Anakku
beberapa bulan lagi genap berusaia 7 tahun. Teman-teman sekolahnya, ada yang
sudah juara Olimpiade Sains, menang lomba menari dan diundang tampil di
Malaysia, ada juga yang jadi juara inline skating, ada yang langganan lomba
mewarnai, dst. Keren ya anak-anak zaman sekarang. Aku pun akan terus memupuk
rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap belajar pada anakku agar ia menemukan
minat bakatnya dan terus mensupportnya. Kali ini aku sedang tidak bercerita
tentang parenting, aku hanya terpikirkan ini setelah mendapat pertanyaan dari
ibu lain tentang, “apa saja prestasi (nama anakku)?”
Aku
diam sejenak, berpikir, akh iya ya, ia gak punya satu pun piala atau piagam
penghargaan di rumah. Ia beberapa kali ikut lomba mewarnai, tapi tidak dapat
juara, wkwkwkwk. Seingatku ia hanya pernah ikut lomba drumband sekolahnya
dengan perannya sebagai colour guard, lalu juara harapan 2. Aku tidak
akan banyak pembelaan kenapa tidak menggemblengnya ikut banyak les keminatan
dan mengikutsertakannya dalam banyak lomba sejak dini. Menurutku itu adalah
pilihan masing-masing keluarga. Kebetulan kami memang masih meraba-raba bakat
dan minat anak pertama kami ini, dan dengan sadar memilih untuk tidak ikut
lomba dulu. Tentu saja aku sangat menghormati pilihan keluarga lain yang berbeda
dan mengangumi anak-anak yang terbiasa ikut serta lomba, langganan juara, punya
banyak prestasi, dst.
Lalu
saat memikirkan jawaban pertanyaan diatas, ada satu hal yang terlintas di
kepalaku, tentang prestasi anakku. Akh
dia punya prestasi luar biasa, yaitu pernah 2x menyelamatkan hidupku. Terdengar membual iyakan!, mana bisa anak 7 tahun tentu saja belum menjadi dokter atau
relawan bencana alam atau menjadi pemadam kebakaran yang bisa menolong dan
menyelamatkan orang. Konyol sekali kedengarannya bukan. Tapi aku serius,
sepertinya aku masih hidup sampai hari ini adalah berkat dia, anak perempuan 7
tahunku. Sebelumnya, aku sudah pernah bercerita tentang aku yang terkena Postpatrum
Depression (PSDT) yang berujung pada pengobatan depresi dengan psikiater
selama hampir 3 tahun. Dalam masa itu kondisiku naik turun, kadang obat
antidepresan yang aku konsumsi setiap hari itu sangat membantuku tenang dan
berpikir lebih jernih. Tapi tak jarang aku kembali relapse. Itu adalah
sebutan bagi kembalinya gejala dan perilaku lama setelah sebelumnya mengalami
perbaikan atau pemulihan. Yakni masa dimana rasanya aku sangat tidak berharga,
tidak berdaya, dan tidak punya harapan. Gelap sekali rasanya, sakit sekali. Ada
banyak hari dimana aku tidak mau bangun dan beranjak dari tempat tidur. Aku
benci suara alarm pagi hari itu. Aku hanya ingin tidur dan gak mau menghadapi
hari. Meski begitu aku terus memaksakan diri beraktivitas, tapi rasanya seperti
sedang membawa beban berat di badanku, beban aneka emosi yang bertumpuk, beban
kecemasan, beban sakit atas kehilangan diri sendiri, beban atas masa depan,
dst. Ada hari-hari yang terasa sangat berat dampai aku ingin menghilang.
Pernah
satu hari, kondisiku benar-benar buruk. Pagi itu suamiku sedang di luar kota,
jadi di rumah hanya ada aku dan anakku yang masih tertidur lelap. Aku bangun
dengan kepala yang terasa berat dan badan yang rasanya pegal sekujur padahal
aku tidur lebih dari 10 jam. Bagitu terbangun, aku sedih tanpa alasan, cemas,
putus asa dan merasa Allah sangat jahat padaku, ada suara dalam diriku yang
bilang bahwa aku gagal dan gak berguna, dunia ini gak adil, semua sia-sia,
rasanya gak ada harapan, rasanya aku melihat besok dan seterusnya pun terasa
sakit dan suram seperti hari ini. Aku beranjak ambil minum, membuka kulkas, dan
melihat tumpukan obat antidepresan yang
harus aku minum 2x sehari setiap hari dan 1 tambahan obat tidur. Totalnya ada
lebih dari 60 kapsul. Aku ambil bungkusan obat tersebut, aku keluarkan 1, lalu
3, lalu 6, 10, 17, lalu separuhnya ada dalam genggamanku.Bentuknya kapsul
selaput yang bisa kubuka lalu keluar isi obatnya berbentuk serbuk. Aku buka
satu per satu, lalu menuangkannya dalam gelas berisi air putuh separuh. Aku
berencana membuka semua kapsul yang ada dalam genggamanku tersebut, sekitar 30
kapsul, dan meminumnya sekaligus setelah tercampur air dalam gelas tadi. Aku
muak sekali dengan kondisiku, aku ingin keluar dari rasa sakit ini, dan
meminumnya sekaligus banyak mungkin bisa membantuku tidak merasa sakit lagi.
Aku ingin menghilang hari itu, aku ingin tidur lagi dan tak perlu bangun
kembali pagi itu. Aku lelash sekali menghadapi hidup.
Tinggal
4 kapsul lagi yang tersisa belum aku buka. Tiba-tiba anakku yang saat bangun,
bisanya ia bangun dengan menangis mencariku kalau aku tak ada disampingnya,
selalu begitu. Tapi pagi itu, aku ugak mendengar ia menangis dari kasurnya,
tiba-tiba ia sudah ada disampingku, di dapur depan kulkas. Dia memegang kakiku
sambil memanggil. “Maa..”. Suara kecilnya terdengar seperti gederang
beduk yang menggelegar, sampai membuatku tersadar. Astaga, barusan aku mikir
apa, astagfirullahalladzim barusan aku mau ngapain. Kenapa aku bisa
segila itu. Apa barusan aku dirasuki setan. Kenapa aku bisa senekad itu dan gak
berpikir panjang. Ya Allah, telat beberapa menit saja mungkin ceritanya sudah
berbeda.
Aku
kaget melihat tubuh mungilnya memegang kakiku, tumben sekali ia bangun tidur tanpa
rewel menangis. Apa ia tahu barusan ibunya seperti sedang kerasukan setan. Aku
berjongkok dan melihat matanya yang bulat besar itu. Tangan mungil itu di
kalungkan ke leherku, dia memelukku, menyenderkan kepalanya di bahuku. Detik
itu aku gak bisa nahan tangisanku. Ku peluk dia dengan erat sambil menangis
tersedu-sedu. Aku meminta maaf kepadanya karena sudah bertindak gila barusan.
Ibu macam apa aku ini yang berniat meninggalkan anaknya. Hari itu aku langsung
jadwalkan kontrol mendadak ke psikiater sekaligus meminta obat baru. Aku
ceritakan kejadian pagi itu, dan dokter pun sepakat bilang bahwa, anakku baru
saja menyelamatkan hidupku.
Hampir
1,5 tahun berlalu, anakku sudah makin tinggi dan cerewet. Aku masih rutin
berobat ke psikiater setiap bulannya. Dan aku kembali relapse, kali ini karena
merasa sangat lelah tapi gak bisa istirahat. Semua harus aku lakukan, jika
tidak aku yang melakukan, tidak akan ada yang menggantikan, tidak akan selesai,
atau akan ada masalah baru. Sepele memang tapi terus berulang. Sesedarhana
menciuci baju, kami belum punya mesin cuci di rumah, semua baju harus di cuci
manual, kebetulan musim penghujan, setiap haru mendung dan hujan. Cucian
kemerin belum kering, cucian baru sudah menumpuk. Aku lelah sekali, tapi kalau
tak kukerjakan cucian itu akan makin bertumpuk meninggi. Tak ada yang
mengerjakannya. Akkh jangan tanya campur tangan suamiku, tahun itu dia memang
masih ketempelan setan patriarki. Jangan pula suruh bawa ke laundry, keuangan
kami sungguh sangat buruk saat itu, makanya bayar laundry beberapa kilo terasa
sebagai pemborosan dan mewah sekali. Tapi itu hanya satu masalah, mencuci. Banyak
masalah lain dengan kesimpulan yang membuatmu merasa sangat lelah, tidak ada
solusi, tidak ada harapan dan kondisi tersebut sudah berminggu-minggu. Sampai
di titik klimaksnya, sudah beberapa hari aku gak enak badan, bukan hanya aku,
anak dan suamiku juga. Kami bertiga bergejala demam, sakit tenggorokan dan flu.
Anakku lebih rewel dari biasanya. Membuatku makin merasa lelah karena kurang
tidur dan lebih banyak memikirkan gimana ia cepat pulih. Suamiku juga sudah
mulai meriang sejak kemarin, meski masih tetap masuk kerja. Hari ini Minggu, ia
libur dan ia bilang ingin bedrest seharian. Aku lihat jam hari itu sudah
pukul 2 siang, suamku masih tidur, dua kali ia bangun untuk ke kamar mandi dan
minum, lalu lanjut tidur lagi. Sedangkan aku, sudah sejak subuh sibuk masak,
suapin anak, mandiin dia, kasih dia vitamin dan obat, mengajaknya bermain,
hingga menidurkannya lagi. Aku masak kaldu ayam, membuat jamu dari aneka
rimpah, pergi ke apotik membeli vitamin dan obat, tak lupa buah juga. Aku ajak
berjemur, main air hangat bercampur garam krosok. Semua usaha yang membuat
segera sembuh aku lakukan. Tapi badanku pun pegal dan linnu semua rasanya,
hidung mampet, kepala rasanya berat sekali, malam pun aku demam. Gejala yang
sama dengan suamiku rasakan katanya. Tapi lihatlah! kami berbeda, dia bisa istirahat
lama, bedrest katanya supaya ia segera sembuh, sedangkan aku gak bisa. Kalau
aku ikut bedrest, pagi itu anak kami mungkin akan telat makan karena tak aka
nada masakan yang tersaji untuk ia makan, taka da yang menemaninya saat ia
bangun, tak akan ada makanan bergizi, vitamin, jamu ataupun obat, akh dan aku
pun akan kelaparan sepertinya. Tak akan ada
yang memasak ataupun membeli makanan jadi di luar, kalau bukan aku yang
melakukan.
Hari
itu, entah kenapa aku sangat lelah, aku juga ingin istirahat, aku ingin tidur
juga, aku ingin dirawat juga, aku menangis tapi dadaku penuh sesak dan makin
kesal melihat suamiku bisa tidur tanpa terbangun oleh suara tangisan anaknya.
Kali itu pertama kalinya aku tak menggubris tangisan anakku. Sembari menanggis
aku pergi dengan motor suami. Tak ada tempat tujuan, aku hanya ingin pergi ke
luar meski saat itu hujan deras. Baru beberapa meter saja bajuku sudah basah
kuyup. Air hujan membuatku tak kentara menangis. Aku terus melaju melintasi
jalanan tanpa arah tujuan. Beberapa meter lagi aku akan berhenti di perempatan
jalan lampu lalu lintas, dan berencana akan tetap melaju meski lampu sudah
menyala merah. Aku ingin istirahat dan ini sepertinya bisa membuatku istirahat.
Kali ini aku hanya ingin luka-luka patah tulang atau sekadar tak sadarkan diri
atau apapun itu yang penting bisa jadi alasan untuk di rawat Rumah Sakit.
Sepertinya itu satu-satunya cara agar aku bisa istirahat, tak perlu memasak,
begadang sendirian, urus anak, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah yang taka da
habisnya itu. Aku bisa makan karena ada makanan rumah sakit, aku bisa dapat
obat, aku bisa tidur, aku bisa dirawat. Ide bagus sekali bukan, aku benar-benar
merasa menemukan solusi. Selongsong gas di motor makin ku genggam erat sembari
memantapkan waktu yang tepat untuk membuatnya melaju lebih kencang.
Tiba-tiba
gantungan kunci motorku jatuh, warnanya pink terang berbentuk karaktter Melody itu
cukup mencolok karena memang sebesar genggaman tangan. Gantungan kunci tersebut
memang kepunyaan anakku, itu karakter favorit dia, yang aku sengaja aku buat
gantungan kunci motorku yang sering lupa taruh. Aku sadar ada sesuatu yang
jatuh, tapi motorku masih melaju. Sampai ada suara dari motor lain yang
meneriakuku, “mbak, ada yang jatuh, itu di belakang”. Suara itu datang dari
ibu-ibu yang dibonceng suaminya dengan di tengah-tengha mereka ada anak kecil
perempuan seumuran anakku yang tengah dipeluknya karena dingin kehujanan. Aku
menengok mereka yang tengah berbagi 1 jas hujan untuk bertiga. Anaknya
menunjuk-nujuk gantungan kunciku yang terjatuh itu. Ku pelankan laju motorku,
lalu menepi, diam sejenak, lalu beranjak ke tengah jalanan yang saat itu sepi
sehingga aku leluasa mengambil gantungan kunci tersebut. Tubuhku yang tengah
sakit kedinginan itu menggigil makin hebat, rencana tadi kuputuskan menundanya.
Aku menepi di depan toko yang tutup tanpa menyalakan motorku. Pikiranku kosong,
badanku rasanya ingin ambruk, aku ingin sekali melakukan rencanaku tadi. Tapi
gantungan kunci anakku yang ku genggam itu seolah menatapku sembari bertanya,
rencana bodoh apa yang kamu pikirkan barusan Restu? Astaga, aku tersadar, aku
bertindak gila barusan, aku harus pulang, anakku pasti menungguku, apa dia
sudah berhenti memangis. Motorku kembali melaju, tapi kali ini tujuannya adalah
rumahku.
Terlihat
dari jendela suamiku sedang menggendong anakku yang tengah rewel menangis.
Wajahnya cemas, bingung dan bingung. Mereka melihatku datang memarkir motor.
Anakku tak langsung berhenti menangis tapi ia menyodorkan kedua tangannya
isyarat minta kugendong. Ku bilang sebentar, mama ganti baju dulu. Ia masih di
gendongan suamiku yang menyusulku ke kemar mandi, melihaku membuka bajuku yang
basah itu, sembari bertanya darimana, ida bilang khawatir. Tangisku yang sedari
tadi berhenti meledak lagi, kali ini penuh dengan amarah dan luapan kecewa
padanya. Ku mutahkan semua keputusasaanku, bolak balik aku bilang aku juga
sakit, aku juga ingin istirahat seperti dia, aku capek, aku ingin berbagi
tugas, aku ingin digantiin, aku ingin dirawat juga. Tak ada sepatah kata pun
keluar dari mulutnya. Dia memelukku yang menangis merauang-raung di lantai
kamar mandi. Samar ku denga ria bilang, maafin papa. Lalu beranjak mengambil
panci mengisinya dengan air dan menyalakan air. Ia bilang tunggu air hangatnya
untuk aku mandi. Anakku melihat semua kekacauanku itu sembari menangis di
pangkuan papanya. Setelah mandi air hangat dan ganti baju, aku lekas mengambil
alih anakku dari tangan papanya. Hampir 1 jam dia menangis merengek begitu, aku
sungguh merasa bersalah. Ku peluk dia yang juga kelelahan menangis. Ku bawa dia
rebahan di kamar, ku lihat tangannya tak mau lepas menggenggam bajuku. Aku elus
lembut kepalanya, ku peluk, ku ciumi sembari meminta maaf. Tangisannya sudah
tak terdengar, lalu ia balas mencium pipiku sambil bilang kata-kata yang membuatku
sesak, “mama jangan pergi, aku ikut”.
Astagfirullahalladzim maafkan
aku Ya Allah karena sudah berpikir dan berniat begitu buruk barusan. Maafin
mama, Nak. Baju yang aku kenakan hangat, berbaring di kasur yang empuk sembari berselimut
tebal, dan paling penting, aku dipeluk erat oleh anakku, di benamkannya wajah imutnya
itu di pipiku, sore itu hangat sekali sekalipun di luar hujan petir makin
deras. Sungguh kenikmatan dan rejeki yang lupa aku syukuri. Hari itu, ak umasih belum sakit, masih lelah
masih putus asa, masih ingin dirawat, masih muak dengan keadaan, masih marah
dengan suamiku, masih menyesal denga napa yang barusan aku perbuat. Aku tahu
tak akan banyak perubahan terjadi dalam waktu dekat, tidak akan tiba-tiba kami
bisa membayari asisten rumah tangga untuk membantuku, tidak serta merta membuat
suamiku jadi sering mengambil peran di rumah, ataupun tidak ada uang kaget yang
mendadak membuatku lebih bebas membeli makanan diluar, membeli jajan,
melaundry, dst. Aku tahu itu, setidaknya dua hal yang berbeda, pertama aku
berjanji tak akan dengan sengaja ingin meinggalkan anakku lagi, tak akan. Kedua,
aku bertekad akan memperhatikan diriku
sendiri sebaik aku memperlakukan orang lain. Aku akan istirahat saat lelah,
akan meminta bantuan saat aku butuh, akan minta jeda saat penat, akan berhenti
saat memang seharusnya berhenti, dan tak akan habis sendiri untuk orang lain.
Kejadian itu sudah lama berlalu, sedikit demi sedikit semua hal terlihat membaik sekarang. Aku sudah lepas obat antidepresan dan tak lagi harus kontrol rutin ke psikiater. Segala hal yang bernama support system pun perlahan mulai menunjukan dukungannya. Dan anakku tahun ini akan berusia 7 tahun, ia baru beberapa bulan ini masuk Sekolah Dasar. Kini ia terlihat makin cantik, pintar, cerewat dan tingginya sudah setinggi perutku. Dua kali ia membawaku pulang, menyelamatkan hidupku. Allah pun sepertinya berwelas asih masih memberiku kesempatan memperbaiki diriku di dunia. Kini kesempatan tersebut sebisa mungkin akan kupergunakan sebaik-baiknya menjalani hidup. Belajar untuk pulih dari banyak hal, belajar memaafkan dan melepaskan yang seharusnya dilepas, belajar jatuh cinta lagi pada diri sendiri, belajar menghargai dan merayakan diri sendiri, belajar lebih bersyukur pada banyak hal, belajar tidak menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, belajar berwelas asih pada diri sendiri bukan hanya pada orang lain, belajar mendorong diri menjadi versi terbaiknya bukan sekadar keras pada diri sendiri, belajar menyuarakan suaraku, menunjukan warnaku, membela hakku, dan memilih diriku diatas orang lain, belajar kembali memegang kendali atas hidupku, memilih dengan sadar, bukan lagi merasa menjadi korban. Kelak kalau hidup kembali dengan arus derasnya, aku bisa tetap mengarunginya dengan lebih siap dan ikhlas tanpa menggantungkan tanggungjawab pada siapapun, termasuk anakku. Biar dia tumbuh tinggi mekar mewangi tanpa terhalang apapun. Kalau flashback ke masa lalu, aku dulu ingin sekali segera pergi dan mengilang. Sekarang setiap berdoa, ada satu doa yang sama selalu kupanjatkan.
"Ya Allah, aku tahu anak ini adalah titipan-Mu. Aku tahu hidupnya, hidupku, dan setiap umur yang kami miliki adalah sepenuhnya dalam takdir-Mu. Namun, Ya Allah… jika Engkau berkenan, izinkan aku memohon satu hal: panjangkanlah waktu kami untuk saling menemani di dunia ini. Sehatkan tubuhku, kuatkan jiwaku, lapangkan rezekiku, dan cukupkan ilmuku. Agar aku mampu menjaga, merawat, membersamai, dan mendidik titipan-Mu ini dengan sebaik-baiknya.
Jadikan aku ibu yang cukup baik untuknya— yang mampu menjadi tempat pulangnya, yang tahu kapan harus memeluk dan kapan harus melepaskan, yang mampu membimbing tanpa mematahkan, dan mencintainya tanpa menjadikannya harus menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
Ya Allah, tuntunlah langkahnya. Jaga tubuhnya, hatinya, pikirannya, dan seluruh jalan hidupnya. Tumbuhkan ia menjadi sebaik-baiknya dirinya sebagaimana Engkau telah menetapkannya sejak awal. Dan jika suatu hari nanti aku harus melepasnya untuk berjalan dengan takdirnya sendiri, semoga bekal yang kutinggalkan cukup untuk membuatnya tahu bahwa sepanjang hidupnya, ia pernah dan akan selalu dicintai dengan segenap hati ibunya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar