Kisah Lucu dalam Hidup Orang Lain
Hari ini aku ikut jenguk anak teman SMA ku yang dirawat di Rumah Sakit.
Aku memang masih rutin menjalin komunikasi dengan beberapa teman SMA ku,
sekitar 4 orang itu. Sekadar berbagi kabar, saling menjenguk saat ada yang
sakit atau saling mengunjungi saat ada yang menikah atau melahirkan. Ada Yeni,
si paling duluan menikah dan anaknya pun sekarang paling tua di antara anak
kita, sudah kelas 5 SD. Meski begitu ia masih jadi anak tunggal Yeni yang juga
bekerja jadi penjahit. Ada lagi Tina, ia mantan atlet voli yang kini jadi ibu
rumah tangga. Anak pertamanya masih kelas 2 SD, anak kedua 3 tahun dan sekarang
hamil anak ketiganya. Ada lagi Sinta, ia Sarjana Psikilogi yang juga jadi ibu
rumah tangga sepertiku. Anak pertamanya berusia sama dengan anakku, tapi ia
sudah punya adik yang jaraknya satu tahun lebih muda. Temanku yang lain bernama
Kina, ia guru PNS di luar kota tapi sering pulang kesini, dia lah teman kami
yang paling akhir menikah, dan kini sedang mengandung anak pertamanya.
Kebetulan yang kami jenguk itu adalah anak pertama Tina, ia sudah dirawat
di RS sekitar 5 hari karena muntah-muntah. Kecuali Kina, yang lainnya bisa
datang menjenguk. Setelah puas bertanya tentang kronologis sakit anaknya, kondisi
terkininya, dst. Kami pun mengobrol santai saling bertukar cerita. Salah satu
topik ceritanya adalah pertanyaan tentang mau lanjut sekolah SD mana anakku dan
anak pertama Sinta yang memang sama-sama lulus TK pertengahan tahun depan. Belum
sempat aku jawab, Yeni merekomendasikan sekolah MI dekat rumahnya dimana
anaknya sekolah. Kebetulan rumah kami berdua memang tidak terpaut jauh. Di
sahut oleh Tina yang merekomendasikan sekolah SD negri aja, gratis seperti anak
pertamanya. Aku jawab kalau KTP ku masih bukan warga kota ini, dan kalaupun pun
urus KTP pindah aku bingung pakai alamat mana karena posisi rumah kami sekarang
masih ngontrak. Sedangkan Sinta, ia yang dua bulan lalu cerita mau masukin anak
pertamanya di MI dekat rumahnya yang katanya bagus kurikulumnya, lengkap ekskul
dan gedungnya besar itu kini ganti rencana akan menyekolahkan anaknya masuk
sekolah negri aja. Alasannya adalah karena ada beberapa wali murid julid dan
suka memfitnahnya yang juga memasukkan anaknya ke MI tersebut. Intinya, ia gak
ingin sering-sering bertemu mereka.
Sebetulnya, aku sudah mendaftarkan anakku ke SD sejak bulan September
lalu, ke sekolah SD swasta pilihan kami. Gak kurang dari 8 sekolah yang aku,
suami dan anakku datangi langsung. Kami bertanya, mengamati, melihat langsung
proses pembelajaran dan beberapa ikut trial class-nya. Nilai-nilai
sekolah, kurikulum, biaya pendaftaran, SPP bulanan, ekstrakulikuler, jarak dan
karakter sekolah adalah poin-poin yang kami lihat betul-betul dan
pertimbangkan. Kalau ada kesempatan, kami sekalian amati juga bagaimana pola
interaksi guru dengan murid-muridnya, bagaimana suasana kelasnya, bagaimana
cara guru beserta jajarannya menyiapkan acara dan berinteraksi (saat trial class,
mengenalan sekolah, observasi siswa), dst. Sungguh pilihan yang agak sulit bagi
kami menentukan sekolah SD ini. Menemukan titik temu antara nilai-nilai sekolah, karakter dan
kebutuhan anak serta bagaimana kapasitas orang tua itu sungguh butuh banyak
pertimbangan, diskusi dan kejernihan berpikir. Untunglah aku dan suami satu
visi dalam hal ini. Kami tidak ingin menunggu sekolah lanjutan dan kuliah untuk
memberikan anak sekolah terbaik versi kami. SD adalah sekolah terlama, 6 tahun.
Kelak ia akan melewatkan masa anak-anak hingga masa pra remaja di sekolah ini.
Masa dimana ia membangun pondasi awal tentang kecintaan akan proses belajar,
kebiasaan-kebiasaan baru, tentang hubungan pertemanan, hubungan dengan guru,
dan belajar membangun juga menemukan identitas dan potensi-potensi dirinya.
Kami ingin sekali memberikan pondasi awal tersebut dengan baik. Oleh karena itu
kami mengusahakannya sebaik mungkin, tanpa keluar dari batas kapasitas kami
sebagai orang tuanya. Hingga akhirnya kami putuskan 1 sekolah ini. Sekolah
swasta, sekolah Islam, sekolah ini bukan tergolong sekolah mewah, dari segi
biaya masuk dan SPP nya masih tergolong standart menengah. Bukan sekolah
Internasional, gedungnya pun tidak besar dan siswanya pun tergolong sedikit
dibandingkan sekolah swasta sejenis. Tapi kami jatuh suka dengan sekolah ini karena
ia mengajarkan tentang keseimbangan belajar agama dengan belajar ilmu
pengetahuan dan teknologi. Mereka sediakan 20 ekskul gratis, mendorong siswanya
untuk ikut berbagai kompetisi sebagai bagian dari nilai-nilai mereka yang
mengakui bahwa kecerdasan setiap anak itu unik dan berbeda, bukan hanya dalam
akademik saja. Mereka sering study tour dan mendatangkan native
speaker untuk mendorong siswa-siswanya belajar bahasa asing, juga mendekatkan
teknologi dalam pembelajarnnya. Sejauh itu dulu yang kami amati, dan tidak kami
temukan di 7 sekolah lainnya. Tentang biaya, biaya pendaftaran awalnya memang
2x lipat biaya pendaftaran TK, tapi SPP
bulananya nya 70% lebih murah. Jarak dari rumah pun masih tergolong kurang dari
15 menit. Titik temu inilah jatuh di sekolah ini. Bagiku pribadi, sepertinya tidak
ada yang namanya sekolah paling baik paling bagus itu, yang ada adalah sekolah
terbaik versi anak dan keluarganya masing-masing, yang hasil pilihan itu tentu
saja akan berbeda. Selama orang tua mempertimbangkan nilai-nilai yang selaras
diajarkan di keluarga maupun di sekolah + kebutuhan dan karakter anak + kapasitas
orang tua baik secara uang maupun jarak. Menurutku itu akan menjadi pilihan
yang “sehat” dan versi terbaiknya.
Lanjut tentang pecakapan dengan teman-temanku tadi. Giliranku, mereka
tidak percaya kalau aku belum mendaftarkan anakku ke sekolah manapun. Wajar
saja karena ini sudah pertengahan semester dan sekolah swasta sudah membuak
pendaftaran siswa baru sejak September. Aku pun akhirnya menjawab dan menyebutkan
pilihan sekolah anakku tadi. Tentu saja aku tak merinci alasan memilih sekolah
tersebut yang sangat panjang itu. Bahkan cenderung menjawabnya dengan guyonan,
kalau aku dan ayahnya memang agak ‘bonek’ dalam milih sekolah anak.
Karena aku tahu bagi mereka akan menganggapnya begitu. Benar saja, respon
otomatis dari mereka saat mendengar jawabanku adalah “isok kebayar a di
sekolahno kono iku” (bisa kebayar kah di sekolahin sana itu?) disertai
tertawaan bersama. Di sahuti lagi dengan aneka komentar mereka.
“akh kabeh sekolah iku podo ae” (akh semua sekolah itu sama
saja),
“enakkan sekolah negri, gratis”,
“sing penting iku sekolah e cidek omah” (yang penting itu
sekolahnya dekat rumah),
“koncoku anak e sekolah kono loh, apik tapi yo kewalahan bayar-bayar
e akeh” (temanku anaknya sekolah sana, bagus tapi ya kewalahan
bayar-bayarnya banyak”,
“bayar uang pangkal e akeh loh” (bayar uang pangkalnya banyak
loh),
“wajar rek, karna anak e sek siji, makane jor-jor-an” (wajar
anaknya baru satu, makanya gak sayang keluarin uang banyak) dan seterusnya.
Sebetulnya aku antara kaget dan tidak kaget dengan respon mereka. Bagi
mereka, melihatku yang termasuk kaum mendang mending yang masih ngontrak ini
sungguh lucu memilih keputusan menyekolahkan anak di sekolah swasta itu. Tapi
aku tetap saja merasa dongkol juga mendengar komentar bernada meremehkan
tersebut. Meski aku hanya diam dan ikut tersenyum masam, sebenarnya aku
tersinggung, harga diriku rasanya terganggu, pilihanku pun rasanya di salahkan.
Aku dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan mereka. Untung saja hari ini, anakku
jadwalnya pulang lebih cepat, jadi ada alasan pamit pulang lebih dulu. Tentu
saja pulang dengan rasa dongkol, campur sedih, dan marah.
Sepanjang perjalanan naik motor jemput anakku, aku masih dengan pikiran
dan emosi yang sama. Tapi sesampainya dirumah rasanya terbersit bahwa,
“bukankah setiap orang bisa jadi kisah lucu bagi orang lainnya”, dan aku pun
mengamini itu, “akh ya benar juga ya”. Seperti halnya teman-temanku itu. Bagi
mereka keputusanku menyekolahkan anakku di sekolah SD swasta adalah hal lucu.
Aku pikir lagi, bukankah tiap-tiap mereka juga jadi kisah yang lucu bagiku.
Seperti keputusan Tina untuk hamil lagi anak ke-3, disaat anak keduanya saja
bahkan belum lepas popok. Ditambah anak pertamanya yang kebetulan butuh
perhatian ekstra karena berkebutuhan khusus. Bagiku yang pernah tahu rasanya baby
blues dan postpatrum depression, membayangkannya saja sudah angkat
tangan. Bukankah menambah anak akan membuatnya bertambah pusing, bertambah capek,
dan bertambah pengeluaran. Tak kalah lucu lagi adalah kisah Yeni, dari
ceritanya, ia memutuskan bertahan dalam pernikahan dengan suaminya yang kurang
memberi nafkah dan tidak banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Mungkin kalau
aku ada di posisinya, sudah lama aku tinggalkan saja suami model begitu. Sinta
juga menurutku lucu. Sebelumnya ia sangat menggebu-gebu mempromosikan betapa
bagusnya sekolah MI yang akan jadi bakal sekolah anak pertamanya itu. Tapi kini
tiba-tiba berubah karena alasan yang bagiku lucu, yakni karena ada ibu-ibu julid
yang anaknya daftar sekolah disana juga. Sayang sekali anaknya gak jadi
merasakan sekolah yang bagus tersebut karena perkara ibu-ibunya. Padahal ibunya
gak tiap hari ketemu dengan ibu-ibu julid tadi setiap hari. Begitulah sekiranya penilaian-penilaian yang
muncul dari kedangkalan berpikir, informasi yang parsial, dan menilai sesuatu
hanya dari sudut pandang sendiri. Jadinya terlihat lucu, bukan?!. Mungkin saja
bagi Tina, menambah anak adalah menambah kebahagian. Apalagi 2 anak sebelumnya
adalah laki-laki, dan hamil kali ini ia mengandung anak perempuan. Mungkin juga
bagi Yeni, bertahan dalam pernikahan itu adalah bentuk cinta tulusnya dan pengharapan.
Mungkin pula bagi Sinta, kewarasannya lebih prioritas daripada sekolah MI bagus
itu, toh masih ada sekolah bagus lainnya. Mungkin saja benar, mungkin juga
salah, mungkin sebagian benar dan sebagian lagi salah. Kita tak pernah
benar-benar memahami sudut pandang orang lain sebelum mencoba berjalan dengan
sepatunya.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hidup memang tidak pernah lepas dari penilaian, dan setiap orang bisa menjadi kisah lucu bagi orang lain. Keputusan yang diambil dengan pertimbangan panjang bisa tampak berlebihan dari luar, sementara pilihan yang terlihat sederhana sering kali adalah cara seseorang menjaga kewarasannya. Aku tak perlu dipahami semua orang untuk merasa benar dalam hidupku, sebagaimana aku pun tak pernah benar-benar memahami hidup orang lain sepenuhnya. Barangkali disinilah kedewasaan dimulai, ketika aku berhenti sibuk menjelaskan hidupku kepada orang lain, berhenti membandingkan jalan yang kupilih dengan jalan mereka, dan mulai menerima bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan komentar orang lain sebagai penentu harga diriku, karena hidup ini bukan panggung pembenaran, melainkan ruang untuk bertumbuh dan bertahan dengan versi kewarasan masing-masing.

