Minggu, 05 April 2026

Sabun Biore Merah, Markisa, dan Mangga Kweni

April 05, 2026 0 Comments

 

Di grup WhatsApp alumni SMA, banyak yang bernostalgia.
Cerita kejadian-kejadian lama yang katanya “gak akan pernah lupa.”

Aneh ya…
Aku justru tidak ingat banyak hal dari masa itu.

Tapi aku ingat satu hal dengan sangat jelas—
aroma sabun cair Biore warna merah yang kupakai saat SD kelas 1.

Lucu.
Bagaimana mungkin aku lebih mengingat sesuatu dari 26 tahun lalu,
dibanding masa SMA yang katanya lebih “dekat”?

Aku mulai mengulik.

Ternyata…
di balik aroma sabun itu, ada memori hangat:
mandi di sungai, bersama ayah dan mama.
Perasaan aman. Dekat. Dicintai.

Hal yang sama juga terjadi dengan markisa.
Buah yang hari ini sengaja kupesan,
meski di kota tempatku tinggal hampir tidak pernah ada.

Bukan karena rasanya paling enak.
Tapi karena setiap melihatnya,
aku seperti kembali menjadi anak kecil yang menunggu ayah pulang dari pasar.

Jujur…
yang kutunggu bukan buahnya.

Tapi momen ketika ayah datang,
membawa sesuatu untuk kami di rumah.

Perasaan “dipikirkan”.
Perasaan “diingat”.

Dan mangga kweni—
atau limus, atau bembem.

Pohon itu ada di depan rumah masa kecilku.
Jarang berbuah, tapi selalu kupandangi.

Aromanya khas.
Seratnya sering nyangkut di gigi.
Dan mama selalu bilang,
“Jangan kebanyakan, nanti sariawan.”

Aku nurut.
Tapi diam-diam, aku selalu menunggu musimnya.



Hari ini aku sadar,
bukan aku yang mengingat semua itu.

Tapi tubuhku.

Tubuhku yang menyimpan aroma, rasa, dan rasa aman itu.
Tubuhku yang merekam cinta, dalam bentuk yang sederhana.

Dan mungkin…
itulah kenapa ada hal yang kita lupa,
dan ada yang tinggal begitu dalam.

Karena yang diingat tubuh,
bukan sekadar kejadian—
tapi perasaan.

Aku jadi percaya,
tubuh itu pintar.
Ia merekam semuanya—
bukan hanya luka yang menyakitkan,
tetapi juga rasa hangat yang menyembuhkan.