman dekat, dan di lapisan terakhir ada
bestie—yang jumlahnya hanya satu atau dua orang. Dan lapisan bestie ini terasa
sangat “deep” dan intens. Sejauh ini aku masih menganggapnya sebagai hal yang
wajar.
Awalnya aku
mendapat kabar dari ibunya Radish, lalu menyampaikannya pada anakku. Responsnya
langsung menangis dan meminta libur sekolah keesokan harinya. Padahal, ini
bukan pertama kalinya terjadi. Bulan lalu, saat Radish sakit selama empat hari,
anakku juga terus mengeluh tidak bahagia di sekolah dan ingin libur sampai
Radish sembuh. Saat itu aku mengajaknya menjenguk Radish ke rumahnya, dengan
kesepakatan bahwa ia tidak boleh mogok sekolah lagi dengan alasan serupa. Aku
menjelaskan panjang lebar bahwa perilaku tersebut tidak tepat. Ia sepakat dan
berjanji tidak mengulanginya. Karena itulah, kali ini aku merespons dengan
sikap yang cukup tegas dan mengingatkannya kembali pada janjinya.
Hari Senin, ia
bangun lebih awal, tetapi enggan beranjak dari kasur. Hampir satu jam aku
mengobrol dengannya. Kali ini aku menggunakan nada bicara selembut mungkin
sambil menatap matanya. Aku berusaha memahami sudut pandang dan perasaannya. Ia
mengatakan bahwa ia sedih karena Radish tidak ada, takut tidak punya teman
bermain, khawatir tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak ingin merasa
kesepian dan sendirian. Aku mendengarkan semuanya dengan saksama. Berusaha
se-empati mungkin, meskipun alasan-alasan itu terdengar tidak masuk akal
bagiku. Karena selama ini pun ia bermain dengan banyak anak lain selain Radish.
Teman-temannya tersebar di berbagai kelas, baik perempuan maupun laki-laki.
Akhirnya aku
tetap mengarahkannya untuk masuk sekolah hari itu. Kebetulan, kegiatan sekolah
adalah pawai keliling kampung dalam rangka Isra Mi’raj, jadi tidak ada
pelajaran dan pulang lebih cepat. Aku mengantarnya sampai halaman sekolah.
Teman-temannya sudah berbaris siap pawai. Setelah melihatnya mengobrol dengan
beberapa temannya, aku pun berbalik untuk pulang. Tiba-tiba ia berlari
menyusulku sambil menangis tersedu-sedu. Aku memeluknya, sambil berpikir, “Ah,
ya sudahlah, pulang saja.” Untungnya, guru kelasnya menghampiri dan mengajaknya
tetap sekolah dengan iming-iming membawa payung hias. Sepulang sekolah, aku
meminta ia bercerita tentang pawainya. Katanya seru meski capek dan panas. Ia
bermain lempar botol dengan Razka, makan bersama Kia, dan ikut pawai dengan
anak TK A. Singkatnya, ia senang bersekolah seperti biasanya. Aku mengevaluasi
hari itu. Meski akhirnya ia masuk sekolah, rasanya itu berat baginya—dan jujur
saja, melelahkan bagiku juga.
Keesokan harinya,
aku memilih pendekatan berbeda. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan marah atau
mengomel jika ia memilih tidak sekolah. Ia bebas memilih, tapi harus memahami
konsekuensinya. Jika di rumah, tidak ada gawai, TV, atau laptop. Aku juga tidak
bisa menemaninya bermain karena harus fokus bekerja sampai siang. Ia bahkan
harus ikut menjaga toko dan tidak bisa bermain dengan kucingnya. Sebaliknya,
jika sekolah, ia bisa bermain dan berkegiatan bersama guru dan teman-temannya. Aku
menyampaikannya se-netral mungkin, berharap ia memilih dengan sadar. Ia
berpikir cukup lama, lalu memutuskan ingin di rumah saja sampai Radish masuk
sekolah lagi. “Oke,” kataku. Tak lama kemudian, ia berubah pikiran. “Ya udah
deh, aku masuk sekolah aja. Nggak seru di rumah, nggak boleh lihat HP, mama
juga nggak bisa diajak main.” Keputusan itu benar-benar ia jalani. Aku
mengantarnya ke sekolah. Namun, sesaat setelah turun dari motor di depan
gerbang, ia kembali menangis. Ia menyesali pilihannya dan ingin pulang.
Katanya, ia bisa main slime dan bikin kreasi seharian supaya tidak bosan. Aku
memeluknya, speechless, sambil bergumam dalam hati, “Astaga, sampai kapan
begini terus?” Syukurlah, seorang guru melihatnya dan segera mengajaknya masuk
kelas. Dengan langkah berat dan air mata yang masih mengalir, ia tetap berjalan
menuju kelas.
Sesampainya di
rumah, aku seperti mengalami déjà vu. Adegan menangis di gerbang sekolah ini
dulu sering terjadi saat ia baru masuk PAUD di usia tiga tahun. Dan baru kali
ini terulang lagi. Aku bingung dan frustrasi. Hingga akhirnya aku menyadari:
ini bukan hanya hal baru bagiku, tapi juga bagi anakku. Dan sama-sama terasa
berat. Aku yang dewasa tentu sudah paham dinamika pertemanan—bahwa teman datang
dan pergi, silih berganti. Kadang bertambah, kadang berkurang. Kadang bertemu,
kadang berpisah. Namun tidak demikian dengan anakku. Inilah pertama kalinya ia
belajar bahwa sedekat apa pun pertemanan, tidak berarti selalu bersama. Ini
adalah pelajaran perpisahan pertamanya. Tentang kenyataan bahwa ia dan
bestie-nya memiliki kehidupan yang berbeda. Tentang kehilangan yang sementara,
dan kelak mungkin yang lebih panjang. Juga tentang menyadari bahwa ia akan
tetap aman dan baik-baik saja, dengan atau tanpa bestie di sisinya.
Aku pun mulai
membuka percakapan dengannya lewat cerita masa kecilku. Tentang pengalamanku
pindah sekolah saat kelas tiga SD. Tentang sedih, takut, dan cemas karena harus
meninggalkan teman lama dan masuk ke sekolah baru tanpa mengenal siapa pun. Aku
ceritakan detail perasaanku, bagaimana aku menghadapinya, dan bagaimana
semuanya akhirnya berlalu. Ia mendengarkan dengan saksama, banyak bertanya
tentang teman-temanku dulu. Aku juga bercerita tentang perubahan pertemanan
dari SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, hingga sekarang. Bahwa apa yang ia alami
adalah hal yang normal. Perubahan bisa datang kapan saja. Sedih, takut,
bingung, cemas—itu semua wajar. Tapi tidak akan selamanya begitu. Obrolan
sebelum tidur siang itu membuatnya perlahan berdamai. Ia berkata bahwa ia tetap
bisa menghubungi Radish meski berjauhan. “Untung sekarang sudah ada HP, nggak
kayak zaman mama dulu,” katanya. Ia pun berjanji akan masuk sekolah besok dan
tidak menangis di depan gerbang lagi.
Hari Rabu, jadwalnya latihan drumband—kegiatan yang sebenarnya tidak ia sukai karena harus memegang bendera dan membuat tangannya pegal. Aku agak was-was, tapi pagi itu ia tetap berangkat meski matanya sempat berkaca-kaca. Aku mengajaknya berkeliling sebentar dan membelikan kue basah kesukaannya. Hari itu ia berhasil masuk sekolah tanpa tangis. Sepulang sekolah, ia bercerita bahwa teman-teman lain juga seru. Aku memvalidasi bahwa ia baik-baik saja meski tanpa Radish. Ia mengiyakan. Aku pun memujinya—bahwa ia anak yang mudah berteman, berani menyapa, dan disukai banyak teman.
Hari Kamis
datang. Katanya, ini hari paling menyebalkan karena pulang lebih lama untuk
kegiatan salat berjamaah. Kekhawatiranku bertambah karena sepulang sekolah ada
kelas matrikulasi di bakal SD-nya. Di kelas itu, anak-anak berasal dari
berbagai TK, dan dari sekolahnya hanya ada dua anak: anakku dan Radish. Sejak
malam, ia sudah cemas. Aku memberinya ide untuk berkenalan dengan membawa
koleksi stiker. Bermain stiker, lalu menawarkan dan berkenalan. Ia menyukai ide
itu. Aku menambahkan tantangan: jika berhasil berkenalan dengan satu anak saja,
aku akan membelikannya es krim kesukaannya.
Hari itu berjalan
lancar. Tanpa tangisan, tanpa drama. Ia benar-benar mencoba berkenalan dan
mendapatkan satu teman baru. Aku sangat bangga. Janjiku pun kutepati.Saat
menikmati es krim, aku mengatakan betapa bangganya aku padanya. Rasanya seperti
kami baru saja lulus satu ujian bersama. Ujian itu terasa semakin lengkap
ketika malam harinya ada pengumuman di grup kelas: besok akan ada outing class
bermain layangan di alun-alun kota. Anakku senang sekali. Aku menggoda, “Tapi
Radish belum masuk sekolah loh.”
Ia menjawab
mantap, “Nggak apa-apa, Ma. Masih ada teman lain. Di sekolah tetap seru. Aku
mau masuk sekolah besok. Aku doain aja Radish biar cepat sembuh dan masuk
sekolah lagi.”
Aku sungguh lega. Bergumam dalam hati tentang kami yang sama-sama belajar hal baru. Sungguh, menjadi orang tua itu membuat kita terus belajar—tentang anak, dan tentang diri sendiri.






