Pelajaran Tentang Bersyukur
Renungan ini lahir dari kekesalanku terhadap
anakku yang selalu merengek minta mampir ke warung atau minimarket setiap kali
dijemput pulang sekolah. Dan aku hampir selalu menuruti permintaannya tersebut.
Masalahnya, karena memang lapar, ia sering kali kalap membeli jajanan. Wajar
juga, sih. Ia menghabiskan waktu sekitar 6–8 jam di sekolah. Saat mampir ke
warung atau minimarket, ia mengambil banyak makanan dan minuman yang sering
kali berlebihan, terlalu banyak, dan di luar anggaran jajan hariannya.
Aku sungguh berusaha keras untuk bersikap
tegas sesuai aturan dan kesepakatan tentang anggaran jajannya. Caranya dengan
memberinya pilihan, membatasi pilihannya menjadi dua atau tiga jajanan,
membiarkannya memutuskan, serta mengajaknya mengurangi atau mengganti
pilihan-pilihan tersebut. Kadang, cara itu efektif dan bisa ia terima. Namun,
entah kenapa, akhir-akhir ini ia lebih sering mengeluh karena tidak berhasil
membawa pulang semua jajanan pilihannya. Beberapa kali ia pulang dengan wajah
cemberut dan terlihat dongkol, pundung, atau nggondok, meskipun
aku sudah membelikannya tiga jajanan pilihannya. Ia kesal karena sebenarnya
ingin membawa lebih banyak dari itu.
Tentu saja, aku ikut kesal melihat sikapnya tersebut. Bukankah aku sudah menuruti permintaannya untuk membeli jajanan? Bukankah sudah ada kesepakatan tentang batas maksimal anggaran jajan hariannya? Aku pun sudah memberinya kebebasan memilih, asalkan tetap sesuai anggaran. Tentu saja aku berharap ia senang. Namun, kenyataannya, ia justru kecewa, cemberut, dan merajuk. Rasanya, ah, tahu begitu, tidak kubelikan sekalian saja.
Entah bagaimana, sikap yang sebenarnya normal
dan wajar bagi anak kecil itu justru menyentil diriku sendiri. Mengingatkanku
pada kutipan Al-Qur'an dalam Surah Ibrahim ayat 7 (QS. Ibrahim: 14:7), yang
berbunyi:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka pasti azab-Ku sangat berat."
Rasanya, aku baru memahami rasanya ayat
tersebut melalui perilaku anakku. Ketika aku sudah memberikan apa yang ia
inginkan, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginannya, tetapi ia
justru cemberut, merajuk, dan kurang bersyukur, aku merasa kesal. Sedikit
banyak, aku bahkan menyesal. Tahu begitu, tidak kuberikan sekalian saja.
Sebaliknya, ketika responsnya penuh rasa syukur, berterima kasih, dan senang,
meskipun pemberiannya sama, aku justru merasa sedikit sedih dan menyesal karena
tidak bisa memenuhi seluruh keinginannya. Lalu, aku berjanji dalam hati bahwa
lain kali akan kuberikan lebih banyak lagi.
Wah, begitukah maksud Allah?
Malam harinya, saat akan tidur, aku
mengajaknya mengobrol tentang sikapnya tadi. Aku mendengarkan ceritanya, yang
ternyata memang merasa kecewa dan kesal karena aku tidak menuruti semua
keinginannya. Aku mencoba memvalidasi perasaannya, lalu menceritakan versiku
juga. Aku bercerita bahwa sebenarnya aku pun sama seperti dia. Aku ingin punya
rumah sendiri, rumah yang memiliki plafon, tidak seperti rumah kontrakan kami
sekarang. Aku ingin punya mobil supaya bisa mengantarnya ke sekolah tanpa
kepanasan dan kehujanan. Aku juga ingin sekali mengganti gawaiku yang tombol
daya hidup-matinya sudah rusak dan memorinya penuh ini.
Dengan polosnya, anakku mengiyakan. Ia juga
ingin pindah ke rumah yang kalau hujan, yang basah hanya bagian luar rumah,
sedangkan bagian dalamnya tetap kering dan aman. Ia juga ingin punya mobil
berwarna merah muda. Ah, dan punya gawai baru juga merupakan ide bagus,
katanya. Ia tahu betul bahwa bagian belakang casing gawaiku ini bahkan
sudah patah separuh. Nanti ganti merek iPhone saja, Mah, selorohnya.
Kami berdua pun mulai berandai-andai.
Lalu, aku melanjutkan, "Kita akan
berusaha mewujudkan semua itu, ya. Mama akan makin giat bekerja dan belajar
supaya uang kita makin banyak, supaya kita bisa membeli rumah, mobil, dan gawai
baru itu." Namun, sembari mengusahakannya, aku mengajaknya untuk mensyukuri
apa yang sudah kami miliki saat ini. Rumah tanpa plafon ini tetaplah rumah yang
layak kami tinggali. Setidaknya, rumah ini cukup luas dibandingkan rumah
kontrakan kami yang pertama, yang letaknya dekat kandang ayam tetangga. Rumah
kali ini lebih sejuk. Meskipun musim kemarau panjang, sumurnya tidak pernah
kering. Airnya selalu melimpah dan gratis. Letaknya pun dekat dengan sawah dan
rumahnya jauh lebih luas, sehingga ia bisa bersepeda di halaman rumah, bahkan
bermain bola. Berangkat ke sekolah dengan motor pun menyenangkan. Itu membuat
kami leluasa mampir membeli jajanan di pinggir jalan karena lebih mudah mencari
tempat parkir.
Ah, kalau diingat-ingat lagi, dulu, saat ia
masih balita, kami hanya punya satu motor yang memang harus dipakai papanya
untuk bekerja. Jadi, saat di rumah hanya ada kami berdua, kalau ingin pergi,
kami harus berjalan kaki. Sekarang, kami sudah punya dua motor yang
peruntukannya memungkinkan kami berdua pergi ke mana pun tanpa harus menunggu
papanya pulang kerja atau menunggu hari libur. Gawai rusak yang kupakai
sekarang pun sebenarnya masih berfungsi dengan baik. Masih bisa kugunakan untuk
berkomunikasi melalui telepon maupun WhatsApp, memotret, merekam video,
menonton YouTube, membuka Instagram, dan menjalankan berbagai fungsi lainnya.
Semuanya masih berjalan normal. Hanya saja, baterainya tidak boleh sampai
benar-benar habis. Kalau sudah mencapai nol persen, aku harus buru-buru mengisi
dayanya. Bagian belakangnya yang patah pun bisa tertutup casing,
sekaligus melindunginya dari air.
Bukankah semua itu masih bisa disyukuri? Bahkan,
banyak sekali!
Anakku mendengarkanku dengan saksama. Sesekali ia
mengiyakan. Aku berharap percakapan itu sedikit banyak bisa mengubah sudut
pandangnya. Namun, sebetulnya, saat berbicara seperti itu, aku merasa sedang
lebih banyak berbicara dan mengingatkan diriku sendiri daripada anakku. Bahwa
menginginkan dan memimpikan sesuatu itu sangat boleh. Mari kita usahakan dan
doakan terus agar bisa terwujud. Namun, jangan sampai keinginan terhadap
sesuatu yang belum kita miliki membuat kita lupa mensyukuri rezeki yang sudah
ada saat ini. Jangan sampai keadaan sekarang, yang masih belum sesuai dengan
keinginan kita, menjadi alasan untuk terus mengeluh dan bersusah hati.
Mari lebih sering menyadari bahwa rezeki bukan
hanya tentang uang. Mari mensyukuri rezeki dalam berbagai bentuk, sekecil apa
pun atau sebesar apa pun nilainya. Mari lebih banyak bersyukur, bukan sebagai
bentuk usaha merayu Tuhan agar bermurah hati menambah dan memberikan lebih
banyak lagi kepada kita. Namun, sebagai bentuk ketenangan hati dan perasaan
cukup, tanpa mengurangi kegigihan dan kerja keras kita dalam mewujudkan apa
yang diimpikan.
Sebab, bersyukur bukan berarti berhenti
menginginkan sesuatu yang lebih baik. Bersyukur adalah belajar menghargai apa
yang sudah ada, sembari tetap berusaha meraih apa yang belum kita punya.

