Senin, 12 Januari 2026

Aku Pernah Mengira Sakit Adalah Cara untuk DIcintai

 

    Waktu kecil, aku merasa momen ketika aku paling disayang adalah saat aku sakit. Sikap orang tuaku berubah: suara menjadi lebih lembut, omelan dan teriakan menghilang, perintah berkurang. Mereka lebih sering bertanya apa yang aku rasakan, bagian mana yang masih sakit, dan apa yang aku butuhkan.

    Saat sakit, aku dibebaskan dari kewajiban sekolah, pekerjaan rumah, dan PR. Aku diberi obat, ditanya ingin makan apa, ingin melakukan apa. Aku didengarkan. Aku diperhatikan. Aku dilihat. Diam-diam, aku senang ketika sakit. Bahkan ada bagian dalam diriku yang berharap sakit itu bertahan lebih lama.

    Ironisnya, sejak kecil aku justru jarang sakit. Rawat inap di rumah sakit hanya sekali seumur hidup—itu pun karena melahirkan. Jika aku mengatakan ingin sakit, tentu akan banyak orang menasihatiku untuk bersyukur, karena di luar sana banyak orang yang ingin sehat sepertiku. Aku paham itu. Aku tidak menyangkalnya. Namun jujur saja, bagiku sakit bukan tentang rasa sakit fisik. Sakit adalah satu-satunya kondisi di mana aku merasa keberadaanku diakui, perasaanku penting, dan aku layak dipedulikan. Seolah hanya ketika tubuhku lemah, aku boleh menjadi manusia yang butuh.

    Pemikiran itu tidak menghilang ketika aku dewasa. Justru semakin terasa sejak aku menjadi istri dan ibu. Aku tetap bisa menjalankan peran—bahkan saat tidak enak badan. Mengurus anak, menyiapkan makanan, menjaga toko, mengurus rumah. Tubuhku tetap bergerak, tanggung jawab tetap berjalan. Mungkin karena itulah, hampir tidak ada yang benar-benar percaya ketika aku berkata aku sedang sakit. Seolah aku baru dianggap benar-benar sakit jika pingsan, diinfus, atau terbaring di rumah sakit.

    Pada satu fase hidupku—saat aku berjuang melawan depresi—aku pernah terpikir untuk membuat diriku mengalami kecelakaan di jalan. Bukan karena aku ingin mati, apalagi benar-benar celaka. Aku hanya ingin dirawat. Ingin berhenti. Ingin ada yang melihat dan berkata, “Kamu tidak apa-apa untuk lemah.”

    Kini aku tahu, pikiran itu bukan kegilaan. Itu adalah jeritan dari kebutuhan yang terlalu lama diabaikan. Entah dulu atau sekarang, meskipun orang-orang di sekitarku berganti dan bertambah, rasanya tetap sama. Keberadaanku terasa otomatis. Usahaku dianggap wajar. Kuatku dianggap kewajiban. Seolah semua yang kulakukan memang seharusnya begitu.

    Hari ini, aku sakit. Hampir seminggu tubuhku belum pulih dari batuk, flu, dan radang tenggorokan. Dan justru di sakit kali ini, aku sampai pada satu kesadaran yang pelan tapi tegas: berharap sakit agar diperhatikan adalah harapan yang sia-sia. Keberadaanku tetap penting, ada ataupun tidak ada yang mengakuinya. Kesehatan fisik dan mentalku tetap berharga, ada ataupun tidak ada yang peduli.

Aku tidak seharusnya menunggu seseorang sadar untuk merawatku.

Sumber : Dok. Pribadi

 Aku berhenti menunggu. Berhenti mencari perhatian dan validasi dari luar. Berhenti berharap ada yang tiba-tiba mengulurkan tangan. Dan yang terpenting, aku berhenti menjadi kuat sendirian.

Aku mulai menempatkan diriku dalam daftar prioritasku sendiri. Aku menunda pekerjaan domestik. Aku mendelegasikan tugas. Aku meliburkan diri dari kewajiban menjaga toko. Aku berkata dengan jujur kepada orang rumah bahwa aku sedang sakit dan butuh istirahat.

Aku pergi ke dokter. Aku meminum obat. Aku membuatkan jamu untuk diriku sendiri. Aku membeli vitamin, buah, bubur ayam, dan memasak sup kaldu—hal-hal yang biasanya kulakukan untuk orang-orang yang kucintai saat mereka sakit.

Kini aku merawat diriku seperti aku merawat orang lain.

Aku tidak akan lagi menunggu runtuh untuk dianggap layak dirawat. Aku tidak perlu sakit untuk pantas disayangi. Mulai sekarang, akulah orang yang akan menjaga, melindungi, dan menyayangi diriku sendiri—

Tidak ada komentar:

Posting Komentar