Selasa, 10 Februari 2026

Menulis adalah Caraku Menyelamatkan Diri

 

Saat melewati fase depresi lebih dari tiga tahun, aku seperti kehilangan diriku sendiri—termasuk seluruh rasa percaya pada kemampuanku. Public speaking, manajemen, mengelola tim, mengatur uang, pemasaran—semua yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku, perlahan terasa menguap. Padahal dulu kemampuan itu nyata, tercermin dari prestasi dan tanggung jawab pekerjaan. Entah mengapa, yang tersisa hanya rasa tak berdaya.

Tapi ada satu hal yang diam-diam masih kupercaya: aku masih bisa menulis.

Aku menulis untuk mengurai yang rumit di kepalaku, menata lalu menamai emosiku sendiri. Kadang, di tengah kalimat yang belum selesai, aku menemukan kesadaran baru—cara pandang yang berbeda. Tanpa kusadari, tulisan-tulisan itu pelan-pelan menyembuhkanku.

Menulis membuatku merasa ditemani, seolah ada ruang aman tempat aku boleh menjadi apa adanya. Tulisan-tulisan itu kusimpan di sebuah blog sederhana dengan domain gratis, hanya agar tidak hilang, agar lebih rapi, agar bisa kubaca lagi kapan pun aku butuh pulang.

Aku memang suka membaca tulisanku sendiri—mengaguminya diam-diam, dengan sedikit rasa bangga yang kusembunyikan. Meski tanpa dibaca orang lain, tanpa tepuk tangan atau pujian, aku tetap menyayangi tulisan-tulisan tak sempurnaku itu.

Sampai hari ini, menulis masih menjadi rumah batinku. Tempat aku pulang ketika rapuh, tempat mencari makna baru, dan lagi-lagi—tempat yang menyelamatkanku dari hidup yang sering terasa seperti kiamat.

Seperti hari ini...

sumber : dokumentasi pribadi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar