Tiga hari ini aku kurang enak badan. Sepertinya tertular sakit dari anakku yang memang lebih dulu batuk pilek.
Tapi gejalanya terasa lebih berat di badanku. Tenggorokanku panas dan gatal, batuk sepanjang malam sampai tak bisa tidur, dan siangnya batuk sampai terkencing-kencing. Sepanjang kulit perut rasanya sakit saking seringnya batuk. Tak lupa hidung mampet dan kepala yang rasanya berat sekali.
Paracetamol tak mempan. Ibuprofen pun begitu.
Lebih pusing lagi karena ini bertepatan dengan minggu ulangan sumatif anakku. Jadi sepusing apa pun kepalaku, aku tetap harus menemaninya belajar.
Kebetulan suamiku juga sedang ada jadwal kunjungan ke luar kota beberapa hari.
Ya, seperti sakit-sakit sebelumnya, sama saja.
Aku tetap harus bangun, mencari obat sendiri, menyiapkan makan, mengurus rumah, mengantar-jemput anak sekolah, dan bersikap sebagaimana tak ada apa-apa.
Hari pertama, aku membeli vitamin dan obat batuk & flu.
Hari kedua, gejalanya malah makin parah. Aku hampir tidak tidur semalaman karena batuk.
Hari ketiga, aku pergi ke puskesmas dan pulang membawa obat-obatan baru. Hari itu aku memutuskan absen membuka toko pagi dan siang. Aku ingin tidur seharian sampai jam menjemput anakku.
Saat diperiksa di puskesmas, aku iseng meng-update status WhatsApp. Hanya foto pintu puskesmas dan emoticon menelungkupkan tangan.
Oh ya, sebelumnya, sambil menemani anakku belajar, aku juga mengunggah story WhatsApp. Isinya foto anakku sedang belajar dengan keterangan:
“Seberat apa pun kepala dan hidung mampet, tetap harus nemenin anak belajar buat ulangan. Auto langsung ceunghaar karena jadi mamasaurus.”
Story itu dikomentari mertuaku.
“Uti kangen (nama anakku).”
Lalu story di puskesmas dikomentari mama dan ayahku.
“Itu di mana?”
“Di puskesmas.”
Chat berakhir.
Malamnya, mamaku sempat video call seperti biasa untuk ngobrol dengan cucunya.
Sepanjang video call itu, tak sepatah kata pun yang membahas atau sekadar menanyakan kabarku.
Aku sakit apa?
Kok sampai harus periksa?
Sekarang bagaimana kondisiku?
Tidak ada.
Hahaha.
Astaga, aku ini kenapa sih masih konyol berharap hal-hal sepele begini?
Suamiku?
Hmm.
Sikapnya juga tidak begitu membuatku kaget karena memang sudah terbiasa.
Aku sering merasa sakitku disepelekan karena terlihat masih bisa beraktivitas normal. Padahal sebetulnya aku juga ingin bedrest kalau sakit, seperti dia setiap kali sakit.
Sayangnya, aku tidak mungkin melakukan itu.
Toko harus tetap dibuka meskipun hanya setengah hari. Aku harus tetap mencari uang.
Makanan harus tetap tersaji, entah masak sendiri atau beli.
Anakku harus tetap berangkat sekolah dengan perut kenyang, badan bersih, dan tanpa terlambat.
Rumah pun tetap harus kupegang, minimal tidak membuat cucian piring dan baju dibiarkan bertumpuk.
Tidak ada yang hafal obatku.
Tidak ada yang tahu comfort food-ku saat sakit.
Tidak ada yang sekadar bertanya, “Kamu butuh apa?” atau “Kamu ingin apa?”
Hmmm.
Ini suara hati kecilku.
Aku juga ingin sekali ada yang memperhatikan dan merawatku saat sakit.
Aku ingin digantikan.
Aku ingin merengek manja.
Aku ingin menangis.
Aku ingin tidak apa-apa terlihat lemah.
Meskipun sakitku bukan sakit yang parah, aku ingin dirawat juga.
Sebuah kemewahan yang entah kapan terakhir kali aku dapatkan.
Seingatku, sejak berpisah tinggal dengan mama, ayah, dan adikku karena harus melanjutkan sekolah SMA, aku sudah menjadi manusia super setiap kali sakit.
Apa-apa bisa sendiri.
Mencari tahu sendiri sakit apa.
Periksa sendirian ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit.
Mencari obat sendiri.
Sampai akhirnya pulih sendiri.
Entah tinggal bersama nenek dan kakek, serumah dengan paman dan bibi, tinggal di asrama kuliah, sakit di kota rantau mana pun, entah saat melajang, pacaran, maupun menikah.
Saat sakit, polanya selalu terulang.
Tidak ada bedanya.
Bukankah seharusnya aku sudah sangat lihai dan terbiasa?
Tapi ternyata tetap saja ada rasa sedih yang terselip.
Mungkin karena itulah aku tumbuh menjadi manusia yang jarang sekali sakit.
Hmm.
Karena yang terasa lebih menyakitkan daripada sakit fisiknya adalah rasa sendirian dan kesepiannya.
Tapi kali ini sedikit berbeda.
Begitu merasa tubuhku tidak baik-baik saja, aku membeli obat dan vitamin.
Saat mulai kewalahan menahan sakit, aku pergi berobat tanpa menunggu lebih lama lagi.
Lalu membeli bubur ayam yang memang jadi comfort food-ku kalau sakit.
Kali ini dua hari berturut-turut.
Tanpa berpikir bahwa itu pemborosan.
Aku juga sengaja tidak membuka toko pagi dan siang selama dua hari, tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun.
Setelah urusan mengantar anak ke sekolah selesai, aku sarapan bubur, minum obat, lalu mematikan handphone, TV, dan laptop.
Aku tidur sampai alarm berbunyi untuk menjemput anak pulang sekolah.
Aku membeli cheesecake kesukaanku.
Membeli bubur sumsum yang terasa pas untuk tenggorokanku yang sakit.
Aku juga bilang kepada suamiku yang tidak bisa pulang, kalau dia bisa mengganti ketidakhadirannya dengan banyak memegang pekerjaan rumah tanpa kuminta saat pulang nanti, atau membawakan makanan.
Meskipun aku tahu...
Hmm.
Itu mungkin sulit terwujud.
Tapi tak apa.
Aku tidak berharap kali ini.
Aku berhenti mencari perhatian atas sakitku.
Berhenti berpikir bahwa orang-orang di sekitarku akan notice kalau sakitku sudah cukup parah.
Berhenti berharap mereka akan tiba-tiba menyadari bahwa aku juga ingin dirawat.
Ah, enggak.
Aku berhenti begitu.
Tubuhku terlalu berharga untuk terus-terusan mengemis perhatian dari orang lain.
Dan mungkin, ini bukan tentang menjadi tidak membutuhkan siapa-siapa.
Aku tetap ingin disayangi.
Tetap ingin diperhatikan.
Tetap ingin suatu hari nanti ada seseorang yang melihat wajahku yang pucat lalu berkata,
“Sudah, kamu istirahat saja. Biar aku yang urus semuanya.”
Aku masih menginginkan itu.
Tapi sekarang aku tahu, aku tidak boleh menunggu seseorang melakukan itu untuk mulai merawat diriku sendiri.
Jadi untuk sementara, biarlah aku yang menjadi orang itu untuk diriku sendiri.
Aku akan membelikan diriku makanan yang kusuka.
Memberiku waktu untuk tidur.
Membawaku berobat ketika tubuhku meminta pertolongan.
Mengizinkanku berhenti ketika memang sudah tidak sanggup.
Dan tidak lagi merasa bersalah hanya karena sedang sakit.
Karena mungkin, selama ini aku terlalu sibuk menjadi manusia super sampai lupa bahwa aku juga manusia.
Manusia yang bisa lelah.
Manusia yang bisa sakit.
Manusia yang ingin dipeluk.
Dan manusia yang juga pantas dirawat.
Aku tidak tahu apakah orang-orang di sekitarku akan berubah.
Mungkin tidak.
Tapi aku bisa mengubah satu hal:
aku tidak akan lagi meninggalkan diriku sendiri hanya karena orang lain tidak datang.
Karena hanya diriku sendirilah yang selalu bersamaku.
Dan kali ini, aku memilih untuk merawatnya.
Lebih baik daripada aku merawat orang lain.
Sepertinya...
aku sudah sembuh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar