Kamis, 22 Oktober 2026

Pelajaran Tentang Bersyukur

Oktober 22, 2026 0 Comments


Renungan ini lahir dari kekesalanku terhadap anakku yang selalu merengek minta mampir ke warung atau minimarket setiap kali dijemput pulang sekolah. Dan aku hampir selalu menuruti permintaannya tersebut. Masalahnya, karena memang lapar, ia sering kali kalap membeli jajanan. Wajar juga, sih. Ia menghabiskan waktu sekitar 6–8 jam di sekolah. Saat mampir ke warung atau minimarket, ia mengambil banyak makanan dan minuman yang sering kali berlebihan, terlalu banyak, dan di luar anggaran jajan hariannya.

Aku sungguh berusaha keras untuk bersikap tegas sesuai aturan dan kesepakatan tentang anggaran jajannya. Caranya dengan memberinya pilihan, membatasi pilihannya menjadi dua atau tiga jajanan, membiarkannya memutuskan, serta mengajaknya mengurangi atau mengganti pilihan-pilihan tersebut. Kadang, cara itu efektif dan bisa ia terima. Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini ia lebih sering mengeluh karena tidak berhasil membawa pulang semua jajanan pilihannya. Beberapa kali ia pulang dengan wajah cemberut dan terlihat dongkol, pundung, atau nggondok, meskipun aku sudah membelikannya tiga jajanan pilihannya. Ia kesal karena sebenarnya ingin membawa lebih banyak dari itu.

Tentu saja, aku ikut kesal melihat sikapnya tersebut. Bukankah aku sudah menuruti permintaannya untuk membeli jajanan? Bukankah sudah ada kesepakatan tentang batas maksimal anggaran jajan hariannya? Aku pun sudah memberinya kebebasan memilih, asalkan tetap sesuai anggaran. Tentu saja aku berharap ia senang. Namun, kenyataannya, ia justru kecewa, cemberut, dan merajuk. Rasanya, ah, tahu begitu, tidak kubelikan sekalian saja.

Entah bagaimana, sikap yang sebenarnya normal dan wajar bagi anak kecil itu justru menyentil diriku sendiri. Mengingatkanku pada kutipan Al-Qur'an dalam Surah Ibrahim ayat 7 (QS. Ibrahim: 14:7), yang berbunyi:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

Rasanya, aku baru memahami rasanya ayat tersebut melalui perilaku anakku. Ketika aku sudah memberikan apa yang ia inginkan, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginannya, tetapi ia justru cemberut, merajuk, dan kurang bersyukur, aku merasa kesal. Sedikit banyak, aku bahkan menyesal. Tahu begitu, tidak kuberikan sekalian saja. Sebaliknya, ketika responsnya penuh rasa syukur, berterima kasih, dan senang, meskipun pemberiannya sama, aku justru merasa sedikit sedih dan menyesal karena tidak bisa memenuhi seluruh keinginannya. Lalu, aku berjanji dalam hati bahwa lain kali akan kuberikan lebih banyak lagi.

Wah, begitukah maksud Allah?


Malam harinya, saat akan tidur, aku mengajaknya mengobrol tentang sikapnya tadi. Aku mendengarkan ceritanya, yang ternyata memang merasa kecewa dan kesal karena aku tidak menuruti semua keinginannya. Aku mencoba memvalidasi perasaannya, lalu menceritakan versiku juga. Aku bercerita bahwa sebenarnya aku pun sama seperti dia. Aku ingin punya rumah sendiri, rumah yang memiliki plafon, tidak seperti rumah kontrakan kami sekarang. Aku ingin punya mobil supaya bisa mengantarnya ke sekolah tanpa kepanasan dan kehujanan. Aku juga ingin sekali mengganti gawaiku yang tombol daya hidup-matinya sudah rusak dan memorinya penuh ini.

Dengan polosnya, anakku mengiyakan. Ia juga ingin pindah ke rumah yang kalau hujan, yang basah hanya bagian luar rumah, sedangkan bagian dalamnya tetap kering dan aman. Ia juga ingin punya mobil berwarna merah muda. Ah, dan punya gawai baru juga merupakan ide bagus, katanya. Ia tahu betul bahwa bagian belakang casing gawaiku ini bahkan sudah patah separuh. Nanti ganti merek iPhone saja, Mah, selorohnya. Kami berdua pun mulai berandai-andai.

Lalu, aku melanjutkan, "Kita akan berusaha mewujudkan semua itu, ya. Mama akan makin giat bekerja dan belajar supaya uang kita makin banyak, supaya kita bisa membeli rumah, mobil, dan gawai baru itu." Namun, sembari mengusahakannya, aku mengajaknya untuk mensyukuri apa yang sudah kami miliki saat ini. Rumah tanpa plafon ini tetaplah rumah yang layak kami tinggali. Setidaknya, rumah ini cukup luas dibandingkan rumah kontrakan kami yang pertama, yang letaknya dekat kandang ayam tetangga. Rumah kali ini lebih sejuk. Meskipun musim kemarau panjang, sumurnya tidak pernah kering. Airnya selalu melimpah dan gratis. Letaknya pun dekat dengan sawah dan rumahnya jauh lebih luas, sehingga ia bisa bersepeda di halaman rumah, bahkan bermain bola. Berangkat ke sekolah dengan motor pun menyenangkan. Itu membuat kami leluasa mampir membeli jajanan di pinggir jalan karena lebih mudah mencari tempat parkir.

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Ah, kalau diingat-ingat lagi, dulu, saat ia masih balita, kami hanya punya satu motor yang memang harus dipakai papanya untuk bekerja. Jadi, saat di rumah hanya ada kami berdua, kalau ingin pergi, kami harus berjalan kaki. Sekarang, kami sudah punya dua motor yang peruntukannya memungkinkan kami berdua pergi ke mana pun tanpa harus menunggu papanya pulang kerja atau menunggu hari libur. Gawai rusak yang kupakai sekarang pun sebenarnya masih berfungsi dengan baik. Masih bisa kugunakan untuk berkomunikasi melalui telepon maupun WhatsApp, memotret, merekam video, menonton YouTube, membuka Instagram, dan menjalankan berbagai fungsi lainnya. Semuanya masih berjalan normal. Hanya saja, baterainya tidak boleh sampai benar-benar habis. Kalau sudah mencapai nol persen, aku harus buru-buru mengisi dayanya. Bagian belakangnya yang patah pun bisa tertutup casing, sekaligus melindunginya dari air.

Bukankah semua itu masih bisa disyukuri? Bahkan, banyak sekali!


Anakku mendengarkanku dengan saksama. Sesekali ia mengiyakan. Aku berharap percakapan itu sedikit banyak bisa mengubah sudut pandangnya. Namun, sebetulnya, saat berbicara seperti itu, aku merasa sedang lebih banyak berbicara dan mengingatkan diriku sendiri daripada anakku. Bahwa menginginkan dan memimpikan sesuatu itu sangat boleh. Mari kita usahakan dan doakan terus agar bisa terwujud. Namun, jangan sampai keinginan terhadap sesuatu yang belum kita miliki membuat kita lupa mensyukuri rezeki yang sudah ada saat ini. Jangan sampai keadaan sekarang, yang masih belum sesuai dengan keinginan kita, menjadi alasan untuk terus mengeluh dan bersusah hati.

Mari lebih sering menyadari bahwa rezeki bukan hanya tentang uang. Mari mensyukuri rezeki dalam berbagai bentuk, sekecil apa pun atau sebesar apa pun nilainya. Mari lebih banyak bersyukur, bukan sebagai bentuk usaha merayu Tuhan agar bermurah hati menambah dan memberikan lebih banyak lagi kepada kita. Namun, sebagai bentuk ketenangan hati dan perasaan cukup, tanpa mengurangi kegigihan dan kerja keras kita dalam mewujudkan apa yang diimpikan.

Sebab, bersyukur bukan berarti berhenti menginginkan sesuatu yang lebih baik. Bersyukur adalah belajar menghargai apa yang sudah ada, sembari tetap berusaha meraih apa yang belum kita punya.