Minggu, 21 Desember 2025

Kisah Lucu dalam Hidup Orang Lain

Desember 21, 2025 2 Comments

 

Hari ini aku ikut jenguk anak teman SMA ku yang dirawat di Rumah Sakit. Aku memang masih rutin menjalin komunikasi dengan beberapa teman SMA ku, sekitar 4 orang itu. Sekadar berbagi kabar, saling menjenguk saat ada yang sakit atau saling mengunjungi saat ada yang menikah atau melahirkan. Ada Yeni, si paling duluan menikah dan anaknya pun sekarang paling tua di antara anak kita, sudah kelas 5 SD. Meski begitu ia masih jadi anak tunggal Yeni yang juga bekerja jadi penjahit. Ada lagi Tina, ia mantan atlet voli yang kini jadi ibu rumah tangga. Anak pertamanya masih kelas 2 SD, anak kedua 3 tahun dan sekarang hamil anak ketiganya. Ada lagi Sinta, ia Sarjana Psikilogi yang juga jadi ibu rumah tangga sepertiku. Anak pertamanya berusia sama dengan anakku, tapi ia sudah punya adik yang jaraknya satu tahun lebih muda. Temanku yang lain bernama Kina, ia guru PNS di luar kota tapi sering pulang kesini, dia lah teman kami yang paling akhir menikah, dan kini sedang mengandung anak pertamanya.

Kebetulan yang kami jenguk itu adalah anak pertama Tina, ia sudah dirawat di RS sekitar 5 hari karena muntah-muntah. Kecuali Kina, yang lainnya bisa datang menjenguk. Setelah puas bertanya tentang kronologis sakit anaknya, kondisi terkininya, dst. Kami pun mengobrol santai saling bertukar cerita. Salah satu topik ceritanya adalah pertanyaan tentang mau lanjut sekolah SD mana anakku dan anak pertama Sinta yang memang sama-sama lulus TK pertengahan tahun depan. Belum sempat aku jawab, Yeni merekomendasikan sekolah MI dekat rumahnya dimana anaknya sekolah. Kebetulan rumah kami berdua memang tidak terpaut jauh. Di sahut oleh Tina yang merekomendasikan sekolah SD negri aja, gratis seperti anak pertamanya. Aku jawab kalau KTP ku masih bukan warga kota ini, dan kalaupun pun urus KTP pindah aku bingung pakai alamat mana karena posisi rumah kami sekarang masih ngontrak. Sedangkan Sinta, ia yang dua bulan lalu cerita mau masukin anak pertamanya di MI dekat rumahnya yang katanya bagus kurikulumnya, lengkap ekskul dan gedungnya besar itu kini ganti rencana akan menyekolahkan anaknya masuk sekolah negri aja. Alasannya adalah karena ada beberapa wali murid julid dan suka memfitnahnya yang juga memasukkan anaknya ke MI tersebut. Intinya, ia gak ingin sering-sering bertemu mereka.

Sebetulnya, aku sudah mendaftarkan anakku ke SD sejak bulan September lalu, ke sekolah SD swasta pilihan kami. Gak kurang dari 8 sekolah yang aku, suami dan anakku datangi langsung. Kami bertanya, mengamati, melihat langsung proses pembelajaran dan beberapa ikut trial class-nya. Nilai-nilai sekolah, kurikulum, biaya pendaftaran, SPP bulanan, ekstrakulikuler, jarak dan karakter sekolah adalah poin-poin yang kami lihat betul-betul dan pertimbangkan. Kalau ada kesempatan, kami sekalian amati juga bagaimana pola interaksi guru dengan murid-muridnya, bagaimana suasana kelasnya, bagaimana cara guru beserta jajarannya menyiapkan acara  dan berinteraksi (saat trial class, mengenalan sekolah, observasi siswa), dst. Sungguh pilihan yang agak sulit bagi kami menentukan sekolah SD ini. Menemukan titik temu  antara nilai-nilai sekolah, karakter dan kebutuhan anak serta bagaimana kapasitas orang tua itu sungguh butuh banyak pertimbangan, diskusi dan kejernihan berpikir. Untunglah aku dan suami satu visi dalam hal ini. Kami tidak ingin menunggu sekolah lanjutan dan kuliah untuk memberikan anak sekolah terbaik versi kami. SD adalah sekolah terlama, 6 tahun. Kelak ia akan melewatkan masa anak-anak hingga masa pra remaja di sekolah ini. Masa dimana ia membangun pondasi awal tentang kecintaan akan proses belajar, kebiasaan-kebiasaan baru, tentang hubungan pertemanan, hubungan dengan guru, dan belajar membangun juga menemukan identitas dan potensi-potensi dirinya. Kami ingin sekali memberikan pondasi awal tersebut dengan baik. Oleh karena itu kami mengusahakannya sebaik mungkin, tanpa keluar dari batas kapasitas kami sebagai orang tuanya. Hingga akhirnya kami putuskan 1 sekolah ini. Sekolah swasta, sekolah Islam, sekolah ini bukan tergolong sekolah mewah, dari segi biaya masuk dan SPP nya masih tergolong standart menengah. Bukan sekolah Internasional, gedungnya pun tidak besar dan siswanya pun tergolong sedikit dibandingkan sekolah swasta sejenis. Tapi kami jatuh suka dengan sekolah ini karena ia mengajarkan tentang keseimbangan belajar agama dengan belajar ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka sediakan 20 ekskul gratis, mendorong siswanya untuk ikut berbagai kompetisi sebagai bagian dari nilai-nilai mereka yang mengakui bahwa kecerdasan setiap anak itu unik dan berbeda, bukan hanya dalam akademik saja. Mereka sering study tour dan mendatangkan native speaker untuk mendorong siswa-siswanya belajar bahasa asing, juga mendekatkan teknologi dalam pembelajarnnya. Sejauh itu dulu yang kami amati, dan tidak kami temukan di 7 sekolah lainnya. Tentang biaya, biaya pendaftaran awalnya memang 2x lipat biaya pendaftaran TK, tapi  SPP bulananya nya 70% lebih murah. Jarak dari rumah pun masih tergolong kurang dari 15 menit. Titik temu inilah jatuh di sekolah ini. Bagiku pribadi, sepertinya tidak ada yang namanya sekolah paling baik paling bagus itu, yang ada adalah sekolah terbaik versi anak dan keluarganya masing-masing, yang hasil pilihan itu tentu saja akan berbeda. Selama orang tua mempertimbangkan nilai-nilai yang selaras diajarkan di keluarga maupun di sekolah + kebutuhan dan karakter anak + kapasitas orang tua baik secara uang maupun jarak. Menurutku itu akan menjadi pilihan yang “sehat” dan versi terbaiknya.

Lanjut tentang pecakapan dengan teman-temanku tadi. Giliranku, mereka tidak percaya kalau aku belum mendaftarkan anakku ke sekolah manapun. Wajar saja karena ini sudah pertengahan semester dan sekolah swasta sudah membuak pendaftaran siswa baru sejak September. Aku pun akhirnya menjawab dan menyebutkan pilihan sekolah anakku tadi. Tentu saja aku tak merinci alasan memilih sekolah tersebut yang sangat panjang itu. Bahkan cenderung menjawabnya dengan guyonan, kalau aku dan ayahnya memang agak ‘bonek’ dalam milih sekolah anak. Karena aku tahu bagi mereka akan menganggapnya begitu. Benar saja, respon otomatis dari mereka saat mendengar jawabanku adalah “isok kebayar a di sekolahno kono iku” (bisa kebayar kah di sekolahin sana itu?) disertai tertawaan bersama. Di sahuti lagi dengan aneka komentar mereka.


akh kabeh sekolah iku podo ae” (akh semua sekolah itu sama saja),

enakkan sekolah negri, gratis”,

sing penting iku sekolah e cidek omah” (yang penting itu sekolahnya dekat rumah),

koncoku anak e sekolah kono loh, apik tapi yo kewalahan bayar-bayar e akeh” (temanku anaknya sekolah sana, bagus tapi ya kewalahan bayar-bayarnya banyak”,

bayar uang pangkal e akeh loh” (bayar uang pangkalnya banyak loh),

wajar rek, karna anak e sek siji, makane jor-jor-an” (wajar anaknya baru satu, makanya gak sayang keluarin uang banyak) dan seterusnya.

 

Sebetulnya aku antara kaget dan tidak kaget dengan respon mereka. Bagi mereka, melihatku yang termasuk kaum mendang mending yang masih ngontrak ini sungguh lucu memilih keputusan menyekolahkan anak di sekolah swasta itu. Tapi aku tetap saja merasa dongkol juga mendengar komentar bernada meremehkan tersebut. Meski aku hanya diam dan ikut tersenyum masam, sebenarnya aku tersinggung, harga diriku rasanya terganggu, pilihanku pun rasanya di salahkan. Aku dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan mereka. Untung saja hari ini, anakku jadwalnya pulang lebih cepat, jadi ada alasan pamit pulang lebih dulu. Tentu saja pulang dengan rasa dongkol, campur sedih, dan marah.

Sepanjang perjalanan naik motor jemput anakku, aku masih dengan pikiran dan emosi yang sama. Tapi sesampainya dirumah rasanya terbersit bahwa, “bukankah setiap orang bisa jadi kisah lucu bagi orang lainnya”, dan aku pun mengamini itu, “akh ya benar juga ya”. Seperti halnya teman-temanku itu. Bagi mereka keputusanku menyekolahkan anakku di sekolah SD swasta adalah hal lucu. Aku pikir lagi, bukankah tiap-tiap mereka juga jadi kisah yang lucu bagiku. Seperti keputusan Tina untuk hamil lagi anak ke-3, disaat anak keduanya saja bahkan belum lepas popok. Ditambah anak pertamanya yang kebetulan butuh perhatian ekstra karena berkebutuhan khusus. Bagiku yang pernah tahu rasanya baby blues dan postpatrum depression, membayangkannya saja sudah angkat tangan. Bukankah menambah anak akan membuatnya bertambah pusing, bertambah capek, dan bertambah pengeluaran. Tak kalah lucu lagi adalah kisah Yeni, dari ceritanya, ia memutuskan bertahan dalam pernikahan dengan suaminya yang kurang memberi nafkah dan tidak banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Mungkin kalau aku ada di posisinya, sudah lama aku tinggalkan saja suami model begitu. Sinta juga menurutku lucu. Sebelumnya ia sangat menggebu-gebu mempromosikan betapa bagusnya sekolah MI yang akan jadi bakal sekolah anak pertamanya itu. Tapi kini tiba-tiba berubah karena alasan yang bagiku lucu, yakni karena ada ibu-ibu julid yang anaknya daftar sekolah disana juga. Sayang sekali anaknya gak jadi merasakan sekolah yang bagus tersebut karena perkara ibu-ibunya. Padahal ibunya gak tiap hari ketemu dengan ibu-ibu julid tadi setiap hari.  Begitulah sekiranya penilaian-penilaian yang muncul dari kedangkalan berpikir, informasi yang parsial, dan menilai sesuatu hanya dari sudut pandang sendiri. Jadinya terlihat lucu, bukan?!. Mungkin saja bagi Tina, menambah anak adalah menambah kebahagian. Apalagi 2 anak sebelumnya adalah laki-laki, dan hamil kali ini ia mengandung anak perempuan. Mungkin juga bagi Yeni, bertahan dalam pernikahan itu adalah bentuk cinta tulusnya dan pengharapan. Mungkin pula bagi Sinta, kewarasannya lebih prioritas daripada sekolah MI bagus itu, toh masih ada sekolah bagus lainnya. Mungkin saja benar, mungkin juga salah, mungkin sebagian benar dan sebagian lagi salah. Kita tak pernah benar-benar memahami sudut pandang orang lain sebelum mencoba berjalan dengan sepatunya.

Gambar :  Arsip Pribadi

 Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hidup memang tidak pernah lepas dari penilaian, dan setiap orang bisa menjadi kisah lucu bagi orang lain. Keputusan yang diambil dengan pertimbangan panjang bisa tampak berlebihan dari luar, sementara pilihan yang terlihat sederhana sering kali adalah cara seseorang menjaga kewarasannya. Aku tak perlu dipahami semua orang untuk merasa benar dalam hidupku, sebagaimana aku pun tak pernah benar-benar memahami hidup orang lain sepenuhnya. Barangkali disinilah kedewasaan dimulai, ketika aku berhenti sibuk menjelaskan hidupku kepada orang lain, berhenti membandingkan jalan yang kupilih dengan jalan mereka, dan mulai menerima bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Aku belajar untuk tidak lagi menjadikan komentar orang lain sebagai penentu harga diriku, karena hidup ini bukan panggung pembenaran, melainkan ruang untuk bertumbuh dan bertahan dengan versi kewarasan masing-masing.