Selamat Ulang Tahun, Nak!
Bulan ini putriku berulang tahun, dan kebetulan hari ini ada notifikasi
dari Google Photos yang berisi memori foto-fotonya bahkan sebelum ia lahir. Aku
jadi ikut flashback ke masa-masa tersebut, wah ternyata sudah 6 tahun
berlalu sejak ia hadir di duniaku. Padahal setiap hari rasanya panjang dan lama
sekali, tapi ternyata tahun berganti bagai kedipan mata. Rasanya baru kemarin
aku lihat dia keluar dari perutku dengan muka merahnya yang belum ada alis itu
menangis kencang. Karena hobi minum ASI pipinya jadi bulat gembil dengan otot
tangan menyerupai roti sobek, lucu sekali. Ia punya bau khas bayi yang bikin
candu kalau menciumnya. Sekarang bau khas bayi dan muka bayinya itu sudah
hilang, wajahnya berubah jadi wajah anak-anak, si lucu itu pun berubah jadi si
cantik. Ia hadir membawa banyak kebahagiaan beserta banyak kekhawatiran sebagai
ibu baru. Dulu, aku pikir masa-masa newborn adalah yang paling sulit,
ternyata fase growth spurt lebih dar der dor. Lanjut fase MPASI yang
penuh drama, sambil belajar bicara, belajar merangkak, belajar duduk, dan
belajar berjalan. Santai sedikit harus mulai belajar toilet training dan
disapih ASI. Kemudian disambut fase toodler dengan segala tingkah ajaib
dan emosinya yang meledak-ledak. Lanjut
belajar hal yang lebih kompleks, berteman, bersekolah, mengelola emosinya,
berkonflik, mengenal batasan boleh tidak boleh aman bahaya baik tidak baik,
dst.
Sungguh ia memaksaku banyak belajar banyak hal. Tapi ternyata masa-masa sulit itu
bisa juga terlewati meski sambil terkena depresi. Hahaaa~ (it’s a dark jokes).
Dulu sepertinya aku memang tidak sadar mendedikasikan 100% diriku untuk anak,
sampai lupa hal lainnya bahkan diriku sendiri. Waktu dan tenagaku menyesuaikan
jam biologis dan kebutuhan dia. Topik belajarku dari berbagai webinar, kulwapp,
youtube maupun buku isinya tentang tumbuh kembang, kesehatan, MPASI, parenting,
dll, intinya semua tentang anak. Setiap hari isinya mikir tentang stimulasi apa
lagi hari ini, ada kesempatan belajar apa lagi nih buat dia, butuh ekplorasi
apa lagi ya, harus pergi kemana lagi ya, dst. Ia bukan hanya jadi prioritas,
tapi jadi pusat duniaku. Tempat berpusatnya waktu, tenaga, uang dan perhatian. Ada
cerita lucu, setelah anakku berusia sekitar 8 atau 9 bulan, mamaku datang
berkunjung, lalu ia mencari keberadaan sisir dan cermin, yang baru aku sadari
kalo gak ada 2 benda itu di rumah ini. Ia terheran-heran bagamana bisa gak ada
sisir dan cermin di rumah, terus gimana selama ini dandan atau sekadar menyiris
rambut. Dari situ aku sadar akh iya ya, selama ini aku hanya peduli anakku,
sampai lupa peduli diri sendiri. Gak heran aku bisa terkena depresi dan harus
berobat selama lebih dari 3 tahun.
Meski begitu semuanya pada akhirnya terlewati, kini aku sembuh dari
depresi dan anakku tumbuh dengan baik. Aku hampir tak punya penyesalan apapun
tentang usahaku menemani tumbuh kembangnya selama 6 tahun ke belakang. Anak
yang dulu cukup di letakkan diatas bantal itu, sekarang tingginya setara
perutku. Anak yang dulu mengoceh ‘ma-ma, bo-a, da-da,’ itu sekarang sudah jadi
lawan debat dan bisa diajak ngobrol banyak hal. Anak yang dulu makan belepotan
harus disuapi dan sering mengompol itu kini bis.a makan sendiri, mandi sendiri,
pakai baju sendiri dan berdandan sendiri. Anak yang dulu selalu ikut dan nempel
kemana pun aku pergi, minggu lalu baru saja ikut kegiatan sekolahnya outbond
ke luar kota sendirian. Anak yang dulu sering aku bacakan buku cerita
sebelum tidur itu, kemarin bisa gantian membacakan aku 1 buku cerita meski
masih terbata-bata. Anak yang dulu sering tantrum dengan tangisan khasnya yang
melengking itu sekarang sudah bisa
memelukku saat aku sedih, sudah bisa manawariku pijat saat aku mengeluh
kecapekkan. Anak yang dulu pemalu saat bertemu orang baru itu, kini sudah punya
banyak bestie dan berani tampil menari di acara pentas sekolahnya. Hmmm,
rasanya dadaku penuh haru dan bangga. Good Job anakku, Good Job
juga diriku!
Sekarang ia terasa lebih seperti sosok sahabat di bandingkan sebegai sosok
anak. Ia mulai lebih melihat apa yang aku lakukan dibandingkan sekadar yang aku
katakan sekalipun itu benar dan logis. Ia lebih peka dan memperhatikan detil
gerak gerik dan perkataanku. Ia juga mengikuti kebiasaanku sehari-hari. Ia
mulai paham makna interaksi dan komunikasiku dengan orang lain. Ia mulai
menyadari emosiku dan ikut merasakan vibes-nya. Aku benar-benar menjadi influencer
yang utama baginya untuk saat ini. Sedikit terasa sebagai beban, seperti
meletakkan batu fondasi untuk membangun sebuah rumah. Dulu saat bulan Ramadhan
aku batal puasa tengah hari karena tidak kuat, aku makan dan minum di
hadapannya, dan tidak ada masalah. Tapi sekarang aku gak bisa bersikap begitu
lagi, Ramadhan tahun lalu saja ia mulai tahu kalau ini bulan puasa, puasa itu
tidak makan dan minum sampai adzan Maghrib tiba. Saat ia lihat aku makan dan
minum di siang hari, ia bertanya kenapa mama makan padahal puasa. Hari itu aku
berbohong dengan bilang kalau aku sedang berhalangan, padahal sebetulnya aku
gak kuat nahan lapar dan haus. Aku menyesal sudah berbohong, tapi aku benar-benar
gak mau dia meniruku, yang saat itu kalah dan gampang menyerah dalam berpuasa.
Sejak hari itu aku bertekad menjalani puasa dengan benar.
Perlahan tapi pasti anakku “memaksaku berbenah diri”, dalam semua aspek
kehidupan, baik yang terlihat maupun yang tidak. Aku pikir semua ibu pun pasti ingin anakknya
adalah versi lebih baik darinya dalam segi apapun. Aku pun sedang mengupayakan
hal itu. Mulai dari hal yang paling mendasar seperti beribadah, dulu aku bukan
hanya rajin sholat wajib, tapi juga sholat sunnah, puasa penuh selama Ramadhan,
puasa weton, pintar mengaji, dan rajin ikut kajian. Tapi semua itu hilang dan
lupa saat aku dewasa, banyak yang tak lagi aku lakukan. Ternyata aku dulu
beribadah karena takut, takut Allah, takut dosa, takut neraka, takut azab, takut
di omelin mama dan bapak, takut di cap anak nakal, dan takut jadi bahan
gunjingan tetangga satu desa. Dulu aku rajin beribadah karena aku akan di puji
“Restu itu anak sholehah, anak baik, anak pintar” oleh mama bapak dan orang-orang
sekitar. Mereka sayang kepadaku saat aku menuruti mereka dan sebaliknya. Satu
lagi, aku ingin mereka bangga terhadapku. Saat ini, aku gak ingin itu terjadi
berulang ke anakku. Aku ingin dia beribadah secara sadar, bukan hanya tahu
nilai penting atau manfaat sholat, puasa, zakat, mengaji dan ibadah lainnya.
Tapi karena ia menyukai melakukan hal-hal tersebut. Bukan terdorong oleh rasa
takut tapi karena menemukan rasa tenang. Ritual ibadah bukanlah perlombaan,
bukan bahan pamer, bukan alat ukur seberapa “baik” dirimu, juga bukan prasyarat
kelayakan mendapat kasih sayang dari orang tua. Bukan hanya beribadah saat
kecil saja, yang memang masih gencar-gencarnya di ajarkan di sekolah, di tempat
mengaji maupun di rumah. Tapi kelak ia ‘bawa’ sampai dewasa, dengan atau tanpa
pengawasan dan perhatian manusia lain. Namun semuanya ini sepertinya bisa
terwujud dengan syarat aku pun melakukan hal yang sama. Aku sendiri harus
selesai dengan trauma religiku dan mulai beribadah sebagaimana yang aku ingin
anakku beribadah.
Lihat!, baru satu aspek saja PR-nya sudah sedemikian banyak. Mungkin
beginilah artinya ‘memutus rantai trauma antar generasi’. Dalam hal uang juga,
aku ingin sekali memutus rantai trauma finansial yang aku punya. Aku dan
papanya sama-sama terbiasa hidup dalam kemiskinan. Terbiasa hidup sekadar bertahan hidup dan
selalu takut kekurangan. Terbiasa mendengar bahkan meyakini kalimat-kalimat
seperti ini, “cari uang itu susah”, “nanti gak cukup”, “orang kaya itu banyak
masalah, sombong, berlebihan, jahat, banyak tanggungjawabnya”, “uang gak bisa
membeli kebahagiaan”, “uang gak dibawa mati”, “gak bakal bisa punya barang mahal
ini kalau gak kredit / ikut arisan”, “beginilah nasib kita sebagai orang kecil
(baca:miskin)”. Dari kecil, aku melihat orang tuaku kerja keras bekerja, sangat
keras sampai-sampai aku merasa mereka hidup hanya untuk beribadah dan bekerja
saja. Tak pernah ada liburan dan jalan-jalan sekeluarga atau sekadar makan
bersama di warung makan, bahkan bisa terhitung jari berapa kali kami beli makan
di luar. Hari libur kami adalah kerja bakti beres-beres rumah atau pergi
merawat kebun. Lauk sehari-hari kami yang didonimasi ikan asin dan sayuran dari
kebun atau sesekali tahu tempe, bisa makan telor 1 butir dibagi untuk 4 orang,
beli baju hanya saat lebaran, makan daging sapi harus ikut arisan setahun,
makan daging ayam harus menyembelih ayam peliharaan dulu. Dibalik semua itu aku
tahu semuanya adalah usaha terbaik orang tuaku saat itu, hasil dari kerja keras
mereka tanpa kenal lelah, bahkan hingga sekarang. Aku sungguh berterimakasih
dan bersyukur memiliki orang tua yang memiliki daya juang dan cinta yang
demikian besar untuk keluarga. Aku akan meneladani hal-hal baiknya, tapi juga
mengoreksi, menambahkan, mengurangi dan membuang hal selainnya.
Untuk anakku, aku ingin dia punya pemikiran, sikap, rasa, dan takdir yang
berbeda dari kami orang tuanya. Aku ingin ia mengerti bahwa untuk mendapatkan
uang memang butuh kerja keras, tapi bisa juga dengan cara kerja cerdas,
kreatifitas, memanfaatkan peluang atau fokus belajar satu bidang sampai jadi
ahli. Bisa memandang uang dengan lebih netral, bukan sumber masalah tapi juga
bukan segalanya. Kelak aku ingin hubungan dia dengan uang bukan hanya sekadar
memenuhi kebutuhan dan bertahan hidup, melainkan juga untuk bertumbuh, untuk
merawat, dan untuk berbuat kebaikan. Merasa layak mendapatkan uang, merasa aman
memilikinya dan menggunakannya dengan penuh kesadaran. Bukan sekadar berharap dia memiliki kehidupan
yang berkelimpahan, tapi berharap ia memiliki hubungan yang sehat dengan uang, dalam
mendapatkannya ia mengerahkan segenap potensi dan usaha terbaiknya tanpa harus mengorbankan
diri, tanpa perlu menyakiti sesama juga alam, dan tanpa perlu menjauhkannya
dari nilai-nilai kebaikan dan Tuhan. Lagi-lagi
semua harapan ini memungkinkan terwujud bila aku sendiri mampu memberi contoh
sikap yang konsisten, baik dalam hal berpikir, merasa maupun sikap dalam
mendapatkan, mengelola, dan membelanjakan uang. Sebetulnya ini agak sulit
bagiku, rasanya seperti “learn and unlearn” di saat yang bersamaan, yang
artinya aku harus belajar
hal baru sambil melepaskan pola lama yang sudah tidak cocok.
Padahal pola lama ini sudah berlangsung lebih dari 30 tahun, turun temurun di
ajarkan, dan sudah tersimpan dalam bentuk respon tubuh. Tapi mungkin pola lama
tentang uang ini harus berhenti di aku. Rasanya seperti aku gak punya pilihan
lain selain berubah jika tak ingin mewariskan pola lama dan kemiskinan ini pada
anakku. Tapi sebetulnya aku sendiri pun penasaran, apakah jika aku benar-benar
berhasil keluar dari pola lama lalu belajar memiliki hubungan sehat dengan uang,
akahkah aku pun keluar dari kemiskinan turun temurun ini.
Sepertinya dalam semua aspek pun begitu, di dorong hingga batas akhir
sampai rasanya tak punya pilihan lain selain berubah. Apalagi aku adalah
penyintas depresi dan sampai hari ini aku masih belajar merawat kesehatan
mentalku. Aku masih belajar memproses
satu per satu trauma pengasuhan, belajar berhenti menjadi people pleasure,
belajar mengenal dan mencintai diri sendiri, belajar merasa aman, merasa layak,
dan berharga, belajar berdamai dengan anxiety dan keluar dari survival
mode on, belajar memiliki batasan yang sehat, dan belajar menjadi support
system yang baik untuk diri sendiri. Aku ingin anakku mendapatkan versi
diriku yang sudah sembuh dan versi terbaik diriku.
Begitupun dalam hal kebiasaan lainnya. Aku ingin dia punya kebiasaan
hidup sehat dan suka olahraga, punya pola hidup bersih, punya kebiasaan membaca
dan menyukai buku, menyukai belajar, memelihara kuriositas dan berpikir
kristisnya, akrab dengan alam, mindful dalam memilih makanan dan minuman
yang ia konsumsi, bisa bersabar, tekun
dan disiplin dalam berproses, dll. Intinya besar harapan kelak ia bisa
menjalani hidup dengan lebih baik dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik
dalam berbagai aspek. Dan semua itu harus berawal dari aku, ibunya, orang
tuanya yang memberikan fondasi dan (seharusnya) memberikan teladan juga. Aku
yang saat fase ‘parah-parahnya’ depresi
pernah punya keinginan mengakhiri hidup ini, kini setiap hari berdoa untuk
mohon diberikan umur yang panjang, mohon dimampukan secara fisik, secara mental
dan finansial dalam menjaga merawat dan mendidik titipanNya ini, anak.
Dear gadis kecilku..., hadirmu memang menguras waktu, tubuh, emosi, fokus
dan tenaga mama (oh dan juga uang). Kadang rasanya melelahkan, kadang mama pun
kesulitan, kadang gak tahu harus bagaimana, bahkan sempat hilang arah. Tapi
suka duka perjalanan membersamaimu pun tak kalah menakjubkan. Kamu seperti lahir
untuk jadi obat kesendirian mama. Kadang mama merasa saat mengasuhmu, mama
sedang mengasuh ‘anak kecil dalam diri mama’ juga. Memberimu pelukan, ciuman,
meminta maaf, berterimakasih, memberitahumu betapa sayang dan berharganya kamu,
semua itu sungguh seperti memberikan hal-hal yang sejak kecil mama rindukan.
Lalu perlahan menyembuhkan ‘anak kecil dalam diri mama’ itu. Satu lagi, tahukah
gak kalau kamu pernah menyelamatkan hidup mama. Kamu jadi alasan mama bertahan
hidup, lalu kini jadi alasan mama ingin menjalani hidup lebih baik dan ingin
menjadi versi terbaik mama. Betul, mama tahu kalau kamu hanya sebuah
‘titipanNya’, yang bisa kapan saja diambil kembali, kamu bukan milik mama. Maka
dari itu mama banyak memohon dan berdoa, semoga Allah berkenan dan berbaik hati
membiarkanmu bersama sama sampai mama tua dan memberikan mama kekuatan fisik
dan mental yang baik, memberikan kecukupan ilmu dan rejeki berlimpah untuk bisa
membersamaimu, dalam sebaik-baiknya usaha mama sampai waktu mama selesai. Amin
Allahuma Amin. Selamat ulang tahun Nak.

