Jumat, 10 April 2026

Bakso 5 Ribu yang Menjaga Kewarasanku

Ada satu tukang bakso langganan yang selalu jadi tujuanku ketika ingin makan bakso: bakso gerobak hijau.

Suami dan anakku sering protes, menyarankan untuk membeli bakso lain saja yang lebih enak atau lebih dekat. Dan memang benar—bakso ini lumayan jauh dari tempat tinggal kami sekarang, dan ada banyak pilihan lain yang rasanya lebih enak.


Tapi aku masih sering diam-diam datang ke sana.

Bukan sekadar untuk menikmati rasa baksonya, tapi karena ada cerita di baliknya.

Bakso itu adalah bakso yang dulu sering lewat di depan rumah kontrakan pertamaku, saat awal aku memiliki anak. Rumah itu kami tempati sejak aku hamil tujuh bulan hingga anakku berusia lima tahun. Di sanalah untuk pertama kalinya aku dan suami benar-benar belajar mandiri—jauh dari orang tua dan mertua.

Kami belajar mengurus anak sendirian.
Dari masa newborn, MPASI, hingga toddler.

Mengenang masa-masa itu selalu membuatku terharu. Kami berhasil melaluinya, meskipun saat itu terasa sangat sulit.


Aku mengalami baby blues yang kemudian berkembang menjadi postpartum depression, dan itu berlangsung cukup lama—sekitar tiga tahun sejak kelahiran anakku.

Yang paling kuingat adalah bagaimana aku dan anakku sering berjalan kaki bersama. Kami berkeliling kampung, kadang sampai ke sawah, kadang ke minimarket, sampai orang-orang sekitar merasa heran dan bertanya-tanya.

Sebenarnya sederhana saja: aku jenuh di rumah.

Saat itu kami hanya memiliki satu motor, yang dipakai suamiku untuk bekerja. Jadi berjalan kaki adalah caraku melawan rasa jenuh, sekaligus memberi kesempatan bagi anakku untuk tetap mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar.


Sebagian besar waktu, aku hanya berdua dengannya.

Pekerjaan suamiku membuat kami menjalani hubungan semi LDR. Kesepian, stres, dan rasa kewalahan menjadi hal yang sangat akrab bagiku saat itu.

Sebelum menikah, aku biasa “mengobati” semua itu dengan hal-hal sederhana: jalan-jalan, jajan makanan yang kuinginkan, ngopi santai di warung atau kafe, sesekali pijat, atau facial saat gajian.


Tapi setelah menikah, semuanya berubah.

Aku tidak memiliki penghasilan sendiri. Aku harus benar-benar bijak menggunakan uang yang diberikan suamiku—uang yang ia dapatkan dengan susah payah. Ada kebutuhan anak yang harus diutamakan, ada kebutuhan rumah tangga yang menjadi prioritas.

Hal-hal untuk diriku sendiri perlahan menjadi kemewahan.

Membeli baju baru, skincare, atau sekadar wisata kuliner—semuanya harus dipikirkan berkali-kali.
Dan tanpa kusadari, pelan-pelan aku mengalah… sampai akhirnya aku merasa kehilangan diriku sendiri.

Aku sering tidak menikmati apa yang kulakukan.

Mencuci baju terasa melelahkan dan tidak ada habisnya. Saat itu aku tidak punya mesin cuci, dan tidak ada yang bisa mengerjakannya selain aku. Menggunakan jasa laundry pun bukan pilihan, karena kami harus berhemat.

Semua terasa seperti lingkaran yang tidak punya ujung.

Melelahkan.


Waktu terbaikku justru saat sendirian—ketika anakku tertidur. Saat itu aku bisa bernapas. Karena sepanjang hari, aku harus terus menemaninya, mengawasinya, tanpa jeda.

Aku merasa terjebak.

Ingin bekerja, tapi tidak ada yang menjaga anakku.
Ada pilihan daycare, tapi kondisi keuangan kami tidak memungkinkan.

Semua terasa buntu. Menyesakkan.
Tapi tetap harus dijalani.

Di tengah semua itu, ada satu hal kecil yang menjadi penghiburku:

Bakso gerobak hijau itu.

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Bakso itu bisa dibeli hanya dengan lima ribu rupiah. Entah memang harganya segitu, atau mungkin si bapak penjualnya sedang bersedekah—yang jelas, setiap kali aku membeli dengan uang lima ribu, mangkokku selalu terisi sekitar sepuluh butir bakso kecil.

Tentu saja aku tidak membelinya setiap hari, meskipun ia lewat setiap sore.

Tapi setiap kali aku memakannya, rasanya selalu sama: haru.

Seperti ada rasa lega kecil—bahwa aku masih bisa membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Bahwa aku bisa makan tanpa harus memasak. Dan yang paling penting, anakku juga menyukainya.

Sering kali kami makan berdua, satu porsi dibagi dua, ditambah nasi.

Sederhana, tapi cukup.


Bakso itu menjadi jeda.
Tempat aku bernapas.

Anakku tetap makan dengan kenyang. Aku juga. Tanpa memasak, tanpa banyak berpikir, dan tanpa terlalu membebani keuangan kami.

Rasanya sangat enak—bukan hanya karena rasanya, tapi karena apa yang ia bawa.

Setiap kali memakannya, rasanya seperti ada suara yang berbisik:

“Memang kita sedang kesulitan.
Tapi lima ribu ini boleh kamu pakai untuk menghargai dirimu.
Kamu sudah berusaha sejauh ini.
Kamu boleh istirahat.
Kamu layak menikmatinya tanpa rasa bersalah.”

Sejak saat itu, setiap kali aku merasa kepayahan dengan kondisiku, aku kembali membeli bakso itu.

Bukan hanya untuk makan.

Tapi untuk mengingat.

Bahwa aku boleh berhenti sejenak.
Bahwa aku sudah cukup kuat menjalani semuanya.
Bahwa aku tetap berharga, bahkan di masa paling sulit sekalipun.

Dan mungkin…
itulah yang sebenarnya sedang kucari setiap kali aku kembali ke sana.

Bukan baksonya.

Tapi diriku yang dulu—
yang sedang belajar bertahan,
dan ternyata… berhasil melewatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar