Kamis, 22 Januari 2026

Ujian Pertemanan Pertama: Catatan Seorang Ibu

 

Tiga hari ini aku dibuat pusing oleh tingkah anakku yang mendadak ingin mogok sekolah. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, dan kali ini alasannya adalah karena bestie-nya absen sekolah karena sakit. Bestie-nya, sebut saja namanya Radish, harus menjalani operasi amandel di Blitar dan tentu saja membutuhkan waktu pemulihan sebelum bisa kembali bersekolah. Karena operasinya dilakukan di luar kota, kemungkinan Radish baru bisa masuk sekolah lagi setelah lebih dari seminggu. Aku dan papanya sebenarnya tipikal orang tua yang cukup santai dalam urusan sekolah. Tapi membayangkan anak ingin bolos sekolah sekitar tujuh hari hanya karena bestie-nya tidak masuk sekolah terdengar agak tidak masuk akal.


Sepengamatanku, anakku terlihat baik-baik saja dalam hal berteman. Ia memang agak pemalu di awal, tapi cukup bisa berinisiatif mengajak bermain atau mengobrol. Pendiam di awal, namun akan jauh lebih nyaman jika sudah akrab. Tipikal anak yang ngrapyak. Dari tiga kelas yang ada di TK B, hampir semuanya ia kenal, terutama yang perempuan. Ia juga kerap bermain dengan anak TK A dan beberapa adik PAUD di sekolah yang sama. Namun, ia memang seperti memiliki layer pertemanan. Ada yang sekadar kenalan, teman biasa, teman dekat, dan di lapisan terakhir ada bestie—yang jumlahnya hanya satu atau dua orang. Dan lapisan bestie ini terasa sangat “deep” dan intens. Sejauh ini aku masih menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Awalnya aku mendapat kabar dari ibunya Radish, lalu menyampaikannya pada anakku. Responsnya langsung menangis dan meminta libur sekolah keesokan harinya. Padahal, ini bukan pertama kalinya terjadi. Bulan lalu, saat Radish sakit selama empat hari, anakku juga terus mengeluh tidak bahagia di sekolah dan ingin libur sampai Radish sembuh. Saat itu aku mengajaknya menjenguk Radish ke rumahnya, dengan kesepakatan bahwa ia tidak boleh mogok sekolah lagi dengan alasan serupa. Aku menjelaskan panjang lebar bahwa perilaku tersebut tidak tepat. Ia sepakat dan berjanji tidak mengulanginya. Karena itulah, kali ini aku merespons dengan sikap yang cukup tegas dan mengingatkannya kembali pada janjinya.

Hari Senin, ia bangun lebih awal, tetapi enggan beranjak dari kasur. Hampir satu jam aku mengobrol dengannya. Kali ini aku menggunakan nada bicara selembut mungkin sambil menatap matanya. Aku berusaha memahami sudut pandang dan perasaannya. Ia mengatakan bahwa ia sedih karena Radish tidak ada, takut tidak punya teman bermain, khawatir tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak ingin merasa kesepian dan sendirian. Aku mendengarkan semuanya dengan saksama. Berusaha se-empati mungkin, meskipun alasan-alasan itu terdengar tidak masuk akal bagiku. Karena selama ini pun ia bermain dengan banyak anak lain selain Radish. Teman-temannya tersebar di berbagai kelas, baik perempuan maupun laki-laki.

Akhirnya aku tetap mengarahkannya untuk masuk sekolah hari itu. Kebetulan, kegiatan sekolah adalah pawai keliling kampung dalam rangka Isra Mi’raj, jadi tidak ada pelajaran dan pulang lebih cepat. Aku mengantarnya sampai halaman sekolah. Teman-temannya sudah berbaris siap pawai. Setelah melihatnya mengobrol dengan beberapa temannya, aku pun berbalik untuk pulang. Tiba-tiba ia berlari menyusulku sambil menangis tersedu-sedu. Aku memeluknya, sambil berpikir, “Ah, ya sudahlah, pulang saja.” Untungnya, guru kelasnya menghampiri dan mengajaknya tetap sekolah dengan iming-iming membawa payung hias. Sepulang sekolah, aku meminta ia bercerita tentang pawainya. Katanya seru meski capek dan panas. Ia bermain lempar botol dengan Razka, makan bersama Kia, dan ikut pawai dengan anak TK A. Singkatnya, ia senang bersekolah seperti biasanya. Aku mengevaluasi hari itu. Meski akhirnya ia masuk sekolah, rasanya itu berat baginya—dan jujur saja, melelahkan bagiku juga.

Keesokan harinya, aku memilih pendekatan berbeda. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan marah atau mengomel jika ia memilih tidak sekolah. Ia bebas memilih, tapi harus memahami konsekuensinya. Jika di rumah, tidak ada gawai, TV, atau laptop. Aku juga tidak bisa menemaninya bermain karena harus fokus bekerja sampai siang. Ia bahkan harus ikut menjaga toko dan tidak bisa bermain dengan kucingnya. Sebaliknya, jika sekolah, ia bisa bermain dan berkegiatan bersama guru dan teman-temannya. Aku menyampaikannya se-netral mungkin, berharap ia memilih dengan sadar. Ia berpikir cukup lama, lalu memutuskan ingin di rumah saja sampai Radish masuk sekolah lagi. “Oke,” kataku. Tak lama kemudian, ia berubah pikiran. “Ya udah deh, aku masuk sekolah aja. Nggak seru di rumah, nggak boleh lihat HP, mama juga nggak bisa diajak main.” Keputusan itu benar-benar ia jalani. Aku mengantarnya ke sekolah. Namun, sesaat setelah turun dari motor di depan gerbang, ia kembali menangis. Ia menyesali pilihannya dan ingin pulang. Katanya, ia bisa main slime dan bikin kreasi seharian supaya tidak bosan. Aku memeluknya, speechless, sambil bergumam dalam hati, “Astaga, sampai kapan begini terus?” Syukurlah, seorang guru melihatnya dan segera mengajaknya masuk kelas. Dengan langkah berat dan air mata yang masih mengalir, ia tetap berjalan menuju kelas.

Sesampainya di rumah, aku seperti mengalami déjà vu. Adegan menangis di gerbang sekolah ini dulu sering terjadi saat ia baru masuk PAUD di usia tiga tahun. Dan baru kali ini terulang lagi. Aku bingung dan frustrasi. Hingga akhirnya aku menyadari: ini bukan hanya hal baru bagiku, tapi juga bagi anakku. Dan sama-sama terasa berat. Aku yang dewasa tentu sudah paham dinamika pertemanan—bahwa teman datang dan pergi, silih berganti. Kadang bertambah, kadang berkurang. Kadang bertemu, kadang berpisah. Namun tidak demikian dengan anakku. Inilah pertama kalinya ia belajar bahwa sedekat apa pun pertemanan, tidak berarti selalu bersama. Ini adalah pelajaran perpisahan pertamanya. Tentang kenyataan bahwa ia dan bestie-nya memiliki kehidupan yang berbeda. Tentang kehilangan yang sementara, dan kelak mungkin yang lebih panjang. Juga tentang menyadari bahwa ia akan tetap aman dan baik-baik saja, dengan atau tanpa bestie di sisinya.

Aku pun mulai membuka percakapan dengannya lewat cerita masa kecilku. Tentang pengalamanku pindah sekolah saat kelas tiga SD. Tentang sedih, takut, dan cemas karena harus meninggalkan teman lama dan masuk ke sekolah baru tanpa mengenal siapa pun. Aku ceritakan detail perasaanku, bagaimana aku menghadapinya, dan bagaimana semuanya akhirnya berlalu. Ia mendengarkan dengan saksama, banyak bertanya tentang teman-temanku dulu. Aku juga bercerita tentang perubahan pertemanan dari SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, hingga sekarang. Bahwa apa yang ia alami adalah hal yang normal. Perubahan bisa datang kapan saja. Sedih, takut, bingung, cemas—itu semua wajar. Tapi tidak akan selamanya begitu. Obrolan sebelum tidur siang itu membuatnya perlahan berdamai. Ia berkata bahwa ia tetap bisa menghubungi Radish meski berjauhan. “Untung sekarang sudah ada HP, nggak kayak zaman mama dulu,” katanya. Ia pun berjanji akan masuk sekolah besok dan tidak menangis di depan gerbang lagi.

Hari Rabu, jadwalnya latihan drumband—kegiatan yang sebenarnya tidak ia sukai karena harus memegang bendera dan membuat tangannya pegal. Aku agak was-was, tapi pagi itu ia tetap berangkat meski matanya sempat berkaca-kaca. Aku mengajaknya berkeliling sebentar dan membelikan kue basah kesukaannya. Hari itu ia berhasil masuk sekolah tanpa tangis. Sepulang sekolah, ia bercerita bahwa teman-teman lain juga seru. Aku memvalidasi bahwa ia baik-baik saja meski tanpa Radish. Ia mengiyakan. Aku pun memujinya—bahwa ia anak yang mudah berteman, berani menyapa, dan disukai banyak teman.

Hari Kamis datang. Katanya, ini hari paling menyebalkan karena pulang lebih lama untuk kegiatan salat berjamaah. Kekhawatiranku bertambah karena sepulang sekolah ada kelas matrikulasi di bakal SD-nya. Di kelas itu, anak-anak berasal dari berbagai TK, dan dari sekolahnya hanya ada dua anak: anakku dan Radish. Sejak malam, ia sudah cemas. Aku memberinya ide untuk berkenalan dengan membawa koleksi stiker. Bermain stiker, lalu menawarkan dan berkenalan. Ia menyukai ide itu. Aku menambahkan tantangan: jika berhasil berkenalan dengan satu anak saja, aku akan membelikannya es krim kesukaannya.

Hari itu berjalan lancar. Tanpa tangisan, tanpa drama. Ia benar-benar mencoba berkenalan dan mendapatkan satu teman baru. Aku sangat bangga. Janjiku pun kutepati.Saat menikmati es krim, aku mengatakan betapa bangganya aku padanya. Rasanya seperti kami baru saja lulus satu ujian bersama. Ujian itu terasa semakin lengkap ketika malam harinya ada pengumuman di grup kelas: besok akan ada outing class bermain layangan di alun-alun kota. Anakku senang sekali. Aku menggoda, “Tapi Radish belum masuk sekolah loh.”

Ia menjawab mantap, “Nggak apa-apa, Ma. Masih ada teman lain. Di sekolah tetap seru. Aku mau masuk sekolah besok. Aku doain aja Radish biar cepat sembuh dan masuk sekolah lagi.”

Aku sungguh lega. Bergumam dalam hati tentang kami yang sama-sama belajar hal baru. Sungguh, menjadi orang tua itu membuat kita terus belajar—tentang anak, dan tentang diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar