Rabu, 26 November 2025

Selamat Ulang Tahun, Nak!

November 26, 2025 0 Comments

 

Bulan ini putriku berulang tahun, dan kebetulan hari ini ada notifikasi dari Google Photos yang berisi memori foto-fotonya bahkan sebelum ia lahir. Aku jadi ikut flashback ke masa-masa tersebut, wah ternyata sudah 6 tahun berlalu sejak ia hadir di duniaku. Padahal setiap hari rasanya panjang dan lama sekali, tapi ternyata tahun berganti bagai kedipan mata. Rasanya baru kemarin aku lihat dia keluar dari perutku dengan muka merahnya yang belum ada alis itu menangis kencang. Karena hobi minum ASI pipinya jadi bulat gembil dengan otot tangan menyerupai roti sobek, lucu sekali. Ia punya bau khas bayi yang bikin candu kalau menciumnya. Sekarang bau khas bayi dan muka bayinya itu sudah hilang, wajahnya berubah jadi wajah anak-anak, si lucu itu pun berubah jadi si cantik. Ia hadir membawa banyak kebahagiaan beserta banyak kekhawatiran sebagai ibu baru. Dulu, aku pikir masa-masa newborn adalah yang paling sulit, ternyata fase growth spurt lebih dar der dor. Lanjut fase MPASI yang penuh drama, sambil belajar bicara, belajar merangkak, belajar duduk, dan belajar berjalan. Santai sedikit harus mulai belajar toilet training dan disapih ASI. Kemudian disambut fase toodler dengan segala tingkah ajaib dan emosinya yang meledak-ledak.  Lanjut belajar hal yang lebih kompleks, berteman, bersekolah, mengelola emosinya, berkonflik, mengenal batasan boleh tidak boleh aman bahaya baik tidak baik, dst.

Sungguh ia memaksaku banyak belajar  banyak hal. Tapi ternyata masa-masa sulit itu bisa juga terlewati meski sambil terkena depresi. Hahaaa~ (it’s a dark jokes). Dulu sepertinya aku memang tidak sadar mendedikasikan 100% diriku untuk anak, sampai lupa hal lainnya bahkan diriku sendiri. Waktu dan tenagaku menyesuaikan jam biologis dan kebutuhan dia. Topik belajarku dari berbagai webinar, kulwapp, youtube maupun buku isinya tentang tumbuh kembang, kesehatan, MPASI, parenting, dll, intinya semua tentang anak. Setiap hari isinya mikir tentang stimulasi apa lagi hari ini, ada kesempatan belajar apa lagi nih buat dia, butuh ekplorasi apa lagi ya, harus pergi kemana lagi ya, dst. Ia bukan hanya jadi prioritas, tapi jadi pusat duniaku. Tempat berpusatnya waktu, tenaga, uang dan perhatian. Ada cerita lucu, setelah anakku berusia sekitar 8 atau 9 bulan, mamaku datang berkunjung, lalu ia mencari keberadaan sisir dan cermin, yang baru aku sadari kalo gak ada 2 benda itu di rumah ini. Ia terheran-heran bagamana bisa gak ada sisir dan cermin di rumah, terus gimana selama ini dandan atau sekadar menyiris rambut. Dari situ aku sadar akh iya ya, selama ini aku hanya peduli anakku, sampai lupa peduli diri sendiri. Gak heran aku bisa terkena depresi dan harus berobat selama lebih dari 3 tahun.

Meski begitu semuanya pada akhirnya terlewati, kini aku sembuh dari depresi dan anakku tumbuh dengan baik. Aku hampir tak punya penyesalan apapun tentang usahaku menemani tumbuh kembangnya selama 6 tahun ke belakang. Anak yang dulu cukup di letakkan diatas bantal itu, sekarang tingginya setara perutku. Anak yang dulu mengoceh ‘ma-ma, bo-a, da-da,’ itu sekarang sudah jadi lawan debat dan bisa diajak ngobrol banyak hal. Anak yang dulu makan belepotan harus disuapi dan sering mengompol itu kini bis.a makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri dan berdandan sendiri. Anak yang dulu selalu ikut dan nempel kemana pun aku pergi, minggu lalu baru saja ikut kegiatan sekolahnya outbond ke luar kota sendirian. Anak yang dulu sering aku bacakan buku cerita sebelum tidur itu, kemarin bisa gantian membacakan aku 1 buku cerita meski masih terbata-bata. Anak yang dulu sering tantrum dengan tangisan khasnya yang melengking  itu sekarang sudah bisa memelukku saat aku sedih, sudah bisa manawariku pijat saat aku mengeluh kecapekkan. Anak yang dulu pemalu saat bertemu orang baru itu, kini sudah punya banyak bestie dan berani tampil menari di acara pentas sekolahnya. Hmmm, rasanya dadaku penuh haru dan bangga. Good Job anakku, Good Job juga diriku!

Sekarang ia terasa lebih seperti sosok sahabat di bandingkan sebegai sosok anak. Ia mulai lebih melihat apa yang aku lakukan dibandingkan sekadar yang aku katakan sekalipun itu benar dan logis. Ia lebih peka dan memperhatikan detil gerak gerik dan perkataanku. Ia juga mengikuti kebiasaanku sehari-hari. Ia mulai paham makna interaksi dan komunikasiku dengan orang lain. Ia mulai menyadari emosiku dan ikut merasakan vibes-nya. Aku benar-benar menjadi influencer yang utama baginya untuk saat ini. Sedikit terasa sebagai beban, seperti meletakkan batu fondasi untuk membangun sebuah rumah. Dulu saat bulan Ramadhan aku batal puasa tengah hari karena tidak kuat, aku makan dan minum di hadapannya, dan tidak ada masalah. Tapi sekarang aku gak bisa bersikap begitu lagi, Ramadhan tahun lalu saja ia mulai tahu kalau ini bulan puasa, puasa itu tidak makan dan minum sampai adzan Maghrib tiba. Saat ia lihat aku makan dan minum di siang hari, ia bertanya kenapa mama makan padahal puasa. Hari itu aku berbohong dengan bilang kalau aku sedang berhalangan, padahal sebetulnya aku gak kuat nahan lapar dan haus. Aku menyesal sudah berbohong, tapi aku benar-benar gak mau dia meniruku, yang saat itu kalah dan gampang menyerah dalam berpuasa. Sejak hari itu aku bertekad menjalani puasa dengan benar.

Perlahan tapi pasti anakku “memaksaku berbenah diri”, dalam semua aspek kehidupan, baik yang terlihat maupun yang tidak.  Aku pikir semua ibu pun pasti ingin anakknya adalah versi lebih baik darinya dalam segi apapun. Aku pun sedang mengupayakan hal itu. Mulai dari hal yang paling mendasar seperti beribadah, dulu aku bukan hanya rajin sholat wajib, tapi juga sholat sunnah, puasa penuh selama Ramadhan, puasa weton, pintar mengaji, dan rajin ikut kajian. Tapi semua itu hilang dan lupa saat aku dewasa, banyak yang tak lagi aku lakukan. Ternyata aku dulu beribadah karena takut, takut Allah, takut dosa, takut neraka, takut azab, takut di omelin mama dan bapak, takut di cap anak nakal, dan takut jadi bahan gunjingan tetangga satu desa. Dulu aku rajin beribadah karena aku akan di puji “Restu itu anak sholehah, anak baik, anak pintar” oleh mama bapak dan orang-orang sekitar. Mereka sayang kepadaku saat aku menuruti mereka dan sebaliknya. Satu lagi, aku ingin mereka bangga terhadapku. Saat ini, aku gak ingin itu terjadi berulang ke anakku. Aku ingin dia beribadah secara sadar, bukan hanya tahu nilai penting atau manfaat sholat, puasa, zakat, mengaji dan ibadah lainnya. Tapi karena ia menyukai melakukan hal-hal tersebut. Bukan terdorong oleh rasa takut tapi karena menemukan rasa tenang. Ritual ibadah bukanlah perlombaan, bukan bahan pamer, bukan alat ukur seberapa “baik” dirimu, juga bukan prasyarat kelayakan mendapat kasih sayang dari orang tua. Bukan hanya beribadah saat kecil saja, yang memang masih gencar-gencarnya di ajarkan di sekolah, di tempat mengaji maupun di rumah. Tapi kelak ia ‘bawa’ sampai dewasa, dengan atau tanpa pengawasan dan perhatian manusia lain. Namun semuanya ini sepertinya bisa terwujud dengan syarat aku pun melakukan hal yang sama. Aku sendiri harus selesai dengan trauma religiku dan mulai beribadah sebagaimana yang aku ingin anakku beribadah.

Lihat!, baru satu aspek saja PR-nya sudah sedemikian banyak. Mungkin beginilah artinya ‘memutus rantai trauma antar generasi’. Dalam hal uang juga, aku ingin sekali memutus rantai trauma finansial yang aku punya. Aku dan papanya sama-sama terbiasa hidup dalam kemiskinan.  Terbiasa hidup sekadar bertahan hidup dan selalu takut kekurangan. Terbiasa mendengar bahkan meyakini kalimat-kalimat seperti ini, “cari uang itu susah”, “nanti gak cukup”, “orang kaya itu banyak masalah, sombong, berlebihan, jahat, banyak tanggungjawabnya”, “uang gak bisa membeli kebahagiaan”, “uang gak dibawa mati”, “gak bakal bisa punya barang mahal ini kalau gak kredit / ikut arisan”, “beginilah nasib kita sebagai orang kecil (baca:miskin)”. Dari kecil, aku melihat orang tuaku kerja keras bekerja, sangat keras sampai-sampai aku merasa mereka hidup hanya untuk beribadah dan bekerja saja. Tak pernah ada liburan dan jalan-jalan sekeluarga atau sekadar makan bersama di warung makan, bahkan bisa terhitung jari berapa kali kami beli makan di luar. Hari libur kami adalah kerja bakti beres-beres rumah atau pergi merawat kebun. Lauk sehari-hari kami yang didonimasi ikan asin dan sayuran dari kebun atau sesekali tahu tempe, bisa makan telor 1 butir dibagi untuk 4 orang, beli baju hanya saat lebaran, makan daging sapi harus ikut arisan setahun, makan daging ayam harus menyembelih ayam peliharaan dulu. Dibalik semua itu aku tahu semuanya adalah usaha terbaik orang tuaku saat itu, hasil dari kerja keras mereka tanpa kenal lelah, bahkan hingga sekarang. Aku sungguh berterimakasih dan bersyukur memiliki orang tua yang memiliki daya juang dan cinta yang demikian besar untuk keluarga. Aku akan meneladani hal-hal baiknya, tapi juga mengoreksi, menambahkan, mengurangi dan membuang hal selainnya.

Untuk anakku, aku ingin dia punya pemikiran, sikap, rasa, dan takdir yang berbeda dari kami orang tuanya. Aku ingin ia mengerti bahwa untuk mendapatkan uang memang butuh kerja keras, tapi bisa juga dengan cara kerja cerdas, kreatifitas, memanfaatkan peluang atau fokus belajar satu bidang sampai jadi ahli. Bisa memandang uang dengan lebih netral, bukan sumber masalah tapi juga bukan segalanya. Kelak aku ingin hubungan dia dengan uang bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan dan bertahan hidup, melainkan juga untuk bertumbuh, untuk merawat, dan untuk berbuat kebaikan. Merasa layak mendapatkan uang, merasa aman memilikinya dan menggunakannya dengan penuh kesadaran.  Bukan sekadar berharap dia memiliki kehidupan yang berkelimpahan, tapi berharap ia memiliki hubungan yang sehat dengan uang, dalam mendapatkannya ia mengerahkan segenap potensi dan usaha terbaiknya tanpa harus mengorbankan diri, tanpa perlu menyakiti sesama juga alam, dan tanpa perlu menjauhkannya dari nilai-nilai kebaikan dan Tuhan.  Lagi-lagi semua harapan ini memungkinkan terwujud bila aku sendiri mampu memberi contoh sikap yang konsisten, baik dalam hal berpikir, merasa maupun sikap dalam mendapatkan, mengelola, dan membelanjakan uang. Sebetulnya ini agak sulit bagiku, rasanya seperti “learn and unlearn” di saat yang bersamaan, yang artinya aku harus belajar hal baru sambil melepaskan pola lama yang sudah tidak cocok. Padahal pola lama ini sudah berlangsung lebih dari 30 tahun, turun temurun di ajarkan, dan sudah tersimpan dalam bentuk respon tubuh. Tapi mungkin pola lama tentang uang ini harus berhenti di aku. Rasanya seperti aku gak punya pilihan lain selain berubah jika tak ingin mewariskan pola lama dan kemiskinan ini pada anakku. Tapi sebetulnya aku sendiri pun penasaran, apakah jika aku benar-benar berhasil keluar dari pola lama lalu belajar memiliki hubungan sehat dengan uang, akahkah aku pun keluar dari kemiskinan turun temurun ini.

Sepertinya dalam semua aspek pun begitu, di dorong hingga batas akhir sampai rasanya tak punya pilihan lain selain berubah. Apalagi aku adalah penyintas depresi dan sampai hari ini aku masih belajar merawat kesehatan mentalku. Aku masih belajar  memproses satu per satu trauma pengasuhan, belajar berhenti menjadi people pleasure, belajar mengenal dan mencintai diri sendiri, belajar merasa aman, merasa layak, dan berharga, belajar berdamai dengan anxiety dan keluar dari survival mode on, belajar memiliki batasan yang sehat, dan belajar menjadi support system yang baik untuk diri sendiri. Aku ingin anakku mendapatkan versi diriku yang sudah sembuh dan versi terbaik diriku.

Begitupun dalam hal kebiasaan lainnya. Aku ingin dia punya kebiasaan hidup sehat dan suka olahraga, punya pola hidup bersih, punya kebiasaan membaca dan menyukai buku, menyukai belajar, memelihara kuriositas dan berpikir kristisnya, akrab dengan alam, mindful dalam memilih makanan dan minuman yang  ia konsumsi, bisa bersabar, tekun dan disiplin dalam berproses, dll. Intinya besar harapan kelak ia bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dalam berbagai aspek. Dan semua itu harus berawal dari aku, ibunya, orang tuanya yang memberikan fondasi dan (seharusnya) memberikan teladan juga. Aku yang  saat fase ‘parah-parahnya’ depresi pernah punya keinginan mengakhiri hidup ini, kini setiap hari berdoa untuk mohon diberikan umur yang panjang, mohon dimampukan secara fisik, secara mental dan finansial dalam menjaga merawat dan mendidik titipanNya ini, anak. 

Dear gadis kecilku..., hadirmu memang menguras waktu, tubuh, emosi, fokus dan tenaga mama (oh dan juga uang). Kadang rasanya melelahkan, kadang mama pun kesulitan, kadang gak tahu harus bagaimana, bahkan sempat hilang arah. Tapi suka duka perjalanan membersamaimu pun tak kalah menakjubkan. Kamu seperti lahir untuk jadi obat kesendirian mama. Kadang mama merasa saat mengasuhmu, mama sedang mengasuh ‘anak kecil dalam diri mama’ juga. Memberimu pelukan, ciuman, meminta maaf, berterimakasih, memberitahumu betapa sayang dan berharganya kamu, semua itu sungguh seperti memberikan hal-hal yang sejak kecil mama rindukan. Lalu perlahan menyembuhkan ‘anak kecil dalam diri mama’ itu. Satu lagi, tahukah gak kalau kamu pernah menyelamatkan hidup mama. Kamu jadi alasan mama bertahan hidup, lalu kini jadi alasan mama ingin menjalani hidup lebih baik dan ingin menjadi versi terbaik mama. Betul, mama tahu kalau kamu hanya sebuah ‘titipanNya’, yang bisa kapan saja diambil kembali, kamu bukan milik mama. Maka dari itu mama banyak memohon dan berdoa, semoga Allah berkenan dan berbaik hati membiarkanmu bersama sama sampai mama tua dan memberikan mama kekuatan fisik dan mental yang baik, memberikan kecukupan ilmu dan rejeki berlimpah untuk bisa membersamaimu, dalam sebaik-baiknya usaha mama sampai waktu mama selesai. Amin Allahuma Amin. Selamat ulang tahun Nak.

 

Dokumentasi Pribadi